Ignatius Joseph Kasimo
Nama Ignatius Joseph Kasimo (1900-1986) tidak setenar nama-nama tokoh pergerakan kemerdekaan lainnya. Namun, ketika praksis berpolitik belakangan ini cenderung menjadi komoditas dan tempat mencari kedudukan, sosok Kasimo menjadi referensi aktual.
Bersama orang-orang seangkatan, seperti Natsir dan Prawoto, tujuan Kasimo berpolitik itu jernih, untuk rakyat dan bukan untuk dapat banyak honor,” kata sejarawan Anhar Gonggong seputar ketokohan IJ Kasimo dalam sejarah pergerakan kemerdekaan.
Kasimo memberi teladan bahwa berpolitik itu pengorbanan tanpa pamrih. Berpolitik selalu memakai beginsel atau prinsip yang harus dipegang teguh. Berpolitik menjadi bermartabat.
Moto salus populi suprema lex (kepentingan rakyat hukum tertinggi), kata Jakob Oetama, Pemimpin Umum Harian Kompas, merupakan cermin etika politik yang nyaris jadi klasik dari tangan Kasimo. Masuk ke gelanggang politik merupakan panggilan hidup, sikap dan perbuatannya jauh dari motivasi memperkaya diri, keluarga, dan kelompok. Kasimo seorang negarawan sejati.
Menyambung Jakob Oetama, di mata Harry Tjan Silalahi, Kasimo adalah manusia berkarakter. Berkorban tanpa pamrih, hidup sederhana. Kesederhanaan menjadi kesalehan hidup. Karena itu, Kasimo dianugerahi umur panjang. Meninggal dalam usia 86 tahun, 1 Agustus 1986, tidak pernah korup berkat pendidikan Barat yang membedakan ”milikku” dan ”milik negara”, mine and yours.

Dari Jawa mengindonesia
Kalaupun kemudian Kasimo dikenal sebagai politisi Katolik, kata Jakob Oetama dan Harry Tjan Silalahi, bahkan dikenang sebagai Bapak Politik Umat Katolik Indonesia, iman Katoliknya memberi inspirasi, memperkuat sikap dan pandangan idealisme.
Meskipun selalu berpakaian Jawa lengkap, Kasimo lebur dalam upaya mengajak dan menyadarkan bahwa umat Katolik bukanlah umat Katolik di Indonesia, tetapi umat Katolik Indonesia bagian utuh dari kemajemukan bangsa Indonesia. ”Dari Jawa mengindonesia,” tegas Harry Tjan.
Lahir sebagai anak kedua dari 7 bersaudara dari pasangan Dalikem-Ronosentika, seorang prajurit Keraton Yogyakarta, Kasimo tampil memperjuangkan hak-hak anak jajahan. Ia berjuang lewat Volksraad, lewat partai, tidak dengan menampilkan sikap sektarian, tetapi berdasar platform kebangsaan yang majemuk. Partai Katolik bukanlah partai konvensional, melainkan partai yang mendasarkan diri pada ajaran dan moralitas Katolik.
Mengenai posisi golongan Katolik, kata Daniel Dhakidae—Pemimpin Redaksi Majalah Prisma—di Hindia Belanda tahun 1930-an golongan Katolik dianggap seperti golongan ”paria” di India. Karena itu, kehadirannya tidak diperhitungkan.
Dalam kondisi demikian, peran pastor-pastor Belanda yang Katolik di Hindia Belanda menjadi serba salah. Pastor Frans van Lith SJ merupakan satu dari antara mereka yang bersimpati dan kemudian memihak orang bumiputra.
Menurut JB Sudarmanto yang melakukan penelitian tentang Kasimo, setahun setelah diangkat sebagai anggota Volksraad tanggal 19 Juli 1932, Kasimo melontarkan pernyataan, ”Tuan Ketua! Dengan ini saya menyatakan bahwa suku bangsa-suku bangsa Indonesia yang berada di bawah kekuasaan negeri Belanda, menurut kodratnya mempunyai hak serta kewajiban untuk membina eksistensinya sendiri sebagai bangsa.”
Kasimo juga ikut serta dalam Petisi Soetardjo yang diajukan pada 15 Juli 1936. Menurut sejarawan Asvi Warman Adam, berkat diangkatnya Kasimo menjadi anggota penuh delegasi RI untuk perundingan dengan pihak Belanda dari Partai Katolik, dan Supeno dari Partai Sosialis, Belanda bersedia bertemu Indonesia di meja perundingan.
Bersama Kolonel AH Nasution, Kasimo—Ketua Partai Katolik (1924-1960)—menjalankan fungsi pemerintahan negara dengan membentuk Komisariat Pemerintah Pusat di Jawa (KPPD). Kerja sama erat dalam kedudukannya sebagai pejabat KPPD di Jawa dengan Markas Komando di Jawa lewat penandatanganan bersama menghasilkan banyak keputusan sebagai legalitas formal Pemerintah Pusat RI di Jawa ketika bergerilya semasa Clash II.
