Menulis Itu Gampang : Rumus 5W + 1 H

Aurelius's picture

Menulis Itu Gampang : Rumus 5W + 1 H

Begitu banyak jenis tulisan kalau kita mau menggolong-golongkannya. Ada fiksi dan nonfiksi. Ada berita hardnews dan analisa. Ada pula biografi, esai, artikel, skrip radio dan teve, editorial, weblog, surat cinta dan segudang lainnya. Jangan lupa, ada yang berkaitan dengan bisnis, seperti surat penawaran, minutes meeting, dan ribuan jenis business letter.

Lupakan dulu kategorisasi yang memusingkan kepala. Karena sebagian besar jenis tulisan bisa dikatakan baik dan benar bila memenuhi rumus baku yang sama. Yakni 5W + 1H. Itulah rumus sakti yang menjadi pegangan saya ketika menjadi jurnalis di Bisnis Indonesia, majalah PROSPEK dan terakhir di majalah SWA (ya, profesi awal saya adalah jurnalis, kurang lebih lima tahun saya menjalaninya dengan penuh suka cita).

  Rumus 5W + 1H

Rumus macam apa itu? Sederhana sekali:

W1 = What
W2 = Who
W3 = When
W4 = Where
W5 = Why
H = How

WHAT adalah apa yang akan kita tulis. Tema apa yang ingin kita ungkapkan. Hal apa yang ingin kita tuangkan dalam tulisan. What ini bisa apa saja. Bisa soal “Lumpur Lapindo yang tidak selesai-selesai”, “Situs porno diharamkan dan akan diblokir Pemerintah”, “Bagaimana bisa menjadi kaya, sukses sekaligus mulia?” atau topik yang sedang hot di dunia gosip: “Apakah anak kandung Mayangsari juga anak kandung Bambang Tri?”.

What yang kita tentukan ini akan menjadi dasar untuk 4W lainnya. Mari kita ambil topik mengenai Mayangsari saja. Mumpung masih hangat.

WHO adalah siapa tokoh yang menjadi tokoh utama di WHAT. Dalam studi kasus ini, who-nya minimal bisa tiga tokoh: Mayangsari, Bambang Trihatmodjo, dan sang anak yang baru berusia dua tahun: Khirani Siti Hartina Trihatmodjo. Yang pertama dan kedua sudah amat terkenal. Sosok mereka sudah tertulis di mana-mana.

Meski Who is Mayangsari sudah banyak yang tahu, masih banyak sisi lain yang menarik untuk dieksplorasi. Bahkan kebungkamannya mengenai tes DNA anaknya, menjadikan sosoknya makin layak tulis, sampai-sampai bagaimana ia merayakan ulang tahun anaknya secara diam-diam dan bagaimana ia menjenguk ibunya di rumah sakit dijadikan bahan pemberitaan. Suasananya hati Mayangsari digali dengan baik sehingga makin menegaskan sosoknya dalam menghadapi isu anak kandungnya.

Buat kita, yang tidak perlu jadi wartawan untuk bisa menulis sebaik mereka, Who harus menjadi bagian yang berkaitan dengan What. Kalau kita ketemu Who yang tidak dikenal target pembaca kita, maka kita harus mengupasnya dengan baik sehingga jelas keterkaitannya dengan What.

WHEN adalah waktu kejadian WHAT. Ini yang sering diabaikan oleh banyak penulis pemula. Kapan kejadiannya akan memberi tambahan informasi dan imajinasi pembacanya.

WHERE adalah tempat kejadian WHAT. Meski kelihatannya sepele, tempat kejadian ini punya makna. Ketika Jose Mourinho berkunjung ke Milan tiga hari lalu misalnya, segera merebak isu ia mau pindah ke Inter Milan. Coba kalau ia perginya ke Bali, kemungkinan besar tak akan ada isu itu.

WHY adalah mengapa terjadi WHAT. Ini yang paling menarik karena bisa dikupas dari berbagai sudut. “Permintaan tes DNA keluarga mantan presiden Soeharto terhadap anak Mayangsari” bisa dikupas dari sisi hukum, keluarga maupun pribadi. Bahkan kalau mau diseret jauh hingga ke dunia mistis, misalnya minta diteropong oleh ahli nujum.

HOW adalah bagaimana WHAT terjadi, bagaimana prosesnya, lika-likunya, dan sejenisnya.

Yang jelas, dengan 5W+1H, tulisan kita dari segi kelengkapan informasi – sekali lagi: kelengkapan informasi — tidak akan mengecewakan pembaca kita. Kalau ada yang kecewa itu biasanya karena disebabkan oleh kekurangtepatan kita mengungkap WHY dan HOW-nya di mata pembaca.

