Ajaran Islam Tak Pernah Larang Ucapan Selamat Natal

herrissa's picture

Den Haag - Ucapan selamat adalah masalah non-ritual, tidak berkaitan dengan ibadah, tapi muamalah. Pada prinsipnya semua tindakan non-ritual adalah dibolehkan, kecuali ada nash ayat atau hadis yang melarang.

Hal itu dituturkan Prof. Dr. Sofjan Siregar, MA kepada detikcom, Sabtu (18/12/2010), merujuk isi materi yang disampaikannya dalam pengajian ICMI Eropa bekerjasama dengan pengurus Masjid Nasuha di Rotterdam, Jumat sehari sebelumnya.

Tema ucapan selamat Natal diangkat karena hampir setiap tahun muncul pertanyaan sekitar hukum ucapan selamat Natal bagi seorang muslim, khususnya di Belanda.

Menurut Sofjan, tidak ada satu ayat Al Quran atau hadits pun yang eksplisit melarang mengucapkan selamat atau salam kepada orang non-muslim seperti di hari Natal.

"Bahkan dalam Al Quran Surat An Nisa Ayat 86 umat Islam diperintahkan untuk membalas salam dari siapa pun tanpa ada batasan ucapan itu datang dari siapa," ujar Sofjan.

Lanjut Sofjan, bagi orang yang mengklaim ucapan selamat kepada orang non-muslim tidak boleh, seharusnya mendatangkan dalil dan argumentasinya dari Al Quran atau Hadits. Dan itu tidak ada.

Adapun hadis dari Aisyah yang berbunyi, "Jangan ucapkan salam kepada orang Yahudi dan Nasrani," adalah dalam konteks dan latar belakang perang dengan Bani Quraizah ketika itu.

"Seperti halnya banyak larangan berkaitan dengan kafir pada umumnya adalah berkaitan dengan kafir al harbi atau combatant," terang Sofjan.

Umat Islam khususnya di Belanda dan Eropa atau Indonesia bukan dalam keadaan perang, sehingga diperintahkan oleh agama agar berlaku adil dalam bergaul dalam masyarakat multikultural.

Salah satu bentuk birr, qistu, adil dan ihsan adalah saling hormat-menghormati dalam pergaulan termasuk memberi dan membalas salam.

Hal ini juga sesuai dengan Surat Al Mumtahinah Ayat 9. "Jika memakan sembelihan ahli kitab adalah halal seperti halal dan bolehnya mengawini wanita ahli kitab, tentu melarang untuk mengucapkan salam termasuk yang tidak mungkin, karena lebih dari itu pun sudah halal dan dibolehkan," papar doktor bidang syariah ini.

Adapun ayat yang melarang al muwalah seperti dalam Surah Al Mumtahinah Ayat 9 menjadikan orang non-muslim wali masuk dalam kategori mutlak, yang dibatasi cakupan larangannya dalam keadaan perang oleh ayat lain, hal ini dalam istilah fiqihnya disebut muqayyad.

Ayat 9 Al Mumtahinah adalah ayat terakhir turun tentang al muwalah. Maka hanya ada dua kemungkinan status hukumnya: menafsir dan menjelaskan ayat mutlak yang diturunkan sebelumnya, atau berfungsi menasikh (abrogasi) ayat sebelumnya.

Maka sesuai dengan kaidah usuliyah: annal mutlaq minan nushush yuhmal alalmuqayyad idza ittahadal hukmu was sabab.

Dalam hal ini hukum dalam keduanya adalah satu yaitu haramnya al muwalah, sebabnya juga satu yaitu karena sebab kekufuran, sehingga ayat yang mutlak (absolut) dimasukkan ke dalam ayat muqayyad, berarti sebab hukum haram adalah karena al kufur al muharib (kafir combatant).

Jadi, al muwalah itu haram hukumnya kepada orang kafir combatant yang sedang berperang dengan orang Islam, adapun kafir bukan harbi dikecualikan dari ayat itu.

Banyak ulama yang membolehkan salam kepada orang non-muslim yang tidak harbi, seperti Ibnu Masud, Abu Umamah, Ibnu Abbas, Al Auzayi, An Nakhoi, Attobary dll.

 

sumber: detik.com

3.072725
Your rating: None Average: 3.1 (55 votes)

Comments

Biarkan Umat Kristiani Rayakan Natal dengan Tenang

FPI: Biarkan Umat Kristiani Rayakan Natal dengan Tenang 

Jakarta - Ketua Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab berjanji menciptakan situasi yang kondusif selama perayaan Natal. Rizieq mengajak semua umat beragama untuk membiarkan umat Kristiani merayakan Natal dengan aman dan tenang.

"Kita harap umat Kristiani merayakan perayaan Natal dengan tenang, aman, tanpa gangguan dari pihak manapun juga. Karena ajaran Islam tidak membenarkan untuk mengganggu umat agama mana pun juga," ujar Rizieq di Mapolda Metro Jaya, Jalan Jenderal Jakarta, Selasa (14/12/2010).

Hal itu disampaikan Rizieq usai bertemu Kapolda Metro Jaya Irjen Sutarman di Mapolda Metro Jaya.

Rizieq mengungkapkan, sebagaimana perayaan Natal tahun-tahun sebelumnya, FPI mengimbau persatuan umat Kristiani untuk merayakan Natal sesuai aturan.

"Kita imbau kepada pihak KWI (Konferensi Waligereja Indonesia), PGI (Persatuan Gereja Indonesia) agar rayakan Natal sesuai tata tertib dan aturan, jangan sampai ada hal-hal yang mengundang kontroversial," ujarnya.

FPI, kata dia, tidak akan mengganggu perayaan Natal yang merupakan hak umat Kristiani.

"Saya pikir biarkan umat Kristiani merayakan Natal dengan senang dan gembira, itu hak beribadah mereka, hak keyakinan mereka yang harus dihormati seluruh bangsa Indonesia," jelasnya.

