Mencari Anggur di Bali dan Jawa Timur

Mencari Anggur di Bali dan Jawa Timur
Di wilayah Jawa Timur ditemukan beberapa sentra anggur yang sudah cukup mapan, seperti di Probolinggo, Pasuruan, Situbondo, dan Kediri. Begitu pula di Pulau Dewata, Bali.

Andreas Setianto Widodo (53) adalah seorang petani anggur di Probolinggo. Andreas menanam anggur sejak tahun 2004. Ia memiliki dua kebun anggur, yakni di Jl A. Yani 19 Probolinggo dan Wonoasih dengan luas lahan sekitar seperempat hektar dan ditanami 250 pohon anggur.

Hasil yang diperoleh, menurutnya, cukup menjanjikan. "Petani anggur itu harus disiplin, ulet, dan tidak mudah putus asa. Karena, pohon anggur butuh perhatian, penanganan, dan perawatan istimewa agar hasilnya maksimal," kata Andreas saat dijumpai di Probolinggo, Selasa, 11/1.

Andreas tertarik menanam anggur, karena ingin terlibat mempertahankan ikon Kota Probolinggo sebagai Kota Anggur. Pada 2004, ia membeli pohon anggur dari para petani yang sudah putus asa, karena tak mampu merawat. Daripada hanya dijadikan kayu bakar, ia lantas berinisiatif membeli pohon anggur itu. Ketekunannya membuahkan hasil. Pohon anggurnya tumbuh subur dan berbuah lebat. Bahkan, buah anggurnya berkali-kali diikutkan dalam pameran. "Tapi, menanam anggur itu tidak mudah. Ada banyak kendala yang dihadapi," tegas warga Paroki Maria Bunda Karmel Probolinggo ini.

Kebun anggur milik Andreas, kini ditanami enam jenis anggur, yakni Alphonso, Red Princes, Caroline, Belgi, Cardinal, dan Malaga. Anggur yang ditanam di Probolinggo, menurut suami Kristiani Yuaningsih ini, memiliki satu keunggulan dibandingkan dengan anggur impor. Ketika dimakan, aroma anggur sangat terasa dan lebih manis, meski bentuknya lebih kecil daripada anggur impor. Sayangnya, di Probolinggo belum ada usaha fermentasi anggur. Sejauh ini baru dibuat jus anggur.

Menurut Andreas, dalam dua tahun terakhir ini, banyak petani anggur yang bergelimpangan dan menghentikan usaha karena anomali iklim. Iklim yang tak menentu dan sulit diprediksi menyebabkan pohon anggur tak berbuah. Letusan Gunung Bromo pun menjadi penyebab buah anggur menjadi mudah rontok. "Abu Bromo sebenarnya baik untuk tanaman anggur, tapi karena terlalu tebal membuat buah anggur membusuk," keluh Slamet (35), petani anggur asal Dusun Ademdoyong, Kedung Asem, Probolinggo.

Kota Bayuangga

Citra Probolinggo sebagai Kota "Bayuangga" (Bayu: angin, Angga: anggur dan mangga) memiliki potensi agribisnis yang cukup menjanjikan untuk budi daya anggur dan mangga. "Berdasarkan penelitian ilmiah kami, semua varietas anggur pada dasarnya bisa tumbuh dan berbuah di Probolinggo. Tanahnya cocok untuk tanaman anggur. Perawatan yang intensif sangat menentukan hasil yang maksimal," tegas Kepala Dinas Pertanian Kota Probolinggo, Ir Agustinus Yudha Sunantya MM (54). Kelompok-kelompok tani anggur tersebar di Kecamatan Wonoasih, Kademangan, dan Mayangan.

Varietas anggur yang paling berkembang di Probolinggo adalah Red Prince dan Cardinal atau yang dikenal dengan nama Probolinggo Super. Kedua varietas ini mencapai 60-70 persen dari keseluruhan tanaman anggur yang ada. Sementara 30-40 persen adalah varietas lainnya, seperti Belgi, Alphonso Lavalle atau yang dikenal dengan Probolinggo Biru. Varietas Red Prince (anggur merah) paling diminati para petani karena harganya cukup tinggi. Meski demikian, berbagai jenis anggur juga dikembangkan di Balai Percobaan Kebun Banjarsari, Probolinggo.