Partai politik, bagi Kasimo, merupakan sarana dan bukan tujuan. Itu pula yang menjadikan Kasimo berbesar hati menerima Partai Katolik RI yang dia dirikan berfusi ke Partai Demokrasi Indonesia tahun 1972.
Dosen Sejarah Gereja, RL Hasto Rosariyanto SJ, menggarisbawahi pendapat orang tentang kesamaan ketokohan Kasimo dan Cory Aquino. Mereka bertemu dalam kegiatan politik yang digerakkan oleh cinta tanah air, sederhana, dan jujur. Sebuah bentuk keluhuran yang di hari-hari ini menjadi amat mewah, terlebih saat berpolitik tidak lagi didasarkan atas keberpihakan memperjuangkan kepentingan rakyat.
Akan tetapi, mengapa hingga kini IJ Kasimo belum juga dianugerahi gelar pahlawan nasional? Ya, mengapa belum? Dua seminar tentang Kasimo yang digelar pada 8 Oktober 2010 di Yogyakarta dan 12 Oktober 2010 di Jakarta merupakan salah satu jawaban atas pertanyaan tersebut.
ST SULARTO -kompas.com




Comments
Nasionalis Minoritas yang Terlupakan
JAKARTA, KOMPAS.com — Konflik antaragama dan golongan yang terjadi belakangan ini sudah disadari banyak pihak sebagai sebuah ancaman bagi pluralisme bangsa.
Wacana dominan dan nondominan serta mayoritas dan minoritas pun semakin memperuncing terjadinya konflik.
Padahal, sejarah Indonesia mencatat, ada sejumlah pejuang kemerdekaan yang memiliki peran serta yang begitu besar berasal dari kalangan minoritas.
Namun, karena keminoritasannya, pamor pejuang ini justru redup dalam sejarah.Kelima tokoh tersebut yakni IJ Kasimo, seorang Katolik Jawa, ahli pertanian yang aktif di partai politik konvensional dan duduk di Volksraad; Toedoeng Soetan Goenoeng Moelia (1896-1966), seorang Protestan Batak yang aktif di partai politik konvensional dan duduk di Volksraad; GSSJ Ratu Langie, seorang Protestan Minahasa yang duduk di Volksraad; Amir Sjarifoeddin (1907-1948), pemimpin muda kharismatik dalam gerakan nasionalis tahun 1930-an, menjadi Perdana Menteri RI dua kali dalam rentang 1947-1948; dan Albertus Soegijapranata (1896-1963), pastor Serikat Jesuit dari Jawa Tengah, uskup pribumi pertama di Hindia Belanda pada 1940 yang aktif dalam aktivitas politik pada periode 1940-an."Mereka kini terlupakan perannya yang besar oleh bangsa ini.
Padahal, mereka tokoh nasionalis penggerak bangsa yang sangat penting kontribusinya," ujar cendekiawan muslim, Dawam Rahardjo, Selasa (5/10/2010), dalam bedah buku 5 Penggerak Bangsa yang Terlupa: Nasionalisme Minoritas Kristen di Gedung Djoeang 45, Jakarta.
Ia mencontohkan, misalnya, Amir Sjarifudin yang dieksekusi mati tanpa proses peradilan karena dianggap terlibat dalam pemberontakan Madiun. "Sjarifudin ini adalah satu-satunya Perdana Menteri Kristen. Ini menunjukkan ketokohan dan kapasitasnya," ujar Dawam.Mantan cendekiawan Muhammadiyah tersebut berujar bahwa ketokohan Amir tidak dikenal publik memang karena ia berasal dari minoritas. Namun, bukan sebab kekristenannya yang membuat jasa Amir dilupakan, melainkan lebih karena citranya yang terlibat dalam pemberontakan komunis."Maka dari itu, ketokohan seseorang jangan dilihat dia dari mana, agama apa, tapi lihat apa yang sudah diberikan orang-orang ini kepada bangsa Indonesia," tandas Dawam.
Aktivis dari Tanah Abang
Aktivis dari Tanah Abang
Percakapan itu terjadi saat saya menghalangi Mayor Jenderal Ali Moertopo yang nekat ingin keluar dari gedung kantor Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Jalan Tanah Abang III, Jakarta Pusat, sambil membawa pistol. Ali berkeras ingin menemui Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia Hariman Siregar yang memimpin demonstrasi dan mengejek Ali sebagai antek-antek Jepang.
Unjuk rasa mahasiswa yang berakhir rusuh itu dikenal sebagai Malari Malapetaka Lima Belas Januari pada 1974. Dalam buku biografinya yang ditulis Heru Cahyono, Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkop kamtib) Jenderal Soemitro menduga Ali Moertopo menjadi dalang kerusuhan itu.
Itulah demonstrasi mahasiswa terbesar setelah unjuk rasa periode 1966 yang menumbangkan Orde Lama dan membantu Soeharto naik menjadi penguasa Orde Baru. Saya menjadi bagian di dalamnya ketika itu, sehingga tahu bagaimana dahsyatnya kekuatan mahasiswa bila sudah menggalang diri.