Jangan salah faham: rumus ini bukan hanya untuk nulis artikel, esai atau tulisan serius lain. Bahkan surat lamaran kerja, undangan meeting, surat cinta bahkan diskusi pendek-pendek di berbagai milis, rumus ini amat penting untuk menghindari kesalahpahaman dan kekuranglengkapan informasi.

Cukupkah berbekal rumus baku di atas? Tidak. Bagi mereka yang ingin menulis dan mendapat respon pembacanya, ada satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya dari rumus 5W+1H. Yakni “Daya Tarik Tulisan”. Nanti akan dibahas dalam tulisan berikutnya.

 

nukmanluthfie.com

3
Your rating: None Average: 3 (11 votes)

Comments

Seni Menulis : Piramida Terbalik dan 5W + 1H

Seni Menulis : Piramida Terbalik dan 5W + 1H

Mengapa kedua hal ini disebut sebagai dasar menulis bagi wartawan. Kedua teknik ini juga bisa, dan memang efektif, dipakai oleh penulis non-wartawan, termasuk bloger.

Salah satu ciri khas tulisan jurnalistik, seperti berita di suratkabar, adalah padat dan informatif, bukan bertele-tele apalagi berputar-putar. Sebab itulah dibuat formula “piramida terbalik” dan rumus 5W+1H; dengan begitu pembaca bisa memahami tulisan dengan lebih mudah.

menulis itu [bisa] mudah; blog berita; jarar siahaan

Tapi jangan mengira bahwa setiap wartawan otomatis sudah menguasai kedua teknik ini. Faktanya, banyak wartawan — baik yang bertugas meliput di lapangan [reporter] maupun tukang edit di kantor [redaktur] — yang tidak tahu apa itu piramida terbalik dan 5W+1H. Untuk membuktikannya, setelah membaca artikel ini, silakan buka koran-koran lokal di daerahmu dan lihatlah sendiri.

Piramida terbalik
Artikel berbentuk berita memiliki struktur unik: Inti informasi ditulis pada alinea awal [disebut sebagai "lead" atau "teras berita"; biasanya satu hingga dua paragraf], data-data penting menyusul pada alinea-alinea selanjutnya, lalu penjelasan tambahan, dan diakhiri dengan informasi lain yang bukan bersifat informasi utama. Inilah yang disebut sebagai piramida terbalik.

Bagi pembaca sebuah artikel, piramida terbalik memudahkannya menangkap inti cerita, sebab informasi yang paling pokok langsung dibeberkan sejak alinea-alinea awal.

Sementara bagi redaktur di meja redaksi, piramida terbalik juga memberi keuntungan. Yaitu ketika sebuah artikel harus diperpendek karena kolom terbatas sementara waktu [deadline] sudah mepet, maka redaktur tinggal memotong bagian bawah. Kalimat-kalimat yang dibuang itu tidak akan mengurangi makna artikel, asalkan ditulis dalam bentuk piramida terbalik.

5W+1H
Suatu ketika aku iseng-iseng bertanya pada seorang wartawan yang sudah 20 tahun lebih menulis di sebuah koran besar, dan sering disebut sebagai wartawan senior.

“Apa yang dimaksud dengan nilai berita?” tanyaku.

“5W dan 1H,” jawabnya.

Aku kaget bukan kepalang. Karena, jawabannya salah.

5W+1H adalah unsur berita, bukan nilai berita. Sementara nilai berita adalah elemen-elemen yang membuat sebuah peristiwa atau percakapan layak disebut sebagai berita — hal ini akan kutulis pada kesempatan lain. Sekarang aku hanya ingin menulis soal unsur berita 5W+1H.

Itu adalah singkatan dari “what, who, when, where, why, how,” yang dalam bahasa Indonesia menjadi “apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, bagaimana.” Semua unsur inilah yang harus terkandung dalam sebuah artikel biasa atau berita biasa. Aku sengaja memakai istilah “artikel biasa” karena dalam karya tulis bentuk lain, seperti feature dan esai, tidak semua unsur 5W+1H harus dipenuhi.

Memasukkan keenam unsur ini ke dalam tulisan adalah mudah, sama saja ketika kita berbicara secara lisan dengan seseorang. Misalkan engkau baru tiba di kantor lalu bercerita pada rekanmu tentang kecelakaan yang kaulihat di jalan.

“Waduh, lo tahu nggak, tadi tuh, sekitar pukul 7 [KAPAN], dekat lampu merah Jalan SM Raja [DI MANA], ada kecelakaan langsung terjadi di depan mata gua. Satu mobil sedan nabrak motor [APA]. Sopirnya [SIAPA] nggak apa-apa, tapi yang punya motor [SIAPA] tewas di tempat. Yang salah sih si korban. Gua sempat lihat, dia nggak peduli lampu merah, malah dia tancap gas motornya. Nah, waktu menerobos lampu merah itu, mobil sedan dari arah kanan juga sedang kencang, dia ketabrak dan jatuh, kepalanya berdarah [BAGAIMANA]. Kasihan banget. Gua sempat berhentikan motor gua, lalu bantu geser motor korban. Nggak lama polisi datang. Menurut polisi, ternyata motor dia tuh lagi putus rem [MENGAPA]. Padahal tadi sempat gua kira dia sengaja ngebut.”