Anggur Brasil

Sementara di Blitar, Jawa Timur, Sr Patricia SSpS telah menanam Jaboticaba atau yang dikenal sebagai anggur Brasil di Slorok dan Mojorejo, Blitar sejak tahun 2009. Awalnya, ia hanya ingin menolong para karyawan di SDK Yohanes Gabriel Slorok milik Keuskupan Surabaya. "Saya ingin menolong sekolah-sekolah dan stasi yang miskin, gaji karyawan di bawah standar, dan gedung sudah tidak memadai lagi," kisahnya saat ditemui di Gedung Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Cut Meutia, Jakarta Pusat, Selasa, 11/1.

Sr Patricia yang kini berkarya di Dana Solidaritas Antar Keuskupan (DSAK) KWI, telah menanam 2.000 pohon anggur Brasil. Anggur Brasil ini akan berbuah paling cepat setelah empat sampai lima tahun. Harga anggur Brasil sangat mahal. Di beberapa supermarket, harga anggur Brasil mencapai Rp 100 ribu per kilogram.

Anggur Pulau Dewata

Di Kabupaten Buleleng, Bali juga ditemukan sentra anggur. Kecamatan Gerokgak, Seririt, dan Banjar merupakan sentra produksi anggur di Buleleng. Selama perjalanan dari Gilimanuk hingga Singaraja, dapat dilihat kebun-kebun anggur yang tak hanya ditanam di ladang, tetapi juga di halaman-halaman rumah. Tanaman anggur bisa tumbuh dan berbuah di daerah dengan ketinggian 0-300 meter di atas permukaan laut; suhu rata-rata 25-31°C; kelembaban udara 40-80 persen; curah hujan 800 mm/tahun; tanah liat berpasir dengan pH 6,5-7.

Saat ditemui pada Kamis, 13/1, Bendahara Kelompok Tani Anggur di Umanyar, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Komang Sutama (40), sedang berkemas-kemas hendak ke kebun untuk memanen anggur. Ayah tiga putra ini memiliki kebun anggur seluas 80 are dengan 700 pohon anggur varietas Vitis vinivera atau Vitis alphonso lovalle atau yang dikenal sebagai anggur Bali. Setiap kali panen, ia menghasilkan 20 ton anggur dengan warna anggur yang sudah ungu kehitaman, rasanya manis masam.

Anggur Bali dengan nama ilmiah Vitis vinifera L. var. Alphonso Lavallee ini oleh orang Portugal disebut Alfredo. Di Australia dikenal dengan nama Ribier. Jenis anggur yang berwarna ungu kehitaman ini dapat dimanfaatkan sebagai buah segar atau buah meja (table grapes) ataupun wine (wine grapes).


Sebelum ditanam, bibit anggur Brasil diberkati oleh seorang pastor di Blitar, Jawa Timur. [Dok Sr Patricia SSpS]

Komang mengeluhkan soal harga anggur yang sedang anjlok. Di tingkat petani anggur, pengepul hanya memberi harga Rp 1.500-2.000 /kg. "Saat ini banyak petani yang menebang pohon anggurnya. Mereka ingin beralih ke tanaman padi. Tanaman anggur tidak menjanjikan. Hasilnya tak tampak, tapi biaya perawatannya mahal," tegas Komang dengan logat khas Bali.

Sementara anggur di Desa Banyupoh, Gerokgak, sedikit lebih manis daripada anggur di Umanyar. Made Mangka (50) mengutarakan bahwa cara perawatan sangat menentukan kualitas buah anggur yang dihasilkan. Sama seperti petani anggur lainnya di Gerokgak, Seririt, dan Banjar, ia juga mengeluhkan soal harga anggur di tingkat petani yang sangat murah. "Saat musim panen tiba, harga anggur jadi murah. Banyak anggur yang dibiarkan busuk di pohon karena tidak ada yang beli," tutur Made Mangka yang memiliki sekitar 50 pohon anggur.