Rizieq menyampaikan, FPI mendukung keragaman bangsa dan agama sebagai bentuk pluralitas. Namun FPI menolak pluralisme sebagai upaya mencampuradukkan agama.

"Karena itu FPI tolak pluralisme sesuai fatwa MUI bahwa pluralisme itu campuradukkan suatu agama," kata Rizieq.

Ia mengatakan, bagi FPI biarkan umat Islam meyakini agama Islam paling benar, selain Islam tidak benar. Dan biarkan juga umat Kristiani meyakini agamanya paling benar dan selain Kristiani tidak benar.

"Yang penting tidak saling ganggu, saling lecehkan dan merendahkan. Jadi FPI dukung pluralitas dengan tetap menolak pluralisme," tambahnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Baharudin Djafar mengatakan, pihaknya mengumpulkan FPI agar bisa memberikan situasi yang kondusif selama Natal.

"Kita lihat ini suatu hal yang baik sebagai wujud koordinasi. Semua event kita minta masyarakat agar menciptakan rasa aman dan tenteram," kata Baharudin.

(mei/nwk)

sumber: E Mei Amelia R - detikNews (14/12/2010)

Aurelius's picture

Selamat Natal untuk Uti

Sudah mengucapkan selamat natal ke Uti, Nak ?

Belum Pa, bingung. katanya ga boleh, haram, dosa.

dari : www.gettyimages.com

Ya kalau merasa begitu ya tidak apa-apa. Telepon saja Uti dan ajak ngobrol-ngobrol, pasti senang bahkan mungkin lupa kalau Mas Ogie ga mengucapkan selamat natal.

Uti adalah panggilan kesayangan dari anak-anakku untuk eyang Putrinya, Ibu dari Ibunya anak-anak. Kebetulan kami berbeda agama, Uti katolik dan kami Muslim. Sebagai cucu pertama, Ogie mendapat curahan kasih sayang dari Kakek dan Neneknya, bahkan cinta Uti sepertinya tidak berkurang walaupun sudah bertambah beberapa cucu, tetap Ogie yang paling disayang. Ogie sendiri kadang serasa lebih mencintai Uti nya dibanding Papa dan Mama nya sendiri. Ogie pernah beberapa waktu diasuh oleh Neneknya ketika kami sibuk dengan pekerjaan.

Sekalipun berbeda keyakinan, Utie selalu mengingatkan Ogie untuk Sholat, memanggil guru ngaji untuk belajar membaca Al Qur an dan membelikan baju koko lengkap dengan sarung setiap lebaran. Utie pasti juga mendoakan kebaikan-kebaikan untuknya ketika menyentil rosario dalam putaran di pagi buta dan menjelang tengah malam. Secara sadar atau tidak Ogie mengerti hal itu semua, kecintaan Uti nya dan perbedaan yang ada. Ucapan selamat natal menjadi satu dilema.

Mungkin dari sekolah, atau dari Mushola tempat ngaji sore atau bisa juga dari obrolan dengan teman-temannya, Ogie mendapat pernyataan mengucapkan selamat natal itu haram. Apakah dengan mengucapkan selamat natal berarti mengakui keyakinan yang lain dan otomatis meyakini nya ? Mungkin tidak otomatis ya, cuma sekedar mengakui bahwa ada orang yang sedang merayakan natal. Sedangkan esensi ajarannya sendiri, terserah pada kita untuk meyakini atau tidak. Hanya bagi bocah 13 tahun tentu tidak mudah untuk memahami dan cukup dengan mengikuti apa yang dikatakan ‘pak Guru’. Hanya saja terdapat tentangan dari dalam hati kecilnya, perasaan bersalah karena tidak membalas kebaikan dan cinta Uti secara cukup, walaupun itu cuma sekedar mengucapkan selamat Natal.

Papa sudah nelepon Uti ? Mengucapkan selamat natal ?

Sudah, juga ke  Pak poh.

Tidak dosa Pa ?

Biarlah Tuhan yang menentukan Mas, Papa juga tidak mau meyakini ajaran agama yang menjanjikan neraka bagi orang-orang sebaik Uti dan Pak Poh. Orang-orang yang Papa cintai.

Maksud Papa ?

Papa mengimani keyakinan yang memberikan kebaikan untuk semuanya. Buka mata dan mata hati Mas, nanti juga akan menemukan pemahaman tersendiri.  Eh kalaupun tidak mengucapkan selamat natal, tetap telepon Uti ya.

Iya Pa. Kapan Papa pulang ?

…………………….

 

 

Bapaeogi  kompasiana.com
herman02's picture

Merayakan Natal Bersama Kaum Atheis

Merayakan Natal Bersama Kaum Atheis 

 

12936447461563344673

Mainan Khas Korea

Sebagai seorang Muslim yang tinggal di komunitas mayoritas Kristen, saya harus pandai menempatkan diri agar dapat bergaul akrab dengan beragam manusia dari berbagai latar belakang bangsa dan agama. Ketika saya merayakan Idul Fitri dan Idul Adha tahun ini, sedih sekali rasanya hati  saat berjauhan dari keluarga. Riuhnya shalat Id dan aneka hidangan khas di kampung halaman harus saya lewati begitu saja. Di Iowa, kaum Muslim apalagi yang berasal dari Indonesia, masih tergolong sangat jarang sehingga kalau mau jumatan, saya harus menyediakan energi khusus untuk menuju masjid dengan jarak tempuh sekitar 1 jam. Itupun saya harus menumpang mobil kawan satu-satunya dari Indonesia yang rumahnya cukup jauh dari kampus.

Nah, di momen Natal kali ini, saya mendapatkan pengalaman baru. Saya diundang sebuah keluarga Kristen yang aslinya berasal dari Korea. Awalnya saya agak khawatir jangan-jangan akan ada “khutbah khusus” bagi para tamu seperti yang pernah saya alami sebelumnya pada sebuah acara bakti sosial di gereja. Namun, berhubung saya kesepian di apartemen yang hampir semua penghuninya pulang kampung, saya pun menerima undangan tersebut.