Cerita di atas sudah cukup jelas. Kawanmu pasti paham apa sebenarnya inti dari ceritamu. Tapi coba bayangkan apabila salah satu unsur cerita itu tidak kausebutkan, misalnya unsur DI MANA, pasti kawanmu akan bertanya-tanya, “Lo gimana sih, dari tadi asyik cerita tabrakan tapi nggak bilang di mana tempat kejadiannya.”

 

[www.blogberita.com]

Pergaulan Bebas di Kalangan Remaja

Kita lihat contoh dari W5 + H1 di dalam praktek. Pemilihan judul tulisan juga benar2 menarik minat orang untuk membaca. Tulisan ini singkat , jelas dan murni menerapkan kan dalil tsb:
 
Apakah pergaulan bebas itu?
Pergaulan bebas sering dikonotasikan dengan sesuatu yang negatif seperti seks bebas, narkoba, kehidupan malam, dan lain-lain. Memang istilah ini diadaptasi dari budaya barat dimana orang bebas untuk melakukan hal-hal diatas tanpa takut menyalahi norma-norma yang ada dalam masyarakat. Berbeda dengan budaya timur yang menganggap semua itu adalah hal tabu sehingga sering kali kita mendengar ungkapan “jauhi pergaulan bebas”.
Siapakah korban-korban yang telah terjerumus dalam pergaulan bebas?”KALANGAN REMAJA”,banyak sekali remaja-remaja indonesia yang telah mencoreng budaya indonesia atau negara kita ini.Sehingga dapat mengakibatkan rusaknya para penerus generasi kita.
Kapan itu terjadinya? “ pada saat para anak-anak laki atau perempuan mulai mengalami perubahan bentuk badan atau bisa di bilang juga memasuki frase remaja atau pemrosesan menjadi anak remaja secara perlahan seperti bentuk lekuk badan yang berubah,seperti lelaki misalnya ketika dia sudah di sunat mengalami perubahan bentuk postur tubuhnya yang semakin membesar,dan timbulnya sebuah rangsangan ketika berhadapan dengan wanita yang sama seperti itu beranjak dewasa,dan perubahan pada wanita nampak signifikan sekali seperti buah dada yang semakin membesar,pinggul yang berbentuk semakin melekuk,dll
Dimana pergaulan bebas itu berada?
Atau dimana pergaulan bebas itu terjadi?
“Pergaulan bebas itu terjadi dimana saja ,seperti di sekolah,lingkungan rumah,teman sepermainan,teman sekolah,teman kuliah,dll. Oleh karena itu perlu diwaspadai para orang tua – orang tua yang harus sigap memberi pengawasan kepada anaknya,bukan hanya di area sekolah saja,ataupun di area kampus,tetapi kapanpun dan dimanapun,peran orangtua itu sangat penting dalam memperhatikan pergaulan anak-anaknya ketika beranjak dewasa.
Mengapa pergaulan bebas itu sangatlah penting untuk di dihindari?
“Karena bagi para anak-anak yg beranjak dewasa sangatlah rentan kepada pendiriannya,,mudah terpengaruh buruk dlm pergaulan bebas.Dan kalau tidak ada tindakan antisipasi bisa hancur penerus generasi anak muda di negeri ini untuk kedepannya.
Bagaimanakah solusinya untuk menghindari pergaulan bebas tersebut?
“cara menghindari pergaulan bebas itu tersebut di kalangan remaja adalah:
Pendidikan yang cukup,pengawasan orangtua yang tak pernah berhenti,serta jangan lupa untuk beribadah untuk mempertebal iman para anak remaja tersebut.
 
 
tulisan Novi Novia, kompasiana.com

Bahasa di Media Massa Semakin Gawat

Jakarta, Kompas - Mantan Ketua Dewan Pers Atmakusumah Astraatmadja mengakui, bahasa di media massa sudah semakin gawat. Selain dipenuhi akronim yang membingungkan masyarakat, nama rubrik media massa, terutama di televisi, juga semakin dipenuhi bahasa asing.

”Saya tidak tahu, apakah kalau menggunakan bahasa Indonesia kurang percaya diri? Tetapi, yang paling membingungkan adalah penggunaan singkatan atau akronim, termasuk dalam judul,” ungkap Atmakusumah dalam diskusi peringatan delapan tahun Forum Bahasa Media Massa (FBMM) di Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS), Jakarta, Senin (8/11). Diskusi tersebut dipandu Ketua Umum FBMM TD Asmadi.

