Kasimo Sejajar Hasyim Asyari

Semasa hidupnya, Ignatius Joseph Kasimo mentransformasikan nilai kekatolikan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Melihat kiprahnya itu, ia layak disejajarkan dengan pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy’ari.
Hal itu terungkap dalam seminar tentang perjuangan politik dan politik bermartabat IJ Kasimo, Minggu (24/7), di Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya, Jawa Timur. Seminar itu digelar dalam rangka pengusulan gelar pahlawan bagi Kasimo. Sebagai pembicara pengamat politik Harry Tjan Silalahi, JB Soedarmanta, Imam Ghazali Said, dan Hakim Jayli.
Harry menuturkan, Indonesia saat ini membutuhkan teladan dan panutan. Karena itu, pemikiran dan kiprah para pendahulu bangsa perlu diangkat agar bisa memberikan inspirasi keteladanan. Salah satu tokoh yang layak diangkat adalah Kasimo (10 April 1900-1 Agustus 1986) sebagai pelopor kemerdekaan Indonesia. ”Semboyannya adalah gereja untuk Tanah Air. Ini adalah hal pokok yang patut diteladani pemimpin sekarang,” tuturnya.
Menurut dia, Kasimo adalah penganut Katolik yang saleh. Namun, dalam kesalehannya itu, ia tak bersikap fanatik. Ia mengatakan, umat Katolik di Nusantara harus turut dalam gerakan revolusi Indonesia.
Melalui Kasimo, umat Katolik menjadi bagian yang total dari kebangsaan Indonesia. Ini seperti yang dilakukan KH Hasyim Asy’ari ketika mengeluarkan fatwa jihad untuk melawan Belanda dan sekutunya sehingga mendorong munculnya pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
Kasimo juga teladan dalam hal antikorupsi. Ia tegas membedakan antara milik pribadi dan milik negara. ”Ini kerap dilupakan pemimpin sekarang,” ujarnya.
Pengasuh Pesantren Mahasiswa As Nur, Imam Ghazali Said, menyepakati hal itu. Seperti Hasyim Asy’ari, Kasimo mempunyai pemahaman keagamaan yang mendalam. Dengan pemahaman itulah, ia bisa mengatakan, orang Katolik harus menyatu dengan putra-putri Indonesia lainnya dalam membela dan mempertahankan kemerdekaan.
”Itu tidak mudah. Kalau ia tidak mempunyai pemahaman agama, ia tidak akan diterima umat Katolik,” ujar Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Surabaya ini.
Aktivis NU, Hakim Jayli, menilai, Kasimo memberikan teladan bagi pemimpin Indonesia. Kiprahnya sejalan dengan Pancasila. Kasimo adalah tokoh agama yang peduli pada persatuan Indonesia. Ia terlibat langsung dalam dinamika demokrasi dengan mendirikan partai. Melalui posisi politiknya, ia menunjukkan rasa kemanusiaan. (ARA)
kompas.com




Comments
Kasimo Selevel dengan Leimena
Mantan Ketua Partai Katolik Indonesia IJ Kasimo sudah sepantasnya mendapat predikat pahlawan nasional sebagaimana telah diberikan kepada rekan seperjuanganya, DR J Leimena. Semasa hidup, kedua orang itu punya visi dan cita-cita untuk mengintegrasikan nilai-nilai Kristiani dan menerapkan nilai-nilai itu dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Demikian dikemukakan Pendeta Dr Niko Walle (seorang pakar etika) dalam dialog publik bertajuk "IJ Kasimo Politisi Bermartabat" yang diselenggarakan Forum Komunikasi Alumni (Forkoma) PMKRI NTT di aula Unika Widya Mandira Kupang, Rabu 27 Juli 2011, sebagaimana dinyatakan dalam siaran pers Forkoma PMKRI NTT yang diterima Kompas.com, Rabu (27/7/2011). Dialog tersebut dibuka Wagub NTT Eston Funai. Selain Pendeta Niko, tampil juga sebagai pembicara adalah JB Sudarmanto (penulis buku biografi Kasimo), Dr Daniel Dakhidae, serta Pater Julius Jasinto, SVD (rektor Unika Widya Mandira).
Menurut Niko, pemerintah pusat yang telah menetapkan rekan seperjuangan Kasimo, Dr J Leimena, yang juga mantan Ketua Partai Kristen Indonesia (Parkindo) sebagai Pahlawan Nasional, mestinya memberi Kasimo gelar yang sama untuk Kasimo. Karena kedua orang, demikian Niko, memiliki visi dan cita-cita perjuangan yang sama yakni mengintegrasikan umat Kristen kedalam rumah besar Republik Indonesia. Mereka berupaya untuk memadukan nilai-nilai Kristiani dan cinta kasih dalam pergaulan politik nasional yang bermartabat.
Pandangan yang juga mengemuka dalam dialog itu antara lain adalah bahwa nilai-nilai kejuangan Kasimo yang telah ia baktikan, baik pada masa merebut kemerdekaan maupun pada era kemerdekaan, merupakan satu rangkuman nilai yang sangat relevan untuk diteladani dalam rangka membangun Indonesia yang maju, pluralis dan bebas korupsi. Karena itu usaha-usaha untuk menempatkan Kasimo sebagai pahlawan nasional harus diapresiasi sebagai bentuk komitmen untuk menjadikan nilai kejuangan para pemimpin bangsa sebagai “blue print moral” dan etika berpolitik yang bermartabat,"
Terkait usulan agar IJ Kasimo menjadi pahlawan nasional, Ketua Badan Pekerja Nasional (BPN) Forkoma PMKRI Hermawi Taslim mengatakan, seluruh persyaratan dan proses pengajuan Kasimo sebagai pahlawan nasional telah disampaikan kepada instansi berwenang. Pihak kini mengharapkan adanya respon positif.
Dialog publik hari ini, kata Hermawi Taslim, merupakan rangkaian dari empat kegiatan serupa yang dilakukan empat lokasi berbeda. Yang pertama telah diselenggarakan di Surabaya hari Minggu lalu. Dua lainnya akan diselenggarakan di Pontianak pada tanggal 29 Juli dan terakhir di Medan pada tanggal 31 Juli.
sumber : kompas.com