Tepat pukul 5 petang, Jung–begitu nama orang Korea itu–sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah. Saya pun bergegas masuk mobil itu. Ternyata tidak hanya Jung saja di sana, ada empat orang lagi yang juga berstatus sebagai international student yang ia temui pada saat Cultural Sharing setiap hari Jumat. Ooo, ternyata Jung mengundang banyak orang untuk hadir di rumahnya dan dia sendiri yang menjemput mereka satu persatu.

Sesampai di rumah Jung, istrinya–Kwong–sudah menunggu di ruang tamu. Kami pun disambut dengan hangat. Kami berjabat tangan dan mengucapkan “Merry Christmas” bergantian. Aroma masakan khas Korea yang lezat memenuhi ruang.  Maklum, di musim salju seperti saat ini, ventilasi rumah hampir tertutup semua sehingga udara tidak punya pilihan akses keluar kecuali lubang sirkulasi otomatis sekitar heater.

Beberapa saat kemudian, para tamu sudah berkumpul di ruang bawah tanah (basement). Jung mengawali sambutan dengan mengucap terima kasih kepada para tamu undangan yang berjumlah 20 orang itu. Ia senang sekali karena natal kali ini dihadiri banyak orang dari berbagai negara yang antara lain berasal dari India, China, Hongkong, Turki, Mozambik, dan Korea. Saya adalah orang Indonesia satu-satunya pada acara tersebut.

12936448431049469707

Foto Bersama

Dari bincang-bincang dengan kawan-kawan baru itu, saya tahu banyak tentang latar belakang dan alasan mereka datang ke Amerika. Sebagian besar mereka adalah mahasiswa University of Iowa yang baru masuk semester awal, baik untuk tingkat undergraduate (S1) maupun graduate (S2/S3). Beberapa orang dari mereka ada yang sudah berkeluarga. Menariknya, para tamu itu bukanlah orang-orang Kristen yang memang sedang merayakan Natal kecuali satu kawan dari Mozambik. Mayoritas adalah orang-orang non Kristen, seperti saya dan kawan dari Turki yang Muslim atau kawan dari India yang Hindu. Selain itu, kawan dari China dan Hongkong yang jumlah 16 orang adalah kaum atheis yang tidak peduli dengan ritualitas keagamaan. Aneh tetapi nyata. Saya merasa pengalaman ini cukup unik karena di tengah perayaan keagamaan, ternyata 90 persen pengunjungnya adalah orang yang berbeda keyakinan atau bahkan tak percaya adanya tuhan.

Kami pun menikmati hidangan khas Korea yang bermacam-macam. Untungnya, Jung sudah antisipasi. Karena tamunya beragam agama, ia berusaha untuk menghindari makanan yang dipantangi agama tertentu. Kali ini, ia tidak menghidangkan masakan yang berunsur babi. Amanlah saya…hehehe…Tapi untuk kawan dari India, ia harus menghindari makanan olahan dari sapi. Jung pun menunjukkan makanan yang “halal” baginya. Saya sendiri sempat memasak rendang dengan mengandalnya bumbu instant yang saya beli di toko Asia. Lumayan, rendang “jadi-jadian” itu laris manis dicicipi oleh para tamu. Khusus Demon–kawan dari Hongkong– ia mengambil porsi besar menu rendang karena ia sudah lama tidak makan masakan Indonesia. Di masa kecil, ia pernah tinggal di Surabaya selama satu tahun.

Sehabis makan, kami pun diajak bermain game tradisional khas Korea. Alatnya adalah empat batang balok kayu yang bentuknya setengah lingkaran. Lalu kami dibagi ke dalam empat kelompok. Masing-masing anggota kelompok melemparkan kayu tersebut dalam sebuah kain segi empat yang panjang sesisinya sekitar 80 cm. Setiap poin yang didapat, kelompok itu berhak untuk memasang mainan simbul kelompok pada kotak mainan. Seru sekali permainan itu hingga akhirnya satu kelompok dinyatakan keluar sebagai juara dan mendapat hadiah Natal dari Jung.

Ini adalah pengalaman pertama saya merayakan Natal, apalagi di negeri orang. Ternyata, si tuan rumah tidak menonjolkan sebuah perayaan keagamaan yang kental. Ia malah berusaha merangkul orang-orang  non-Korea dan Non-Kristen untuk menikmati damainya natal di rumahnya. Hemm, alangkah senangnya jika hidup rukun semacam ini tercipta di negeri yang heterogen seperti Amerika dan Indonesia. Dunia pasti akan lebih aman dan tenteram. Semoga…

 

Sudirman Hasan kompasiana.com

Tolok Ukur Toleransi Beragama?

Ucapan Selamat Natal: Tolok Ukur Toleransi Beragama?

Sebuah refleksi pribadi tentang Natal dan hubungan sosial

Yesus Kristus, atau yang disebut juga Nabi Isa, tidak pernah dicatat dalam sejarah lahir tanggal 25 Desember. Ia bahkan tidak pernah bersabda agar umat-Nya merayakan hari kelahiran-Nya. Namun, dari tahun ke tahun, Natal terus dirayakan umat Nasrani. Natal sudah menjadi tradisi untuk merayakan kelahiran Yesus sebagai Juruselamat bagi orang yang menerima-Nya.

Kali ini saya hendak menuangkan dengan jujur apa yang saya alami selama beberapa tahun belakangan, utamanya berkaitan dengan ucapan selamat Natal yang dari tahun ke tahun semakin sedikit saya terima dari teman dan sahabat saya yang Muslim.