Terkait banyaknya penggunaan akronim itu, Asmadi mengakui, tak jarang pengelola media massa menggunakan akronim buatan mereka sendiri. ”Saya pernah membaca judul di sebuah media massa ternama, yaitu ’Frustasi, Cakep Gandir’. Bingung kan? Ternyata, judul itu maksudnya adalah frustrasi, calon kepala sekolah gantung diri,” ungkapnya.

Selain persoalan akronim dan penggunaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, Atmakusumah juga memprihatinkan bahasa asing yang diindonesiakan di media massa dan di masyarakat. Pengindonesiaan itu sering kali dipaksakan, bahkan salah. ”Ada istilah grand dalam bahasa Inggris yang diubah menjadi gran. Artinya apa?” kata dia lagi.

Dalam diskusi itu, peserta yang berasal dari wartawan, editor bahasa di media massa, editor dan penulis buku, serta pemerhati bahasa mengakui, Pusat Bahasa belum efektif untuk menyosialisasikan dan mendorong penggunaan bahasa Indonesia yang baik. Bahkan, Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dikeluarkan Pusat Bahasa pun tidak berani dijadikan acuan karena lebih bernuansakan proyek.

Asmadi menambahkan, kini semestinya tidak lagi didorong pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar, tetapi yang komunikatif dan berkaidah.

(TRA)  kompas.com

Seni Menulis Biografi

Kita selalu terobsesi dengan kehidupan orang lain. Tidak terlalu mengherankan jika biografi dan autobiografi selalu berada di antara karya-karya kesusastraan yang laris manis. Biografi memikat pembaca karena pembaca ingin memahami seseorang atau suatu kejadian dengan lebih mendalam. Bisakah penulis "masuk" ke dalam orang lain dan mengungkapkan sesuatu yang baru?

Batasan-batasan dalam menulis biografi adalah peristiwanya telah ditentukan serta karakter-karakternya sudah jelas. Akan tetapi, penulis yang telah berpengalaman pun tertantang untuk menangkap peristiwa-peristiwa dan membuat karakter-karakter yang menarik dari tokoh nyata. Semakin terkenal sebuah peristiwa atau seorang tokoh, barangkali semakin sulit mencari sesuatu yang baru untuk diceritakan kepada para pembaca.

Ada bermacam-macam jenis biografi dan autobiografi. Biografi kritis mencoba menjawab apa yang mendorong subjek bertindak sedemikian rupa. Biografi akademis adalah catatan tentang peristiwa-peristiwa yang mendetail dan faktual tanpa kritik khusus atau kritik psikoanalisis.

Kami menyarankan Anda memulai tulisan biografi Anda dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana:

  • Apa tujuan dari karya Anda?
  • Apakah Anda ingin menambahkan catatan sejarahnya?
  • Apakah Anda ingin mempelajari motivasi dan psikologi?
  • Apakah Anda ingin mencari uang cepat dengan cara mencetak secepat mungkin buku tentang ketenaran atau keburukan seseorang?

Setelah Anda menentukan tujuan Anda menulis biografi, fokuslah pada tema karya Anda. Kebanyakan manusia memunyai kehidupan yang ditandai dengan beberapa tema -- setiap tema ditandai oleh suatu momen penentu yang memaksa seseorang untuk mengambil keputusan tentang sesuatu. Jika Anda berencana untuk menulis biografi lengkap, susunlah karya Anda agar dapat merefleksikan momen-momen penentu ini.

Penelitian

Sebelum menuliskan satu kata pun dalam naskah biografi, lakukanlah penelitian lagi dan lagi! Ketahui subjek Anda lebih baik daripada apa yang Anda ketahui tentang diri Anda sendiri. Jika subjeknya adalah Anda sendiri, galilah tentang diri Anda dengan lebih berani lagi. Carilah artikel, catatan pribadi, dan wawancara-wawancara pribadi. Selain itu, gunakanlah teknologi modern untuk mengumpulkan fakta-fakta. Beberapa penulis biografi menyewa perusahaan penelitian untuk menggali informasi. Jika Anda menggunakan para peneliti yang terlatih ini, tentu saja Anda dapat menghemat banyak waktu, tetapi Anda akan mengeluarkan uang yang banyak juga.

Keanekaragaman dokumen yang Anda temukan berbeda waktu dan tempatnya. Dokumen pemerintah kadang-kadang dibatasi sampai beberapa waktu tertentu setelah kematian seseorang. Anda bisa meminta bantuan orang lain mengenai subjek Anda agar Anda dapat mendapatkan informasi dengan lebih mudah. Anggota keluarga mungkin memunyai catatan yang menyelamatkan Anda dari perdebatan dengan agen pemerintah.