Peristiwa Malari dilatari kemarahan rakyat karena melambungnya harga beras dan bahan kebutuhan pokok. Penyebabnya adalah resesi dunia sejak 1973 lantaran embargo minyak oleh negara-negara Arab dan membubungnya harga minyak dunia. Ekspresi kemarahan itu muncul melalui mahasiswa karena selama enam bulan sebelumnya mereka diminta Soemitro mengkritik pemerintah dengan alasan untuk feedback atas kebijakan pemerintah.
Serbuan produk buatan Jepang ditambah sikap sombong mereka atas keunggulan investasi manufaktur di Indonesia, terutama otomotif, menambah amunisi kemarahan mahasiswa. Tak mengherankan bila salah satu sasaran massa adalah gerai Astra perusahaan patungan Indonesia-Jepang. Massa mencemplungkan beberapa mobil dan sepeda motor buatan Jepang ke Kali Ciliwung.
Situasi itu membuat Presiden Soeharto pusing. Apalagi saat itu bertepatan dengan kedatangan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka. Lantaran situasi rusuh, selama kunjungannya Tanaka tak berani keluar dari Hotel Indonesia, tempat dia menginap.
l l lPada 1973, Soemitro diangkat menjadi Pangkopkamtib. Sebelumnya, Presiden Soeharto tidak terlalu mempercayainya karena dia masih keponakan Doel Arnowo, tokoh Jawa Timur yang dikenal loyalis Bung Karno. Namun Soemitro dianggap berprestasi kala menjadi Deputi Operasi Markas Besar Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.
Dia berhasil membereskan "pemberontakan" para jenderal penguasa wilayah yang tak puas terhadap Soeharto. Mereka di antaranya Kemal Idris di Sulawesi, H.R. Dharsono di Jawa Barat, Sarwo Edhie mertua Susilo Bambang Yudhoyono di Sumatera Utara, dan Amir Machmud. Soemitro meredam pergolakan itu dengan memindahkan para jenderal itu dari basis mereka.
Sebagai Pangkopkamtib, Soemitro bertindak layaknya perdana menteri. Dia bisa memanggil menteri, Jaksa Agung, dan para teknokrat untuk rapat di kantornya. Kemudian dia melakukan safari ke berbagai perguruan tinggi dan bertemu dengan para pemimpin mahasiswa, termasuk Hariman. Mereka disuruh mengkritik sebagai feedback atas kebijakan pemerintah. Langkah yang aneh, saya pikir. Lha wong tanpa disuruh saja mahasiswa mengkritik, kok. Ini malah di suruh.
Pada saat yang sama, Ali Moertopo, Soedjono Hoemardani, saya, dan beberapa orang lain sedang melakukan safari ke Australia dan sejumlah negara Pasifik, seperti Papua Nugini, Fiji, dan Selandia Baru. Kami tak tahu ada gerakan Soemitro yang meminta izin Soeharto untuk menertibkan Ali. Alasannya, Ali terlalu memihak kepada Malaysia dalam kasus perebutan Sabah dengan Filipina.
Maka telepon Ali disadap oleh Intelijen Strategis. Penjaga dan ajudannya ditarik oleh Skogar di bawah Soemitro. Pulang ke Tanah Air pada Desember, Ali dan Soedjono kaget diperlakukan seperti pesakitan. "Ini orang maunya apa, sih," kata Ali dengan nada marah kepada saya. "Kalau cuma sama dia, saya enggak takut." Ali juga merasakan Soemitro ingin menghajarnya melalui mahasiswa.
Soeharto mencium gelagat perang dingin antar-jenderal itu. Dia segera memanggil sembilan jenderal ke Istana pada 31 Desember 1973. Selain Soemitro dan Ali, ada Soedjono, Kharis Soehoed, Kepala Intel Strategis kelak Badan Intelijen Strategis-Kepala Badan Koordinasi Intelijen Soetopo Joewono, Wakil Pangkopkamtib Sudomo, Sekretaris Negara Sudharmono, Sekretaris Militer Presiden Tjokropranolo, dan Kepala Staf Angkatan Darat Surono.
Di sana Soeharto menegur para jenderal. "Kalau ada yang ingin menggantikan saya sebagai presiden, silakan. Tak usah saling mengkudeta seperti di Amerika Latin," ujar Ali dan Soedjono kepada saya menirukan ucapan Soeharto. Soemitro seperti cacing kepanasan dalam pertemuan itu dan mengatakan dia tak punya ambisi mengambil alih kekuasaan Soeharto. Setelah pertemuan itu, Kharis, Ali, dan Soemitro diminta mengadakan konferensi pers bersama dan mengatakan tak ada apa-apa di antara mereka, sekaligus meredam protes-protes mahasiswa.
Terlambat. Dua pekan kemudian pecah Malari. Atmosfer gerakan yang sudah dipanasi selama enam bulan tak bisa di dinginkan dalam tempo singkat.
l l lCSIS awalnya adalah sebuah biro dokumentasi di Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Biro yang dibentuk pada 1962 ini bertugas mendokumentasi kliping peristiwa sosial dan menganalisisnya untuk Partai Katolik dan Dewan Gereja.