Saya sangat berharap, bagi Anda yang ingin mengetahui pengalaman saya ini, menyimaknya sampai akhir. Saya tidak membahas tentang hal-hal yang bersifat teologis dan historis, atau sebutlah semacam studi perbandingan agama, namun sekedar menuangkan pengalaman saya dan berharap ada timbal-balik yang konstruktif dari pembaca untuk kelanggengan hubungan sosial; serta keharmonisan dalam kebhinekaan dan keberagamaan di negeri Pancasila ini.

| | |

Bagi sebagian orang Muslim, mengucapkan selamat Natal adalah haram. Mereka menyusun ajaran ini dengan ditopang berbagai landasan pemikiran yang menyertakan aspek historis dan teologis. Hal yang paling mendasar adalah yang saya sebutkan di atas tadi: Yesus Kristus tidak pernah lahir tanggal 25 Desember.

Di sinilah umat Nasrani perlu memahami duduk persoalannya. Saya pernah mendengar ada orang Nasrani yang menganggap orang Muslim berhaluan garis keras hanya gara-gara tidak mengucapkan selamat Natal. Kalau begini sudah kelewatan.

Sepanjang empat tahun terakhir, saya tak pernah luput mengirimi ucapan selamat Idul Fitri disertai mohon maaf lahir dan batin kepada teman dan sahabat saya yang Muslim lewat pesan pendek. Jumlah teman yang saya beri ucapan mencapai angka seratus lebih. Namun, pada saat Natal, ucapan selamat yang saya terima semakin sedikit dari tahun ke tahun. Tahun lalu, 2010, teman Muslim saya yang memberikan ucapan selamat Natal lewat pesan pendek bisa dihitung dengan jari kiri dan kanan tangan.

| | |

Menanggapi masalah ini, beberapa teman Nasrani ada yang langsung membuat pernyataan kalau orang Muslim semakin tidak toleran. Saya bukan orang yang suka berpikir positif atas apa yang tampaknya negatif. Saya cukup resah dengan ajaran “berpikir positif” yang kerap dijadikan pengalihan untuk menelusuri sebuah persoalan yang sebenarnya bisa ditelisik lebih jauh secara objektif dan terbuka. Ada juga yang menyatakan sambil lalu, “Ah, mungkin mereka lupa.” Pernyataan-pernyataan demikian saya yakin tidak menyentuh ke inti persoalan. Persoalannya bukan tidak toleran atau lupa, atau alasan lain yang dikarang-karang untuk menunjukkan bahwa segalanya memang sedang baik-baik saja.

Persoalan yang hendak saya ketengahkan adalah: Bila memang orang-orang Muslim itu tidak mau memberikan ucapan selamat Natal, apakah ketidakmauan itu didasari pula — selain landasan historis dan teologis — dengan kebencian? Inilah yang saya kuatirkan. Saya kuatir makin banyak muncul orang Muslim yang hatinya dilandasi kebencian antipati terhadap orang Nasrani.

Dalam tahap yang parah kita sudah melihat adanya gereja yang diteror, atau penganiayaan-penganiayaan terhadap orang Nasrani di negeri ini. Para peneror dan penganiaya adalah orang-orang Muslim garis keras — atau mereka yang berkedok sebagai orang Muslim — yang dulunya pasti juga menerima ajaran yang dilandasi pula dengan kebencian terhadap orang Nasrani.

Saya bersyukur memiliki teman-teman Muslim yang baik. Di akhir tahun lalu, 2010, saya duduk semeja dengan beberapa teman yang semuanya Muslim dan semuanya tidak mengucapkan selamat Natal kepada saya. Saya tidak gelisah dan canggung sedikit pun. Saya menghabiskan waktu hingga subuh, tertawa riang dan berbagi cerita bersama mereka. Orang-orang Muslim seperti ini banyak saya jumpai di kehidupan saya — orang-orang yang paham benar apa itu ajaran: “Agamamu agamamu, agamaku agamaku.” Sementara para teroris, penganiaya, dan pembenci orang Nasrani, hanya memaksakan ajaran agama mereka disertai kebencian untuk menyatakan: “Agamaku lebih baik daripada agamamu.”

| | |

Masih banyak persoalan toleransi antar umat beragama yang perlu disikapi dengan lebih bijaksana dan hati-hati. Toleransi, sejatinya tak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Dan sekali lagi saya bersyukur untuk beberapa hal. Pertama, saya memiliki keluarga besar yang plural — kakak-adik dari pihak ayah saya sampai sepuluh orang dan terbagi menjadi tiga penganut agama: Kristen, Katolik, dan Islam.

Lalu, saya bersyukur dapat bekerja di sekolah di mana multikulturalisme dan perbedaan agama menjadi salah satu prioritas pengembang sekolah untuk dihargai. Di sekolah saya ada seorang murid saja yang beragama Buddha; dan untuk satu orang siswa itu disediakan guru agama. Di sekolah ini juga saya memiliki rekan kerja dan sahabat-sahabat Muslim yang berbagi suka dan duka selama hampir empat tahun saya ada di sana.

Keluarga, teman-teman, dan rekan kerja yang Muslim ini, pada akhirnya membantu saya untuk melihat bahwa toleransi lebih terasah dalam keseharian, bukan dalam hari-hari besar agama. Kini, saya beranggapan, ucapan selamat Natal diberikan atau tidak, tidak jadi soal. Selama kita dapat hidup berdampingan dengan saling mengasihi, tanpa ada kebencian, saya yakin, di situ toleransi dapat dinyatakan. ***

Malang-Sidoarjo, awal tahun 2011

 

oleh: Sidik Nugroho
www.kompasiana.com

Pohon Natal Saja Dikenakan Pajak ?

Pemerintah Presiden Barack Obama membatalkan niatan memberlakukan pajak terhadap pohon Natal, menyusul kritik tajam dari rakyat.

Kalangan konservatif menuding Kementerian Pertanian Amerika Serikat (AS) sengaja memanfaatkan momen Natal untuk mengeruk uang, dengan memberlakukan pajak terhadap pohon Natal.

Program itu rencananya akan serupa program ‘Got Milk?', ‘Beef: It's What's For Dinner' dan ‘The Incredible Edible Egg' yang sebagian besar akan didanai oleh pajak.