Tidak ada yang bisa mengalahkan tulisan-tulisan pribadi subjek Anda. Jika Anda memunyai akses untuk mendapatkan buku harian dan surat-suratnya, dokumen-dokumen ini bisa menjadi dokumen-dokumen terpenting dalam penulisan biografi. Semakin terkenal, semakin banyak catatan-catatan harian yang diterbitkan tanpa komentar atau analisis.

Susunan

Ketika penelitian Anda sudah cukup lengkap dan Anda siap untuk memulai garis besar, pikirkanlah cara terbaik untuk menyajikan tema kepada pembaca. Tidak semua biografi ditulis dengan susunan yang kronologis, seperti yang akan kita bahas nanti. Walaupun bentuk penulisan ini bergantung pada fakta, bukan berarti kreativitas dianggap sebagai hal yang remeh. Walaupun demikian, garis besar dan garis waktu tetap Anda perlukan sebelum menulis agar Anda tidak membuat kesalahan dalam naskah tersebut.

Gaya Bahasa

Setiap penulis memunyai gaya bahasa pribadi, terutama untuk menulis buku memoar. Ada perbedaan besar antara menulis tentang diri sendiri dan menulis tentang orang lain. Saat menulis karya autobiografi, Anda akan merasa lebih nyaman menulis humor, mempermalukan atau merendahkan diri sendiri.

Gaya bahasa yang lebih santai akan disukai lebih banyak pembaca, kecuali Anda menulis tentang biografi akademis. Semakin santai bahasa sebuah karya biografis, semakin mudah karya itu dimengerti. Akan tetapi, ada tokoh-tokoh sejarah yang tidak cocok dengan gaya bahasa santai. Jika Anda menulis tentang pemimpin dunia dengan nada yang santai, tulisan tersebut akan memanusiakannya, membuatnya tampak serupa dengan orang-orang lainnya.

Tip-Tip untuk Para Penulis Biografi

Entah Anda menulis kisah tentang Anda sendiri atau menceritakan kisah orang lain, ada beberapa petunjuk utama mengenai bentuk biografi bagi penulis biografi pemula. Saran-saran untuk menulis biografi yang efektif:

  1. Mulailah dengan peristiwa penentu, tanpa memerhatikan kronologisnya.
  2. Pertahankan nada dan gaya bahasa yang konsisten.
  3. Gunakan dialog atau naskah dari catatan historis jika memungkinkan.
  4. Gambarkan semua peristiwa yang berhubungan dengan protagonis Anda -- terutama jika Anda adalah protagonisnya.
  5. Hapus kejadian dan orang-orang yang tidak berhubungan dengan tema.
  6. Akhiri biografi Anda dengan momen penentu, pengakuan pribadi, atau mengulang kembali momen pembuka.

Permulaannya Tidak dari Awal

Beberapa penulis menggambarkan sebuah peristiwa dalam bab yang pendek, kemudian mereka memulai bab berikutnya dari "awal". Beberapa penulis lain menggunakan serangkaian kilas balik. Ekspresikan kreativitas Anda dan pukaulah pembaca Anda. Seringkali para penulis menganggap bahwa karya biografis perlu diceritakan dalam satu garis waktu lurus (linear). Yang perlu Anda pikirkan dengan cermat adalah susunan apa yang mengisahkan cerita tersebut dengan paling baik dan mengajarkan dengan paling efektif.

Kata-kata adalah Milik Masyarakat

Kita percaya bahwa kata-kata adalah milik masyarakat. Ketika Anda berkata atau menulis sesuatu, Anda mengungkapkan banyak tentang diri Anda. Cara Anda mengekspresikan diri Anda sendiri memperlihatkan isu-isu pendidikan, status, kebudayaan dan lebih banyak lagi. Ketika tokoh-tokoh berbicara dalam biografi, kata-kata mereka akan menolong pembaca mengerti pribadi-pribadi yang nyata ini. Jangan ciptakan dialog, walaupun beberapa kritikus menganggap dialog dalam novel biografi sebagai "interpretasi."

Tidaklah lazim jika dosen bahasa Inggris berbicara seperti pebisnis. Demikian juga seorang serdadu berbicara seperti politisi. Untuk menulis biografi yang baik, penulis perlu memotret cara seseorang mengekspresikan pandangan dan keinginan-keinginannya. Inilah mengapa penelitian memakan waktu yang lebih lama daripada penulisan.

Tulisan lebih baik mencantumkan kutipan-kutipan, karena kutipan dapat mengungkapkan banyak hal. Carilah surat, catatan pribadi, jurnal atau tempat-tempat yang pernah ditulis atau dibicarakan orang itu. Selain itu, ingatlah bahwa pidato politik adalah karya dari penulis dan penasihat, jadi jelaskan kepada pembaca bahwa pidato-pidato mereka barangkali bukan ditulis oleh mereka.