Pada 1963, kami sudah menganalisis Partai Komunis Indonesia akan berkuasa. Mereka bakal menang dalam pemilihan umum lima tahun lagi karena Bung Karno kesengsem oleh gerakan massa partai ini. Dan kami, Katolik, yang akan diganyang pertama kali karena paling keras menentang komunis bersama Masyumi dan Partai Sarikat Islam Indonesia.
Kami yang tergabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) dan intelektual Katolik menjadi operator biro ini. Analisis sosial diperlukan sebagai bahan argumentasi dan pembuatan keputusan partai dan gereja.
Saya, ketika itu menjadi Wakil Ketua PMKRI, dan Harry Tjan, Sekretaris Jenderal Partai Katolik, adalah dua dari sejumlah pemikir dalam gerakan ini. Kami juga memiliki orang-orang yang terlatih secara fisik. Gerakan kami adalah gerakan bawah tanah untuk melawan komunis yang sudah terlihat kuat saat itu.
Saat peristiwa 1965, biro ini membantu kami di Front Pancasila, yang menjadi think tank gerakan melawan komunis. Setelah Soeharto menjadi presiden, kami diminta tetap membantunya sebagai think tank dalam struktur kepresidenan. Saat itu saya sadar, orang ini pintar secara alamiah. Kalau tidak hati-hati, kami akan berada dalam genggamannya.
Kami berpendapat perlu ada lembaga pemikir dan pengkaji untuk membantu pemerintah mewujudkan Indonesia yang lebih maju secara politik, ekonomi, dan pertahanan. Tapi sebaiknya bukan dalam struktur kepresidenan agar bebas meneliti dan menyampaikan pendapat. Lembaga itu harus independen dengan ke uangan sendiri.
Saat itu, dalam benak Soeharto, urusan strategi adalah urusan tentara. Sipil tak usah ikut-ikutan. Kami berpikir sebaliknya. Tapi kami paham mesti mengikutsertakan tentara. Kami pilih tentara yang terlatih berpikir dan cerdas, yaitu Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardani. Mereka menjadi pelindung lembaga ini.
Ali dan Soedjono adalah perwira ope rasi khusus yang kemudian menjadi asisten pribadi Soeharto. Operasi khusus adalah pelaksana tugas yang dibentuk Menteri Panglima Angkatan Darat Jenderal Ahmad Yani untuk menyelesaikan konfrontasi dengan Malaysia. Tugasnya lebih bergerak pada level politik.
Lewat CSIS, kami memberikan resep politik, ekonomi, sampai pertahanan kepada Soeharto. Semua dalam bentuk kajian akademis dan strategis. Saat itu, kami mengundang beberapa cendekia wan bergelar doktor dari Eropa Barat supaya membantu kami. Maka Daoed Ju suf dan Hadi Soesastro kemudian bergabung setelah menamatkan studi mereka.
Ali yang pertama kali memberikan kantor buat kami di Jalan Kesehatan, Jakarta Pusat. Ali pula yang memberikan dana bagi pembentukan lembaga ini. Kemudian, untuk kemandirian, kami membentuk Yayasan Proklamasi - kemudian berubah menjadi Yayasan CSIS dan Sofjan Wanandi menjadi bendahara yang bertugas mencari dana.
Hasil kajian lembaga ini tak cuma disampaikan kepada pemerintah, tapi juga ditujukan ke negara lain. Contohnya kami lakukan ketika menggelar Konfe rensi Jepang-Indonesia pada awal Desember 1973, enam pekan sebelum Malari. Ketika itu kami mengkritik kebijakan Jepang yang jorjoran menyerbu Indonesia, termasuk dengan berbagai investasi.
Saya menilai Jepang, setelah kalah Perang Dunia II, memandang Indonesia dan Asia Tenggara sebagai pasar produk mereka semata. Mereka belum lihai melaksanakan kebijakan politik sehingga hanya merangkul pemerintah dan pengusaha setempat.
Kami terbiasa pula mengkaji hu bu ngan bilateral Indonesia dengan negara lain, termasuk normalisasi hubungan dengan Cina pada 1992. Saat itu, Cina sudah menjadi negara yang prospektif secara ekonomi dan pertahanan.
Kajian lain menyangkut organisasi multilateral yang melibatkan Indonesia. Pada masa awal Orde Baru, kami mengkaji perkembangan ASEAN. Kebetulan, delapan bulan sebelum penandatanganan Dekla rasi ASEAN pada 8 Agustus 1967, saya diutus Ali Moertopo untuk mengkaji kerja sama organisasi di antara negara-negara Asia Tenggara.
Saat ini CSIS banyak memberikan resep buat pemerintah dan pelaku swasta dalam berhubungan dengan Cina. Apalagi setelah perdagangan bebas ASEAN-Cina diberlakukan awal tahun ini.
l l lSaya adalah generasi keempat dari buyut yang datang dari Fujian, Cina, pada 1850. Kami tujuh bersaudara dan saya adalah anak sulung. Daerah tempat saya lahir terkenal dengan tambang batu baranya, Sawahlunto, Sumatera Barat.