Industri itu seharusnya akan mendapatkan 15 sen per pohon Natal yang laku. Namun, kalangan konservatif ngotot persetujuan terhadap hal ini harus diserahkan pada rakyat.

Asosiasi Pohon Natal Nasional menyatakan, pajak itu takkan berpengaruh pada harga pohon. Namun pemerintah Amerika yang bersikeras tambahan itu bukan pajak, menunda program ini.

(inilah.com - mirifica.net)

Mitos tentang Akidah

Mitos tentang Akidah

By Satria Dharma

Assalamu alaikum wr. Wb.
Saudara-saudaraku,
Menurut pendapat saya pendapat yang menyatakan bahwa mengucapkan selamat natal kepada umat nasrani adalah merusak akidah adalah hanya mitos. Mitos adalah sesuatu yang dipercaya sebagai sesuatu yang benar tanpa adanya bukti-bukti dan fakta-fakta. Mitos itu lebih berdasarkan asumsi yang dipercayai tanpa diteliti dengan sebaik-baiknya lebih dahulu yang kemudian dibesar-besarkan sehingga menjadi pendapat umum. Begitu juga pendapat ucapan selamat natal dalam mainstream Islam. Bagaimana untuk membuktikan bahwa ini cuma mitos? Mudah saja. Coba cari bukti tentang adanya orang yang rusak akidahnya karena mengucapkan selamat natal kepada umat nasrani. Cari satu saja sebagai bukti dan setelah itu baru kita bisa katakan bahwa ternyata terbukti ada orang yang rusak akidahnya karena mengucapkan selamat natal kepada temannya yang nasrani.
Tentu saja kita tidak akan dapat menemukan satupun karena kita tidak punya alat ukur dan kewenangan untuk menentukan apakah seseorang rusak akidahnya atau tidak karena sebuah ucapan selamat. Tidak di jaman Rasulullah tidak pula di jaman sekarang. Saya telah mengucapkan selamat natal selama bertahun-tahun kepada teman-teman Nasrani saya dan saya samasekali tidak pernah merasakan adanya kerusakan pada akidah saya. Lagipula emangnya ada ‘alat ukur kerusakan akidah’?
Tapi apakah sebenarnya tindakan atau perbuatan yang bisa kita nyatakan sebagai merusak akidah? Akidah secara umum saya nyatakan sebagai keyakinan kita kepada Tuhan yang Maha Esa. Jadi kalau saya mencampuradukkan keyakinan saya kepada Allah swt (tawhid) dengan keyakinan adanya Supreme Being yang sama berkuasanya dengan Allah SWT maka dapat dianggap bahwa akidah saya sudah rusak. Kepercayaan (sebagian) umat Nasrani yang menyatakan Yesus sebagai Tuhan yang sama berkuasanya dan sebanding dengan Allah SWT, sebagai penciptanya, dianggap oleh umat Islam sebagai kemusyrikan besar. Umat Islam yang mempercayai, atau ikut-ikutan mempercayainya dengan pikiran, kata-kata, ataupun tindakan, dianggap sebagai rusak akidahnya. Umat Islam sangat ketat, zero tolerance, dengan masalah yang satu ini.
Tapi apakah kita bisa menilai keimanan, keyakinan, atau kepercayaan seseorang pada Tuhan dari ucapan atau perkataannya? Tentu saja tidak. Tapi celakanya hampir semua umat islam (mainstream) tiba-tiba ‘merasa’ memiliki kewenangan untuk menilai keimanan atau akidah seseorang meski itu hanya dari ucapan selamat Natal kepada umat nasrani. :-) Padahal Rasulullah sendiri tidak pernah dan bahkan melarang umatnya untuk menilai apakah seseorang beriman atau tidak karena itu urusannya dengan Tuhan sendiri. Ada contoh untuk itu.
Suatu ketika dalam peperangan (saya lupa perang apa) seseorang dari golongan kafir tersudut dan terancam akan ditebas lehernya oleh golongan Islam. Melihat dirinya terancam akan mati ia segera cepat-cepat mengucapkan syahadat untuk menyatakan dirinya sebagai golongan Islam (sangat mudah untuk menyatakan diri sebagai seorang Islam ternyata) dengan harapan agar ia diampuni dan tidak jadi dibunuh. Tapi umat Islam lawannya merasa bahwa hal itu hanya sebagai siasat agar ia tidak dibunuh dan si kafir tidak sungguh-sungguh beriman. Itu hanya sebagai ucapan di bibir saja dan bukan keyakinan sejati. Oleh si umat Islam lawannya tadi ditebas lehernya sampai mati. Ucapan syahadat dari si kafir tadi bukanlah ungkapan keimanan baginya dan hanya sekedar upaya untuk melepaskan diri dari kematian. Dan itu tidak layak untuk dipercaya.
Ketika Rasulullah mendengar hal tersebut beliau sangat marah. Jika seseorang telah mengucapkan syahadat, dalam keadaan apapun, maka setiap umat Islam patut menghargainya dan tak seorangpun boleh menilai atau menghakimi isi hatinya. Tidak dalam perang tidak dalam damai. Itu adalah wewenang Tuhan semata. Apakah seseorang beriman atau tidak, itu sepenuhnya urusan antara dirinya dengan Tuhan. Para nabi dan rasul pada hakikatnya hanyalah para penyampai kebenaran dan ketauhidan. Bahkan mereka tidak punya hak dan wewenang untuk menentukan apakah seseorang itu beriman atau tidak. Bahkan jika seseorang itu secara terang-terangan menolak ajaran yang dibawakannya, para nabi dan rasul itupun tidak memiliki kewenangan untuk menekan, mengintimidasi, atau memaksanya untuk mengikuti ajarannya.
Masalah keimanan bukanlah ‘daerah jurisdiksi’ para rasul, atau siapapun (apalagi kalau cuma ‘sekelas’ ulama) untuk menilainya. Hanya Allahlah yang berhak untuk menilai apakah seseorang benar-benar beriman atau tidak. Para nabi dan rasul hanya berhenti pada ‘legalitas formal’ yang menunjukkan seseorang telah menyatakan beriman atau tidak dengan mengucapkan kalimat syahadat. Titik. Selanjutnya para nabi dan rasul akan mengajak mereka yang sudah bersyahadat tersebut untuk meningkatkan keimanannya dengan perbuatan baik.