Menutup buku

Berikan pembaca penutupan yang komprehensif. Anda tidak perlu mengakhirinya dengan kematian atau perkembangan terbaru dari subjek Anda. Akan tetapi, cobalah ulangi peristiwa penting dalam kehidupannya. Barangkali gambaran adegan pembuka dalam versi yang berbeda dan ditulis dengan detail akan lebih efektif. Anda perlu Anda hindari adalah akhir yang lemah, yang membuat pembaca kecewa.

Tambahan untuk Pembaca (dan Peneliti)

Kami percaya bahwa karya biografi yang baik perlu memunyai contoh dokumen, catatan penelitian, dan foto atau gambar-gambar lainnya jika memungkinkan. Anda dapat menambahkan grafik-grafik. Selain itu, menerbitkan buku bersampul tipis yang diselipi halaman-halaman berwarna untuk foto sudah menjadi hal yang umum. Beberapa hal, terutama catatan-catatan penelitian, perlu dilampirkan. (t/Uly)

Diterjemahkan dari:

Judul asli artikel : Writing Biographies
Nama situs : Tameri.com
Penulis : C.S. Wyatt
Alamat URL : http://www.tameri.com/write/biography.html
Tanggal Akses : 25 Agustus 2010

www.sabda.org

Mahasiswa STKIP Madiun Latihan Menulis Jurnalistik

Untuk meningkatkan kemampuan pewartaan melalui jurnalisme bagi  generasi muda katolik, Komisi Komunikasi Sosial KWI  mengadakan kegiatan pelatihan jurnalistik untuk para mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) Widya Yuwana Madiun, Jawa Timur pada Senin 22 -Kamis 24 November 2010 di Kampus Perguruan Tinggi tersebut.  Kegiatan itu dibuka oleh Ketua STKIP Widya Yuwana Rm Agustinus Supriyadi Pr.  Tampil sebagai narasumber dan pembimbing tunggal Rm Agus Alfons Duka, SVD dari Komsos KWI. Dalam acara pembuka, ketua STKIP menegaskan bahwa para mahasiswa ini adalah potensi-potensi ulung dalam mewartakan Kerajaan Allah untuk masa depan. Dalam dunia jaman sekarang, dimana pengaruh media komunikasi sudah semakin menyebar ke semua pelosok, jurnalisme merupakan cara  terbaik untuk mewartakan kebaikan, keadilan dan kebenaran. Olehkarena itu, tandas Romo Agus Supriyadi, para mahasiswa perlu mengikuti secara sungguh-sungguh kegiatan ini karena mewartakan kerjaan Allah adalah menyebarkan berita (jurnalistik).

Tidak seperti pelatihan -pelatihan sebelumnya, kegiatan kali ini lebih merupakan pelatihan praktis. Setiap mahasiswa  dilatih untuk menulis berita straight news dan feature. Setelah diberikan teori dan latihan kertas kerja, semua mahasiswa dibagi dalam 14 kelompok untuk memebuagt peliputan di sekitar kota Madiun.

Di akhir kegiatan ini, para mahasiswa yang adalah jurnalis muda menghasilkan  14 buletin komunitas yang masing-masingnya berjumlah 6 halaman. Para mahasiswa merasa gembira karena kegiatan yang berlangsung selama tiga hari itu akhirnya memberikan hasil  yang memuaskan semua pihak.

  Diharapkan, kegiatan seperti ini akan berlanjut di kemudia hari nanti.

 

                          Oleh: Arum dan Febri

www.mirifica.net

Sisi Gelap Karl May

 

KEPENULISAN
Mengungkap Sisi Gelap Karl May

Lusiana Indriasari

Orang kulit putih datang dengan senyum manis di wajah, tetapi menyelipkan pisau tajam di pinggang serta senjata api yang siap ditembakkan. Mereka menjanjikan cinta kasih dan perdamaian, tetapi menebar kebencian dan pertumpahan darah”.

Itulah penggalan kalimat yang selalu ditulis Karl May dalam buku-bukunya yang berkisah tentang dunia Barat. Salah satu karya besarnya, antara lain, adalah buku Winnetou yang menceritakan petualangan dan persahabatan kepala suku Indian Apache Winnetou dan orang berkulit putih Old Shatterhand.

Melalui buku-bukunya, penulis asal Jerman yang hidup tahun 1842-1912 ini mampu menyihir anak-anak muda dari berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Di Indonesia, karya-karya Karl May ini sudah dibaca sejak tahun 1911 pada masa kolonial Hindia Belanda. Lalu, pada tahun 1950, buku Karl May mulai diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Buku-buku itu kemudian diterbitkan ulang secara mandiri oleh penggemar Karl May yang bergabung di Paguyuban Karl May Indonesia (PKMI).