Kendati keturunan Cina, saya tak pernah disekolahkan di sekolah Cina. Ketika kecil, saya sempat mengenyam pendidikan Belanda di Padang, padahal di kota itu ada sekolah Cina yang bagus. Tapi kakek dan ayah saya, Lim Gim To, masih membiasakan diri berbicara bahasa Cina dengan dialek Fujian.
Kami dididik oleh Ayah dengan penuh disiplin dan tongkat rotan menjadi "teman" kami. Sebaliknya, ibu saya, Katrina Tjoa Gim Jong Nio, adalah ibu yang penuh kasih. Dia tak pernah mengeluarkan kata kasar, selalu berwajah cerah, dan memberikan aura positif buat orang lain. Dia juga mengajari kami untuk selalu berempati kepada orang lain.
Di era 1966, saya dikenal dengan nama Liem Bian Kie. Adik saya, Sofjan Wanandi, seorang aktivis mahasiswa UI, dikenal sebagai Liem Bian Koen. Setelah Soeharto berkuasa, saya mengganti nama keluarga menjadi Wanandi karena Liem berarti hutan alias wana. Adapun Andi berarti abadi. Adik-adik saya kemudian mengikuti menggunakan nama keluarga Wanandi.
Saya dan Sofjan tak pernah berselisih dalam urusan politik kecuali saat Pemilu 2004. Sofjan, karena dekat dengan Jusuf Kalla, mendukung pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla. Adapun saya mendukung Megawati, bukan karena Megawati paling bagus, melainkan lantaran dia berani pasang badan membela kebijakan anak buahnya. Keberanian ini saya lihat tidak ada pada Yudhoyono.
Akibat pilihan yang berbeda, kami tak saling bicara selama tiga bulan. Bila bertemu di rumah Ibu, kami saling menjauh. Saya ada di satu sudut, Sofjan di sudut rumah yang lain. Melihat perselisihan kami, Ibu turun tangan. Ibu-yang gemar jalan-jalan-mengajak kami seluruh keluarga besar berwisata ke Cina selama sepuluh hari.
Selama perjalanan tentu kami melaku kan kegiatan bersama: jalan, makan, dan belanja, lama-lama perselisihan itu lu ruh. Melihat muka Sofjan selama sepuluh hari tapi tak saling tegur, mana mungkin bisa?
Sekembali dari Cina, Sofjan ditawari Kalla menjadi Menteri Perdagangan. Saya tak mengizinkan. Sebagai pedagang, dia akan memiliki konflik kepentingan bila menjadi Menteri Perdagangan. Dengan birokrasi seperti sekarang, tak mungkin pula membuat kebijakan perdagangan berjalan. Maka disodorkanlah nama Mari Pangestu, yang juga ekonom CSIS. Setelah setahun Yudhoyono berkuasa, barulah Sofjan sadar telah salah memilih.
Saya mengundang Jusuf Kalla saat peluncuran biografi singkat Ibu di lounge Jakarta Theatre, beberapa waktu setelah Pemilu 2009. Saya dan Sofjan kembali bersatu dan mendukung Kalla. Ketika berbicara di podium, saya katakan kepada Ibu, jangan khawatir, kali ini kami tak berbeda. Meski kalah, jagoan kami tetap yang terbaik. Kalla tersenyum mendengar pidato itu.
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/10/25/MEM/mbm.20101025.MEM134899.id.html
25 October 2010
Menyusup ke Ring Satu
Pada 1964 saya sudah menjadi asisten profesor dan sekretaris eksekutif Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Dekannya waktu itu Profesor Soejono Hadinoto. Ketika Soejono diangkat menjadi menteri merangkap Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung, dia menawari saya menjadi sekretarisnya.
Sebelum menerima tawaran itu, saya meminta pertimbangan rekan saya, Harry Tjan, yang saat itu sudah menjadi Sekretaris Jenderal Partai Katolik. Saya katakan, "Piye, yo? Cita-cita saya itu menjadi profesor." Saya juga berencana mencari beasiswa untuk meraih gelar PhD dari Universitas Harvard pada 1965, tapi saya batalkan.
Atas saran Harry dan rekan-rekan kelompok Katolik, saya akhirnya menerima tawaran Profesor Soejono. Mereka menganggap perlu "mata dan telinga" untuk mengetahui siapa saja orang yang dekat dengan Bung Karno, mengingat situasi politik saat itu mulai genting. Waktu itu saya menjabat Wakil Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI).
Kantor saya berada di lingkungan Istana. Bung Karno saat itu merangkap Ketua DPA. Maka saya mulai aktif mengikuti kegiatan Bung Karno. Hampir tiap pagi saya ikut sarapan bersama Bung Karno dan tamu-tamunya di Istana. Kemudian tiap Sabtu malam saya turut acara menari lenso di Istana Bogor. Ini kegiatan yang sepenuhnya saya ikuti dengan hati senang.