Jika Rasul hendak menjaga dan meningkatkan keimanan umatnya maka biasanya dinyatakan secara umum, :”Tidak beriman seseorang yang…dst.” Dan tidak pernah Rasul menyatakan, :”Si A telah kehilangan keimanannya karena ia telah…dst.” Itu bukan jurisdiksi beliau. Salah satu contoh adalah pernyataan Rasulullah, :”Tidak beriman seseorang jika ia makan kenyang sedangkan tetangganya kelaparan.” Tapi Rasulullah tidak pernah menunjuk seseorang tidak beriman karena kebetulan tetangganya ada yang kelaparan. Begitu juga dengan pernyataan Rasulullah,:”Tidak Islam seseorang jika tetangganya merasa terganggu olehnya.” (atau senada dengan ini). Tapi ini tidak berarti bahwa jika ada seseorang yang merasa terganggu oleh tetangganya yang muslim maka ia bisa menghakimi bahwa tetangganya tersebut sudah bukan Islam lagi (yang berarti kafir). Ini hanya untuk menyatakan bahwa setiap muslim mestilah perduli dengan nasib tetangganya dan tidak diperkenankan untuk mengganggunya. Seorang muslim yang tidak perduli dengan nasib tetangganya (meski bukan muslim) dianggap tidak memiliki nilai-nilai keislaman seperti yang diharapkan. Tapi ini adalah general rules dan bukan untuk dipakai sebagai ‘alat ukur’ yang bisa kita tembakkan ke tetangga-tetangga kita, umpamanya. Kita tidak bisa mengatakan,:”Wahai fulanboy! Kemarin ada tetanggamu yang kelaparan padahal kamu enak-enakan makan sate sampai kekenyangan. Sorry, mulai hari ini kamu bukan orang beriman. Ini kata Hadist sahih.”
Balik kepada ucapan selamat natal. Ucapan selamat natal ini sama sekali jauh dari masalah akidah. Ini hanyalah masalah ‘muamalah’ tatacara kita berhubungan dengan sesama manusia. Kita tahu bahwa sebagian besar umat nasrani meyakini bahwa Yesus adalah Tuhan karena adanya konsensus jaman Nicea dulu. Tapi kita juga perlu tahu bahwa tidak semua orang nasrani mempercayai hal ini. Ada golongan dalam agama nasrani yang tidak menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan. Saksi Jehovah, umpamanya, terang-terangan menentang umat Nasrani lain perkara ini dan mereka menyatakan bahwa Yesus hanyalah nabi belaka.
Kita tahu bahwa ada sebagian umat Nasrani yang mempercayai bahwa Yesus, yang dianggapnya sebagai Tuhan, lahir pada tanggal 25 Desember. Tapi ada banyak umat Nasrani yang juga sudah paham bahwa Yesus tidak mungkin lahir pada tanggal tersebut. Penelitian lebih lanjut secara ilmiah semakin meneguhkan bahwa sebenarnya Yesus tidak lahir pada tanggal tersebut. Dan mereka tahu itu. Jadi berpikir gebyah uyah bahwa umat Kristen tidak tahu hal ini sebetulnya menunjukkan ketidakpahaman kita (ignorance).
Bagi sebagian umat nasrani, atau masyarakat Barat, perayaan natal sudah tidak ada hubungannya lagi dengan agama. Kebanyakan orang Barat sudah tidak mempercayai agama lagi dan natal hanyalah sebagai tradisi. Jadi sebenarnya kalau mau dibuat statistiknya perayaan natal sebenarnya lebih banyak sebagai tradisi ketimbang perayaan keagamaan.
Lantas dimana hubungannya dengan akidah? Sama sekali tidak ada hubungannya. Bahkan bagi kebanyakan orang Nasrani ucapan selamat natal sama sekali tidak ada hubungannya dengan fakta bahwa Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Desember. Apalagi bagi orang Islam. Adalah kejadian yang sangat…sangat muskil jika ada umat Islam yang mengucapkan selamat natal kepada umat nasrani karena ia mengimani bahwa Yesus adalah Tuhan. It is a very..very impossible situation.
Tapi kenapa ya, umat islam takut sekali kalau ucapan tersebut dapat merusak akidahnya? Kehati-hatian atau kebodohan? Ya karena terpengaruh oleh mitos tersebut. Sebegitu bodohnyakah ia sehingga mengira bahwa Yesus itu salah satu Tuhan yang kemudian ia nyatakan dengan ucapan selamat natal? Rasanya tidak mungkin. Umat islam sebenarnya umat yang paling ketat dalam akidah sehingga kemungkinan akidahnya ‘tercemar’ HANYA karena ucapan selamat natal kepada umat nasrani adalah ilusi yang sangat…sangat liar.
Untuk menutup tulisan saya, saya mau bertanya kepada saudara-saudaraku umat Islam apakah pernah menjumpai ada satu saja umat Islam yang rusak akidahnya karena mengucapkan selamat natal kepada umat nasrani? Jika pernah menjumpai ada umat Islam yang rusak akidahnya karenanya, maka saya mau bertanya lebih lanjut apa ukuran yang dipakai untuk menilai bahwa ia telah rusak akidahnya dan siapa yang memberi kita wewenang untuk menilai seseorang telah rusak akidahnya atau tidak.
Jika kita menganggap bahwa mengucakan selamat natal akan merusak akidah maka dengan logika yang sama mengucapkan turut berdukacita atas meninggalnya tetangga yang non-islam juga akan merusak akidah. Bahkan lebih ‘berbahaya’ derajatnya dan lebih dekat kepada kerusakan akidah. Exercise your mind, kalau tidak percaya.
Wallahu alam bissawab.
Wassalam
Satria

Dari: Satria Dharma

Tidak Dilarang Mengucapkan Selamat Natal

Umat Islam Tidak Dilarang Mengucapkan Selamat Natal

Setiap Natal tiba, di kalangan umat Islam di Indonesia lazim terdengar pertanyaan tentang boleh-tidaknya mengucapkan selamat Natal pada saudara-saudara beragama Kristen. Terkait dengan itu, ada anggapan umum bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) pernah mengeluarkan fatwa yang mengharamkan pengucapan selamat Natal.