Kisah petualangannya tidak hanya berlatar belakang di Amerika, tetapi juga negara-negara lain di kawasan Timur Tengah. Oleh Karl May, kisah petualangan itu ia akui sebagai bahwa kisah-kisah petualangan dalam bukunya merupakan pengalaman pribadinya selama menjelajahi negara-negara di dunia. Benarkah?

Di balik kesuksesan sebagai penulis terkenal, ternyata Karl May menyimpan kisah gelap dalam hidupnya. Pada tahun 1910, kisah kelam itu ia tuliskan dalam buku otobiografi yang merupakan salah satu karya terakhir Karl May sebelum meninggal tahun 1912.

Berdasarkan buku otobiografi tersebut, dibuatlah film dokumenter di Jerman dengan judul der phantasm aur sachsen atau penghayal dari saksen. Film dokumenter ini, pekan lalu (21/12) lalu, diputar oleh PKMI di Goethe Institut, Jakarta, untuk memperingati 60 tahun karya Karl May dalam edisi bahasa Indonesia.

Kepribadian ganda

Dalam film ini terungkap bahwa Karl May adalah orang dengan kepribadian ganda. Ketika kepribadian lainnya muncul, ia menjelma menjadi Old Shatterhand yang kemudian menjadi tokoh utama dalam buku-buku petualangannya di dunia Barat. Ia juga menjadi Kara Ben Nemsi yang berpetualang di negeri Timur Tengah. Dalam bukunya, ia memakai bahasa ”saya” untuk menceritakan petualangannya.

”Winnetou adalah tokoh khayalan sekaligus saudara sedarah Karl May. Ia menjadi seorang kriminal karena tidak mampu dan tidak mau memisahkan dunia nyata dengan khayalannya,” kata narator berbahasa Jerman membuka film dokumenter tersebut.

Karl May lahir 25 Februari 1842 di sebuah desa kecil bernama Saksen atau Saxony, Jerman. Ia berasal dari keluarga penenun yang sangat miskin. Dari 14 anak, hanya lima orang yang masih hidup dan tumbuh hingga dewasa, termasuk Karl May. Ia adalah anak laki-laki satu-satunya.

Karena kekurangan gizi, ia mengalami kebutaan hingga usianya empat tahun. Setelah itu, ia mampu melihat kembali yang oleh para dokter disebut sebagai kemustahilan. ”Saya adalah anak kesayangan dari kemiskinan, penderitaan, dan kesedihan, ” kata Karl May

Masa kebutaan membuat daya imajinasi Karl May berkembang di atas rata-rata. Ia mengembangkan khayalannya dari dongeng-dongeng yang diceritakan neneknya. Ketika berusia lima tahun, ia digambarkan sebagai anak yang mampu menarik perhatian anak-anak lain dengan dongeng-dongengnya.

Pada umur 14 tahun, ia dididik keras oleh ayahnya yang bertekad menjadikan Karl May sebagai orang berpendidikan. Ia diwajibkan membaca buku setiap hari hingga larut malam dan menghabiskan banyak waktu untuk belajar daripada bermain. Ia banyak mempelajari budaya, adat istiadat, dan kepercayaan suku Indian.

Terkekang

Karl May belajar bahasa Latin secara otodidak dan juga belajar bahasa Prancis dari les privat. Untuk membayar uang lesnya, ia bekerja selama 12 jam sebagai penyusun bola boling di sebuah kedai minuman.

Ia merasa terkekang oleh keadaan. Namun, buku-buku yang dibaca telah membebaskan jiwanya. Ia sempat dipenjara karena kejahatan dilakukan tanpa disadarinya. Ia berperan menjadi pencuri seperti kisah Robin Hood, menjadi dokter yang menipu tukang kain, dan mengaku menjadi salah satu kerabat keluarga kaya-raya. Peran gandanya ini telah menjebloskan Karl May ke penjara selama total delapan tahun sebelum ia mulai menulis pada usia 32 tahun.

Ketika buku petualangan dengan tokoh Winnetou dan Old Shatterhand melejit, Karl May mengakui bahwa cerita yang ditulisnya benar-benar dialaminya. Di rumahnya, ia bahkan menyimpan beberapa benda, seperti senapan perak, kulit beruang, kalung dari gigi binatang, dan lain-lain yang diakuinya diperoleh selama petualangan. Belakangan diketahui bahwa Karl May memesan barang-barang tadi untuk memenuhi imajinasinya.

Terlepas dari masa lalunya yang kelam, pesan yang dibawa Karl May melalui buku-bukunya dirasa tetap relevan sampai sekarang. Pandu Ganesha, Ketua PKMI, mengatakan, sejak abad ke-19 Karl May sudah membicarakan tentang perdamaian, cinta lingkungan, dan kemanusiaan.