Sepulang dari kunjungan ke Eropa pada awal Agustus 1965, Bung Karno jatuh sakit. Ketika ingin menemui beliau, saya dicegat salah satu ajudan, Kolonel Surachmat, di beranda Istana Merdeka. Dia mengatakan, "Bapak sedang tidak enak badan." Beberapa hari kemudian, Ketua PKI D.N. Aidit membawa enam atau tujuh dokter dari Republik Rakyat Cina. Sejak 1960, PKI memang mengambil garis lebih dekat dengan Partai Komunis Cina ketimbang Partai Komunis Uni Soviet.
Di kulit tubuh Bung Karno sudah muncul bercak-bercak biru. Itu gejala kera cunan karena ginjalnya sudah lama tidak bekerja. Dokter-dokter Cina itu kabarnya mengatakan kepada Aidit, "Apa pun yang mau dilakukan, lakukan segera." Saat itu pertengahan Agustus. Pada akhir Agustus, PKI mulai menyiapkan gerakan.
Saya tidak mendengar sendiri siaran pertama Dewan Jenderal dan Dewan Revolusi pada 1 Oktober pagi oleh Letkol Untung. Saya justru mendengar dari Harry Tjan. Waktu itu saya mau berangkat ke kantor di Istana dengan jip Toyota inventaris dari Sekretariat Negara. Saya mau mampir dulu ke Biro Dokumen tasi Partai Katolik di Jalan Gunung Sahari, tiba-tiba dicegat Harry Tjan. "Kok, ada tembak-tembakan di rumah Nasution dan Yani?"
Harry lantas meminta saya memeriksa keberadaan Bung Karno di Istana. Saya masuk ke Sekretariat Negara dan bertemu dengan sekretaris presiden, Djamin. Saya tanya dia, "Bung Karno di mana?" Djamin menjawab, "Saya tidak tahu." Rupanya dia hanya pura-pura tidak tahu. Se betulnya dia tahu Bung Karno ada di Halim sejak pukul 10 pagi. Saat itu tidak ada seorang pun yang tahu persis apa yang sedang terjadi.
Sekitar pukul 14.00, saya pulang ke Margasiswa markas PMKRI di Jalan Sam Ratulangi, Menteng, Jakarta Pusat. Terdengar pengumuman kedua tentang dewan revolusi di radio. Lho, ada dewan revolusi berjumlah 45 orang tapi tidak ada dari golongan Katolik? Kami langsung menyimpulkan, "Ini mesti PKI." Itu naluri yang bicara. Sebab, ada juga orang Katolik yang pro-Bung Karno, mengapa tak ada yang masuk? Di masa itu, Partai Katolik terhitung partai yang berani menentang PKI.
Setelah sadar PKI ada di balik gerakan itu, langkah pertama kami adalah mengamankan Pak Kasimo. Ketua Partai Katolik itu dikenal anti-PKI. Dia diungsikan ke rumah salah satu teman di daerah Kwitang, Jakarta Pusat. Saya waktu itu berusia 27 tahun, sudah menikah dan dikaruniai dua anak: Yudi dan Ari. Anak-anak saya titipkan kepada mertua.
PMKRI bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Dalam HMI ada Firdaus Wajdi, Sulastomo, Mar'ie Muhammad, Akbar Tandjung, dan Fahmi Idris. Kami menggelar aksi massa pertama pada 6 Oktober 1965 di depan Papernas. Sejak itu aksi terjadi setiap hari. Kami berusaha menggunakan Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI). Tapi PPMI banyak yang kiri. Kami akhirnya membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI).
Selanjutnya diadakan pertemuan pa da 9 November 1965. Sebanyak 1,5 juta orang berkumpul di Lapangan Banteng. Seluruh lapangan sampai jalanan penuh sesak. Kami menuntut pembubaran PKI. Taktik ini juga dipakai dalam Pemilu 1971. Kami memakai hansip yang keliling dari rumah ke rumah, mengumumkan pertemuan wajib dihadiri kalau tidak ingin dicap PKI.
Namun Bung Karno menolak membubarkan PKI. Belakangan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Pemuda Marhaen bahkan melakukan serangan balik. Mereka mau menyerbu kampus UI Salemba yang menjadi markas KAMI. Saat itu pemimpin-pemimpin KAMI dipersenjatai pistol. Tapi kurang ajar, pistolnya tak ada yang bisa meletus. Saya bahkan memegang sten gun karena situasi genting.
KAMI akhirnya dibubarkan pada 25 Februari 1966. Pasukan Tjakrabirawa bergerak mencari para aktivis, kami terpaksa pindah-pindah tidur. Sofjan pindah tidur ke tempat Ali Moertopo di Kebon Sirih, yang sekarang menjadi kantornya. Markas KAMI juga pindah ke sana. Kala itu saya berperan di Front Pancasila. Tugasnya mengorganisasi partai-partai agar mendukung Soeharto. Juga menyiapkan pernyataan-pernyataan untuk mahasiswa yang melakukan aksi.