Anggapan umum itu sebenarnya salah. MUI tidak pernah mengharamkan pengucapan selamat Natal. Satu-satunya fatwa MUI terkait dengan Natal dikeluarkan pada 7 Maret 1981, yang isinya hanya mengharamkan umat Islam mengikuti upacara Natal. MUI juga menganjurkan bagi umat Islam untuk tidak mengikuti kegiatan natal, tapi tidak sekalipun disebut soal 'mengucapkan selamat Natal'.

Kalau dipelajari konteksnya, kehadiran fatwa itu berkaitan dengan suasana politik masa itu. Pada awal 1980an, Orde Baru sedang tidak bersahabat dengan Islam. Salah satu isu yang mengemuka di saat itu adalah adanya dominasi kalangan Kristen di dunia politik dan ekonomi Indonesia. Sebagian pihak kuatir para pemuka Kristen memanfaatkan posisi mereka untuk mengKristenkan Indonesia. Perayaan Natal dituduh sebagai bagian dari strategi itu.

Dengan latarbelakang itu, bisa dipahami bila ada keresahan di kalangan para ulama Indonesia saat itu terhadap praktek-praktek perayaan Natal bersama yang dilakukan di berbagai instansi pemerintahan dan perusahaan. Dalam fatwa itu tertulis bahwa MUI mengingatkan pada umat Islam bahwa perayaan Natal bersama adalah sebuah ibadat umat Kristen, sehingga adalah tidak layak bagi umat Islam untuk berada di dalam peribadatan tersebut.
MUI menyatakan bahwa perayaan Natal tidak dapat disejajarkan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw, karena perayaan Maulid tidak melibatkan kegiatan peribadatan.

Tidak Ada Rujukan Al-Qur'an

Namun kalaupun MUI tidak pernah mengeluarkan fatwa tersebut, apakah memang pengharaman itu tidak berdasar? Jawabannya tidak sederhana. Namun pertama-tama harus ditegaskan bahwa Al-Quran tidak pernah menyatakan apa-apa soal ini, demikian pula tidak ada satupun hadis yang bicara soal Natal. Walaupun ini juga bisa dijelaskan oleh konteks perkembangan perayaan Natal.

Perayaan Natal secara besar-besaran seperti yang kita kenal sekarang bukanlah sesuatu yang ada sejak abad-abad pertama perkembangan Kristen. Baru pada abad keempat, gereja memutuskan tanggal lahir Yesus sebagai hari libur, dan adalah Paus Julius I yang menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari besar tersebut. Tradisi perayaan Natal itupun berkembang lamban, dan sampai abad ke delapan perayaan tersebut hanya dilakukan di kalangan Kristen Eropa.

Jadi ketika Islam lahir di jazirah Arab pada abad ke-7 Masehi, hampir pasti kalangan Kristen di daerah itu belum merayakan Natal. Mungkin karena itu, tidak sekalipun ada ayat Al-Quran maupun hadis Nabi yang menyinggung soal Natal. Sekadar sebagai catatan sejarah, karena ortodoksi keagamaan, perayaan Natal pernah dilarang di Inggris dan di tanah Amerika AS pada abad ke-17. Baru abad ke-19, Barat menemukan Natal sebagai hari perayaan keagamaan yang membawa seluruh umat Kristen untuk kembali meresapi nilai-nilai cinta kasih dan mengabaikan perbedaan-perbedaan dan ketamakan yang menguasai hidup manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Ulama Yang Mengharamkan

Karena konteks perkembangan itu, sikap Islam mengenai Natal perlu dirujuk kepada para ulama yang datang belakangan. Dalam hal ini ada dua kubu pandangan: yang mengharamkan dan menghalalkan (atau bahkan menganjurkan) pengucapan selamat Natal.

Salah seorang ulama terkemuka yang dianggap sebagai rujukan pengharaman pengucapan Selamat Natal adalah Ibn al-Qayyim (1292-1350). Dalam kitabnya "Ahkâm Ahl adz-Dzimmah", ia menulis:
"Adapun mengucapkan selamat berkenaan dengan syi'ar-syi'ar kekufuran yang khusus bagi mereka adalah haram menurut kesepakatan para ulama, seperti mengucapkan selamat terhadap Hari-Hari besar mereka dan puasa mereka, sembari mengucapkan, `Semoga Hari Raya anda diberkahi'. Perbuatan ini, kalaupun orang yang mengucapkannya dapat lolos dari kekufuran, maka dia tidak akan lolos dari melakukan hal-hal yang diharamkan. . . .

"Banyak sekali orang yang tidak sedikitpun tersisa kadar keimanannya, yang terjatuh ke dalam hal itu sementara dia tidak sadar betapa buruk perbuatannya tersebut. Jadi, barangsiapa yang mengucapkan selamat kepada seorang hamba karena melakukan suatu maksiat, bid'ah atau kekufuran, maka berarti dia telah menghadapi Kemurkaan Allah dan Kemarahan-Nya."

Meski Ibn al-Qayyim memang tidak menyebut secara khusus kata `Natal', namun banyak ulama kemudian menganggap pandangannya mengenai `syiar kekufuran' itu mencakup perayaan Natal.

Di abad ke-20 ini, gagasan tentang pengharaman pengucapan selamat Natal terutama juga datang dari para ulama Arab Saudi. Sikap ini secara eksplisit pernah disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin, ulama Arab saudi yang meninggal tahun 2001.