Melihat potensi yang ada, gagasan untuk berswasembada anggur Misa mungkin bisa segera terwujud. Blitar, Probolinggo, dan Buleleng telah membuktikan bahwa anggur bisa ditanam di daerah tropis seperti Indonesia. Dan, gagasan untuk berswasembada anggur Misa bukanlah mimpi. Mungkin lima atau sepuluh tahun ke depan, anggur Misa yang menjadi lambang Darah Kristus dapat diproduksi dan mengalir di Indonesia.

Y. Prayogo,
Laporan: Johannes Sutanto de Britto
(hidupkatolik.com)

 

 

[HIDUP/Johannes Sutanto de Britto dan HIDUP/A. Nendro Saputro]
Andreas Setianto Widodo dan Sr Patricia SSpS
0
Your rating: None

Comments

Mimpi Swasembada

Mimpi Swasembada

Bangsa Belanda yang membangun koloni di Jawa, juga pernah memimpikan suatu saat akan berswasembada anggur (wine). Maka, mereka pun mendatangkan bermacam benih anggur.

Orang-orang Belanda ini mencoba menanam anggur di Batavia (Jakarta), Yogya (termasuk Muntilan), Semarang (termasuk Ambarawa), dan Surabaya (termasuk Pasuruan dan Probolinggo). Ternyata, yang berhasil baik di kawasan Pasuruan dan Probolinggo (Jawa Timur), yang saat ini masuk Keuskupan Malang. Di Desa Banjarsari, Kecamatan Tongas, Probolinggo, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda membangun kebun koleksi dan penelitian tanaman anggur, yang sekarang berada di bawah Puslitbang Hortikultura, Kementerian Pertanian.

Salah satu jenis anggur yang perkembangannya cukup bagus adalah spesies Vitis vinivera, kultivar Alphonse lavallee. Kultivar anggur wine ini pertama kali didaftarkan di Orleans, Perancis, tahun 1860. Kemudian kultivar ini diintroduksi ke beberapa negara, termasuk dibawa Belanda ke Jawa pada awal 1900-an. Dari kultivar Alphonse lavallee di Kebun Koleksi Banjarsari inilah kemudian Menteri Pertanian RI melepasnya menjadi Varietas Probolinggo 81 (SK Mentan No 856/Kpts/TP 240/12/1985); dan Varietas Bali (SK Mentan No 857/Kpts/TP 240/12/1985).

Aga Red Hatten Wines

Pelepasan dua varietas anggur oleh Menteri Pertanian pada 1985 ini, telah mendorong pertumbuhan budidaya anggur di Pasuruan dan Probolinggo serta di Buleleng (Bali). Di Buleleng, sentra anggur Bali terkonsentrasi di Kecamatan Seririt dan Garogak. Sayangnya, pertumbuhan sentra anggur di tiga kabupaten ini tidak disertai dengan manajemen pasca panen, dan pemasaran yang memadai. Umur panen dua varietas anggur turunan Alphonse lavallee ini, paling sedikit 110 hari sejak pangkas. Namun, para pedagang biasa memanen anggur kurang dari 100 hari sejak pangkas hingga rasanya masam.

Anggur tergolong sebagai buah non-klimetarik, yang hanya bisa masak di pohon (tidak bisa diperam). Maka, pemetikan pada umur 110 - 115 hari semenjak pangkas mutlak dilakukan agar rasa buah manis. Di kawasan tropis, anggur punya kelebihan karena bisa dipanen lebih dari satu kali dalam setahun, namun perlu pemangkasan daun. Sedangkan di kawasan gurun dan sub tropis, anggur hanya bisa dipanen sekali dalam setahun.

Panen lebih awal yang mengakibatkan anggur Probolinggo 81 masam, telah membuat kapok konsumen. Sentra anggur di Pasuruan dan Probolinggo lalu surut dan nyaris punah. Sementara di Buleleng terus berkembang, karena tahun 1990-an, I.B. Rai Budarsa mendirikan Hatten Wines di Sanur, Bali. Produk Hatten Wines adalah AGA Red, yang berasal dari anggur Bali hasil budidaya rakyat di Buleleng. Maka, impian para "Toean Belanda" tentang wine tropis itu kesampaian.