Mendekati 11 Maret 1966, ketegangan politik terus meningkat. Pada 11 Maret pagi, Bung Karno menggelar sidang kabinet. Soeharto sakit dan tidak hadir. Kira-kira pukul 10.00 sidang baru mulai, masuklah Pangdam Jaya Mayjen Amir Machmud melapor kepada Bung Karno. Ada pasukan tidak dikenal menuju ke Istana.
Bung Karno lalu dievakuasi ke Istana Bogor menggunakan helikopter. Dia ditemani Soebandrio dan Chairul Saleh. Tiga orang yang hadir dalam sidang kabinet: Jenderal M. Jusuf, Basuki Rachmat, dan Amir Machmud, kemudian datang menghadap Soeharto di Jalan Agus Salim, Menteng. Soeharto meminta mereka menemui Bung Karno di Bogor. "Beritahukan kepada Bung Karno bahwa dia serahkan kekuasaan kepada saya, saya jaga keamanan dan sebagainya."
Waktu saya bersama Soeharto ikut mendirikan Orde Baru, kalian masih berumur berapa? Masih SD? Kalian tahu tidak, saya yang bikin Soeharto jadi presiden."
"Ceramah" itu saya ucapkan saat diperiksa beberapa perwira polisi militer di Guntur, Jakarta Pusat. Saat itu menjelang Mei 1998. Situasi politik sangat panas. Terjadi rangkaian keributan, ke rusuhan, dari Tasikmalaya, sampai bom yang meledak menjelang kejatuhan Soeharto. Saya dan adik saya, Sofjan Wanandi, ikut terseret kasus bom di Tanah Tinggi, Senen, yang meledak pada Januari 1998. Tuduhan bermula dari surat elektronik yang katanya dari aktivis Partai Rakyat Demokratik.
Sebelum diperiksa polisi militer, saya dipanggil Badan Intelijen Strategis. Badan ini juga yang mencekal saya dan Sofjan selama dua bulan sehingga tidak bisa bepergian ke luar negeri. Proses terakhir adalah pembuatan berkas pemeriksaan oleh polisi dari Kepolisian Daerah Metro Jaya. Sejak awal, polisi yang memeriksa saya sudah mengatakan, "Maaf, Pak, ini sebetulnya bukan urusan kami. Kami juga enggak percaya, tapi kami bisa apa?"
Saya tak tahu persis siapa yang menuduh saya dan adik saya tersangkut soal bom itu. Tapi hubungan kami dengan Soeharto memang tak lagi mesra sejak saya menulis memo kepadanya pada 1987. Kemudian Sofjan terang-terangan menyatakan penolakannya soal pencalonan Habibie menjadi wakil presiden pada 1997 kepada Jenderal Prabowo. Saat itu Prabowo mengira kami mengajak dia melakukan kudeta kepada Soeharto.
Setelah pemeriksaan terhadap saya dan Sofjan selesai, di beberapa media muncul tulisan bahwa saya menyesal atas insiden itu. Ketika diperiksa, saya memang menyatakan menyesal, tapi bukan untuk tuduhan politik itu. Saya menyesal karena hubungan kami dengan kelompok Islam tak baik seperti dulu.
Pada masa Orde Lama, Partai Katolik dan Masyumi merupakan sahabat baik. Saat Masyumi dibubarkan Sukarno, kami tetap membela. Namun, setelah 1966, muncul persoalan lama yang memisahkan kami, yaitu soal ideologi tentang Piagam Jakarta. Awalnya, Soeharto juga tidak akrab dengan kalangan Islam. Menjelang kejatuhannya, barulah dia mendekati kelompok Islam.
l l lMemo yang saya tulis itu sampai di meja Soeharto pada September 1987. Ketika itu, Golkar baru saja menang lagi, untuk keempat kalinya, dan kursi presiden pasti kembali diduduki Soeharto. Isi memo itu cuma dua poin, dengan penje lasan terperinci di tiap poinnya. Pertama, soal masyarakat yang semakin majemuk. Masyarakat ini adalah kelas menengah yang dibentuk Soeharto selama 20 tahun berkuasa di Indonesia. Konsekuensinya, masyarakat ini akan sulit diatur, tak seperti di masa kacau dan Soeharto muncul sebagai pahlawan. Maka perlu disiapkan tim baru yang bisa mengatur masyarakat yang majemuk ini.
Kedua, saya sampaikan kepada Soeharto bahwa dia mesti memiliki visi baru untuk Indonesia 20 tahun ke depan. Tak cuma mengutak-atik persoalan jangka pendek. Saya sarankan agar persoalan itu diserahkan kepada menteri koordinator. "Tak bisa Anda yang pegang semuanya." Tapi saya paham, dia justru mengutak-atik supaya bisa mengatur bisnis untuk dibagi kepada putra-putrinya.
Setelah 20 tahun, saya sadar tak bisa lagi mengingatkan Soeharto soal segala sesuatu yang baik buat Indonesia ke depan. Bisa diduga, Soeharto marah. Dia langsung memerintahkan semua menteri tak lagi berhubungan dengan kami. Bahkan beberapa jenderal yang sebetulnya dekat tak boleh lagi berhubungan dengan kami. Misalnya Wiyogo Atmodarminto, yang ketika itu Gubernur DKI Jaya. Mereka juga dilarang memberikan proyek bisnis kepada Sofjan.
