Batas akhir merayakan Natal
Kapan batas akhir merayakan Natal dan Tahun Baru di lingkungan Gereja Katolik?
Ada umat yang tanya "Biasanya lingkungan kami merayakan acara Natal dan Tahun Baru bersama umat lingkungan setelah tanggal 1 Januari. Tapi biasanya minggu pertama bulan Januari masih banyak umat lingkungan yang berlibur sehingga pengurus lingkungan harus menunggu umatnya lengkap. Ada batas terakhirnya ngga sih merayakan Natal dan Tahun Baru di Gereja Katolik? Mohon pencerahan."
(1 vote)




Comments
PENCERAHAN dari Bapak Onggo Lukito
PENCERAHAN dari Bapak Onggo Lukito
Masa Natal berlangsung sampai Pesta Pembaptisan Tuhan yang kali ini akan jatuh tanggal 9 Januari, dan tanggal 10 Januari sudah memasuki masa biasa.
Perlu diperjelas lagi apa yang dimaksud dengan perayaan, apakah perayaan dalam arti liturgis ...atau dalam arti pesta sekedar kumpul2 dan nyanyi2 bersama? Kalau dalam arti liturgis harus menyesuaikan dengan masa yang berlangsung karena disposisi batin umat katolik perlu disesuaikan dengan masa liturginya supaya nyambung antara permenungan pribadi dengan permenungan seluruh Gereja.
Kalau kita merasa sebelum natal bukanlah saat yang tepat merayakan natal karena masih masa adven, kenapa kita malah merayakan natal saat masa natal sudah lewat? Jadi menurut saya untuk merayakan natal haruslah sebelum Pesta Pembaptisan Tuhan.
Tapi, kalau hanya untuk kumpul2 dan nyanyi2 bersama, tukar kado, dan makan2 bisa dilakukan kapan saja.
www.facebook.com : SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA
PENCERAHAN dari Pastor Christianus Hendrik :
PENCERAHAN dari Pastor Christianus Hendrik :
Dear Friends,Betul seperti dikatakan teman2; paling mudah dan paling aman ya lihat aja di kalender liturgi. Semua sudah ada petunjukknya di sana kapan oktaf Natal berlangsung, kapan masa natal berakhir, semua diberi petunjuk dan dibantu den...gan warna2 dalam setiap harinya untuk perayaan ekaristi, maka lebih mudah. Yang jelas masa natal secara liturgis berakhir pada hari minggu sesudah tanggal 6 January(Epiphany); yaitu pada hari minggu Pembaptisan Tuhan Yesus. Setelah itu seninnya sudah masuk masa biasa (hijau).
Apa yang secara liturgis sudah selesai tidak berarti mutlak semuanya harus selesai. Kadang kan kue2 natal masih banyak, tamu2 jauh ya masih banyak, saudara kerabat yang selama natal sibuk jadi tuan rumah kan baru sempat mulai bergerak untuk saling mengunjungi sanak family... Kalo masih dalam hari2 sesudah penutupan masa natal, mengapa tidak boleh??
Apalagi kalo kasusnya seperti di atas, sangat pastoral sekali. Lha kalo lingkungan mau merayakan gak ada orangnya, lalu mau merayakan natal sama sapa?? wkwkwk... Tentu saja tetap ada batas2nya. Kalo sudah terlalu jauh lalu menjadi aneh juga bukan?? Bayangkan natalan dirayakan setelah hari rabu abu pembukaan masa prapaskah...ha ha...amit amit!
Hal ini bukannya tanpa dasar, sebenarnya secara prinsipial, setiap kali kita merayakan Ekaristi, misteri Karya Keselamatan Allah itu kita rayakan sepenuhnya. Ingat Anamnese: Wafat Kristus kita maklumkan, KebangkitanNya kita muliakan, KedatanganNya kita rindukan.. Hal itu bisa dikatakan sebenarnya dalam setiap perayaan Ekaristi kita sekaligus merayakan natal kelahiranNya, hidup dan perjuanganNya, sengsara dan wafatNya, sekaligus Paskah kebangkitanNya.
Tetapi tetap perlu diingat, hidup iman kita itu bukan cuma ide2 dan di alam pikir saja; tapi juga menyangkut hampir seluruh aspek kehidupan kita. Maka liturgi perlu menatanya sedemikian rupa dan kita ikuti dengan setia seirama dengan ritme perkembangan hidup kita sewajarnya.
Warm regards,
P. Christianus Hendrik SCJ - South Dakota - USA
www.facebook.com : SEPUTAR LITURGI DAN PERAYAAN EKARISTI GEREJA KATOLIK INDONESIA