Dari tahun 7.000 SM

Wine atau minuman beralkohol dari buah anggur, telah dikenal umat manusia sejak sekitar tahun 7.000 SM. Awalnya, hasil penelitian arkeologis menunjukkan bahwa wine pertama dibuat di Mesopotamia (lembah Sungai Trigris/Euphrat), sekitar tahun 6.000 SM. Penelitian mutakhir menunjukkan wine sudah dibuat di daratan China tahun 7.000 SM, meskipun dengan campuran beras. Wine tercipta dari buah anggur yang dihancurkan, karena proses fermentasi oleh kapang (jamur) Saccharomyces cerevisiae yang ada pada kulit di bagian pangkal buah anggur, yang kemudian berhasil diisolasi. Saat ini, penghasil wine utama dunia adalah Perancis dan Italia, dengan hasil sekitar lima juta ton per tahun.

Menyusul kemudian Spanyol, AS, dan Argentina. Wine tropis tumbuh antara lain di Kenya, Kolombia, Brasil, India, Thailand, dan Indonesia (Bali). Kelebihan anggur tropis, panennya bisa diatur sepanjang tahun melalui teknik pemangkasan. Tidak semua kawasan tropis bisa membudidayakan anggur untuk wine. Di Indonesia, anggur hanya bisa tumbuh optimal di: 1 Keuskupan Surabaya (Tuban sampai Gresik), 2 Keuskupan Malang (Pasuruan, Probolinggo, dan Situbondo); 3 Keuskupan Denpasar (Buleleng, Bangli, dan Karangasem); 4 Keuskupan Weetebula (Pantai Utara Sumba); 5 Keuskupan Ruteng, 6 Ende, 7 Maumere, dan 8 Larantuka (Pantai Utara Flores, Adonara, Solor, dan Lembata); 9 Keuskupan Kupang, dan 10 Atambua (Pantai utara Timor Barat).

Keuskupan lain tidak mungkin membudidayakan anggur dengan hasil optimal, karena faktor kelembaban dan suhu udara, bukan karena faktor tanah. Dari 10 keuskupan yang berpotensi mengembangkan anggur, saat ini yang sudah terbukti ada kebun anggur rakyat adalah Keuskupan Malang (Pasuruan, Probolinggo), dan Keuskupan Denpasar (Buleleng). Di Keuskupan Denpasar, malah sudah ada winery. Yang masih menjadi kendala, di Indonesia belum ada areal kebun anggur yang bisa memenuhi kebutuhan pabrik wine.

F. Rahardi
(hidupkatolik.com)

[HIDUP/Johanes Sutanto de Britto]
Petani Anggur di Probolinggo, Jawa Timur.

 


Catholic Church of St. William the Hermit, Cathedral of Diocese of Laoag, Philippines
(FB : catholic church)

Catholic Church of Our Lady Queen of the World, Sungai Durian, Diocese of Sintang, West Borneo
(FB : catholic church)

Mari kita mendukung Paus Fransiskus dengan banyak berdoa Rosari, sebab saat ini Sri Paus tengah menanggung Salib karena banyak orang hendak menyudutkan beliau dengan menulis hal-hal yang menyesatkan dan ingin merusak kesatuan umat beriman di bawah kepemimpinan Bapa Suci, Wakil Kristus di dunia. Semoga Tuhan mengasihani Paus Fransiskus dan Roh Kudus melindungi seluruh umat beriman.
(FB : Sherley H. Mandelli )

 


 

Mgr Subianto tahbiskan gereja tujuh gunungan atap yang pernah bermasalah. Karena rahmat Kristus, cinta kasih Allah, berkat karunia Roh Kudus, dan bantuan umat beriman di tempat lain, umat beriman Cikampek membangun gereja, bagaikan di padang gurun.
(courtesy :  " penakatolik com")

------------------------------------------------

Kita sedang menggalang dana untuk pembagunan rumah HIV St. Clare Hospice, Lamsai, Lamluka – Thailand Romo Alf Gorky OFM
bagi rekan2 yg ingin membantu ada rekening di bawah ini dengan berita " Thailand "
untuk menghindari penipuan yang di lakukan oleh admin fb gua maria indonesia bisa di cek langsung ke Romo nya bisa dengan emial , whats Up atau "line"
terima kasih