Begitu pula Badan Dakwah Alharamain, misalnya, menyampaikan secara terbuka pengharaman tersebut. Argumen utama mereka adalah karena pengucapan selamat Natal adalah bentuk persetujuan dan penerimaan terhadap kepercayaan yang salah. Bagi mereka, kendatipun umat Islam diperintahkan untuk bersikap bersahabat dengan kalangan lain, tapi tidak termasuk di dalamnya hal-hal yang jelas-jelas keliru.

Ayat Al-Quran yang dijadikan rujukan adalah : "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran." (QS 5:2).

Sementara hadis yang dijadikan rujukan adalah: "Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka." [Hadits Riwayat Abu Daud]

Ulama Yang Mengizinkan

Tak semua ulama bersepakat bahwa pengucapan selamat natal adalah haram. Salah seorang ulama internasional yang menegaskan penghalalan ucapan selamat Natal adalah Dr. Yusuf Al-Qaradawi. Ulama terkemuka asal Mesir itu menyatakan bahwa adalah hak tiap umat beragama untuk memberikan tahni'ah (selamat) saat perayaan agama lainnya.

Ujarnya: ''Agama kami tidak melarang kami untuk untuk memberikan tahni'ah kepada non muslim atau tetangga kami dalam hari besar agama mereka. Bahkan perbuatan ini termasuk ke dalam kategori al-birr (perbuatan yang baik).''
Al-Qaradawi menggunakan rujukan Al-Quran:

"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS 60: 8-9).

Ia juga merujuk pada ayat AlQuran lain:

"Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu. Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu."(QS. An-Nisa': 86)

Sejalan dengan itupun, Majelis Fatwa dan Riset Eropa juga mengeluarkan fatwa yang membolehkan pengucapan tahni'ah kepada umat Kristen yang merayakan Natal, karena tidak adanya dalil langsung yang mengharamkannya. Namun demikian, secara tegas juga dikatakan bahwa tidak halal bagi seorang muslim untuk ikut dalam ritual dan perayaan agama yang khusus milik agama lain.

Pendapat senada dikeluarkan Dr. Mustafa Ahmad Zarqa', salah seorang ahli fiqih abad ke-20 asal Suriah, yang menyatakan bahwa tidak ada dalil yang secara tegas melarang seorang muslim mengucapkan tahniah kepada orang kafir. Ia mengutip hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah berdiri menghormati jenazah Yahudi.
Penghormatan dengan berdiri ini tidak ada kaitannya dengan pengakuan atas kebenaran agama yang diajut jenazah tersebut. Logikanya, ucapan tahni'ah kepada saudara-saudara pemeluk kristiani yang sedang merayakan hari besar mereka, juga tidak terkait dengan pengakuan atas kebenaran keyakinan mereka, melainkan hanya bagian dari mujamalah (sopan-santun) dan muhasanah seorang muslim kepada teman dan koleganya yang kebetulan berbeda agama.

Bagaimanapun, ia juga menyatakan bahwa ucapan tahni'ah ini harus dibedakan dengan ikut merayakan hari besar secara langsung, seperti dengan menghadiri perayaan-perayaan Natal yang digelar di berbagai tempat. Menghadiri perayatan Natal dan upacara agama lain hukumnya haram dan termasuk perbuatan mungkar.

Seorang ulama lain yang juga membolehkan Selamat Natal adalah Dr. Abdussattar Fathullah Said, seorang profesor bidang tafsir dan ulumul quran di Universitas Al-Azhar Mesir. Menurut dia, selama tidak mengandung hal-hal yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar keyakinan umat Islam, mengucapkan selamat Natal bukan saja tidak diharamkan, tapi justru diperintahkan bagi umat Islam.

Di Indonesia sendiri, ada banyak ulama yang mendorong umat untuk mengucapkan selamat Natal. Sekretaris Jenderal MUI, Dr. Dien Syamsudin MA, yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah secara eksplisit menyatakan bahwa MUI tidak melarang ucapan selamat Natal, tapi melarang orang Islam ikut sakramen/ritual Natal.

"Kalau hanya memberi ucapan selamat tidak dilarang, tapi kalau ikut dalam ibadah memang dilarang, baik orang Islam ikut dalam ritual Natal atau orang Kristen ikut dalam ibadah orang Islam," katanya.

Bahkan pernah di hadapan ratusan umat Kristiani dalam seminar Wawasan Kebangsaan di Surabaya, Dien menyampaikan, "Saya tiap tahun memberi ucapan selamat Natal kepada teman-teman Kristiani."
Jadi, memang ada keragaman cara pandang. Bagaimanapun, yang terpenting adalah tidak ada fatwa dari lembaga seperti MUI mengenainya. Dengan kata lain, semua kembali ke keyakinan masing-masing.

 

From: "ade armando" <im_armando@yahoo.com>


http://adearmando.wordpress.com/2008/04/04/umat-islam-tidak-dilarang-mengucapkan-selamat-natal/
>>Umat Islam Tidak Dilarang Mengucapkan Selamat Natal


------------------------------------------------


Catholic Church of St. William the Hermit, Cathedral of Diocese of Laoag, Philippines
(FB : catholic church)

------------------------------------------------

Catholic Church of Our Lady Queen of the World, Sungai Durian, Diocese of Sintang, West Borneo
(FB : catholic church)

------------------------------------------------

Acara soft launching Katedral Pontianak yang menurut jadwal akan dilakukan pada hari Jumat tanggal 12 Desember 2014 diputuskan ditunda


 Mgr Subianto tahbiskan gereja tujuh gunungan atap yang pernah bermasalah. Karena rahmat Kristus, cinta kasih Allah, berkat karunia Roh Kudus, dan bantuan umat beriman di tempat lain, umat beriman Cikampek membangun gereja, bagaikan di padang gurun.
(courtesy :  " penakatolik com")

------------------------------------------------