Kendati sumber-sumber keuangan ka mi diputus, kami masih bisa melakukan kegiatan. Kredibilitas lembaga ini di arena internasional telah membuat Centre for Strategic and International Studies tak kekurangan sumber daya penunjang riset dan bisa membuat kajian untuk lembaga mana pun.
Bisnis putra-putri Soeharto tak hanya merisaukan saya. Dua pekan sebelum meninggal, pada 1984, Ali Moer topo memanggil saya ke rumahnya. "Situasi sudah gawat, famili Soeharto semakin merajalela," ujarnya. Dia menambahkan, "Kalau begini terus, bukan cuma dia yang hancur. Republik ini juga bisa hancur!"
Saat itu dia berpesan ke saya supaya berbicara kepada Benny Moerdani. "Minta dia bicara ke Pak Harto, tertibkan anak-anaknya," kata Ali. Di antara kami, memang cuma Benny yang masih ada dalam lingkaran dalam Soeharto. Ali sudah menjadi Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung, posisi yang berada di luar lingkaran Soeharto.
Kebetulan Benny juga diminta Soehar to mengawasi anak-anaknya. Langkah pertama yang dilakukan Benny adalah menahan paspor Sigit Harjojudanto, putra pertama Soeharto, supaya dia tak lagi berjudi ke luar negeri. Dalam semalam dia bisa kalah dua juta dolar di meja judi. Benny mengatakan duit sebanyak itu bisa membantu fakir miskin selama setahun. Benny juga mengingatkan Siti Hardijanti Rukmana alias Tutut, putri pertama Soeharto.
Situasi menjadi runyam ketika mereka mengadu ke Soeharto soal gaya peng awasan Benny yang keras. Kemudian Prabowo, sang menantu, ikut marah karena ditarik dari Timor Timur. Saat itu Prabowo adalah perwira menengah di Komando Pasukan Khusus. Prabowo ditarik karena tabiatnya yang temperamental. Anak buah yang ditempeleng mengancam, sesuatu bisa terjadi di medan perang. Benny tentu tak mau menantu presiden mengalami celaka saat dia menjadi Panglima ABRI.
l l lSetelah 20 tahun, Soeharto memang mulai arogan. Dulu, ketika dia masih pejabat presiden, saya dan teman-teman banyak memberikan masukan kepadanya. Pada dasarnya dia orang yang cerdas secara alamiah tapi tidak mendapat pendidikan yang memadai. Ketika mulai terbiasa sebagai presiden dan bertambah pandai, dia tak mau menghargai jasa orang lain.
Setelah Ali Moertopo meninggal, Soeharto mengatakan dulu orang menganggapnya tak akan bisa berhasil menjalan kan tugas tanpa Ali. "Kenyataannya," kata Soeharto, "Ali sudah meninggal, dan saya masih bisa menjadi presiden."
Begitu pula dengan Soedjono Hoemardani, yang satu perguruan kebatinan dengan dia. Romo Diyat, guru spiritual keduanya di Semarang, pernah berpesan kepada Soedjono agar menjaga Soeharto baik-baik lantaran diramalkan akan menjadi orang besar. Itu sebabnya Soedjono menahan surat pengunduran diri Soeharto dari militer.
Kala itu Soeharto sudah merasa tak punya masa depan di ketentaraan karena hanya dijadikan Wakil Panglima Komando Mandala Siaga. Padahal dia lebih senior daripada Omar Dani, yang menjadi panglimanya. Di angkatan darat, karena senioritasnya, Soeharto menjadi orang kedua setelah Jenderal Ahmad Yani. Namun Soeharto tak masuk lingkaran dalam Yani karena tak bisa berbahasa Inggris dan Belanda - yang biasa digunakan Yani dan rekan-rekannya sebagai bahasa pengantar dalam diskusi mereka.
Soeharto menampik anggapan orang tentang Soedjono sebagai guru spiritualnya. "Justru Djono biasa mencium tangan saya," ujarnya. Padahal Soedjono merupakan perantara dalam hubungan spiritual antara Soeharto dan Romo Diyat. Kepada Sofjan Wanandi, Soeharto juga berkali-kali menyindir bahwa keberhasilannya sebagai konglomerat semata bermodal jaket kuning pada 1966.
Setelah Soeharto jatuh, Benny bercerita kepada saya bahwa dia ditemui Tutut, yang menyebutnya sombong karena tak mau lagi menemui ayahnya. Benny langsung menjawab bahwa bila Soeharto meminta, dia tak akan pernah menolak. Akhirnya, Tutut mengatur pertemuan mereka di rumah Sigit. Saat itu Soeharto bertanya kepada Benny, apa salahnya sehingga jatuh dari kekuasaan. Benny menjawab tegas, "Bapak meninggalkan ABRI, padahal itu yang menjadi dasar kekuatan Bapak selama ini."
secuplik memoir tulisan Liem Bian Kie aka Yusuf Wanandi.
www.tempointeraktif.com