 

www.kompas.com

Citizen Journalism atau Social Media

Kompasiana Baru, Citizen Journalism atau Social Media?

Tepat enam bulan di kompasiana, saya diberi hadiah oleh pengelola kompasiana, yaitu tampilan kompasiana yang baru, segar, dan tentu saja menarik atau eye catching. Enam bulan yang lalu saya memasuki kompasiana, mencoba untuk mengenal, belajar dari para penulis yang sudah ada, dan sharing, kemudian connecting dengan mereka. Sebuah pengalaman baru dalam cerita kepenulisan saya. Saya tentu saja seperti yang lain di kompasiana, banyak belajar dari blog ini. Belajar cara menulis dan belajar menerima kritik dari orang lain. Sebuah pengalaman yang tentu mengasyikkan.

Tentu saya tidak mereview seperti teman yang lain mereview perjalanan mereka dalam satu tahun. Saya mereview perjalanan saya per semester saja karena waktu satu tahun terlalu panjang dan akan banyak sekali yang tidak akan tercatat karena saya menulis lumayan di kompasiana aktif.

Selama enam bulan di sini saya menghasilkan 245 tulisan. Artinya saya menghasilkan 1,36 tulisan sehari. Jumlah yang mininal tentunya. Namun tentu ada yang membanganggakan, karena banyak dari tulisan saya tersebut menjadi headline. Saya tidak merinci satu per satu mana tulisan yang headline, tetapi saya hanya memperkirakan sekitar 30 lebih tulisan saya selama enam bulan masuk headline. Selain itu, saya juga memperoleh hadiah lomba, hal yang tidak pernah saya temui selama saya menulis.

Tentu sangat banyak kesan positif saya terhadap kompasiana selama enam bulan berada di sini. Namun tentu juga ada kesan negatifnya. Saya berpendapat ada baiknya kita menonjolkan hal-hal yang positif di kompasiana ini, sementara hal-hal negatif kita bagi untuk saling memperbaiki.

Semula, bagi saya kompasiana adalah media jurnalis. Artinya kompasiana menjadi jurnalis independen, yang berbeda dengan mainstream media kebanyakan sehingga cocok untuk disebut sebagai citizen journalism. Istilah ini tentu tidak asing bagi warga kompasiana, namun masih banyak yang tidak mengerti apa ensesi citizen jornalism ini. Ketidaktahuan ini merupakan sesuatu yang wajar bahkan saya sendiri sampai saat ini masih bertanya-tanya dalam hati, apakah saya telah bertindak sebagai citizen journalist di kompasiana ini.

Tentu ada baiknya kita mengenal apa esensi citizen journalism tersebut yang menurut wikipedia, “is the concept of members of the public “playing an active role in the process of collecting, reporting, analyzing and disseminating news and information,”.

Dari pengertian ini paling tidak kita mendapatkan beberapa hal penting citizen journalism tersebut berikut ini:

1. Collecting News and Information

2. Reporting News and Information

3. Analyzing News and Information

4. Disseminating News and Information

Selain itu, citizen journalism menurut Mark Glaser, the idea behind citizen journalism is that people without professional journalism training can use the tools of modern technology and the global distribution of the Internet to create, augment or fact-check media on their own or in collaboration with others. For example, you might write about a city council meeting on your blog or in an online forum. Or you could fact-check a newspaper article from the mainstream media and point out factual errors or bias on your blog.

Terdapat beberapa hal penting dari hal tersebut di atas, yaitu:

1. Orang yang melaporkan kejadian atau peristiwa tidak memiliki kepelatihan sebagai jurnlis profesional.

2. Penggunaan media internet sebagai sumber untuk mengumpulkan berita untuk selanjutnya dilaporkan, dianalisis dan disebar.

3. Mencek kebenaran berita mainstream media dan menunjukkan kesalahan atau bias yang ada di berita mainstream media tersebut.

4. Sarana citizen journalism salah satunya adalah blog.

Bila kita tengok ke dalam kompasiana, sudahkan esensi citizen journalism tersebut dilakukan? Bila kita analisis konten yang ada di kompasiana tentu sangat sulit dan membutuhkan waktu yang sangat lama. Namun, secara garis besar, sebagian esensi citizen journalism tersebut memang ada di kompasiana. Saya sendiri menulis di kompasiana memang lebih bersifat reportase yang merupakan inti citizen journalism. Namun ukuran yang saya buat bagi diri saya itu tentu akan lain hasilnya jika orang lain menilainya.

Dengan tampilan baru kompasiana, tentu saya berharap akan lebih banyak penekanan konten kompasiana kepada citizen journalism tersebut. Artinya reportase warga kompasiana terhadap peristiwa yang ada di sekitarnya lebih mendapatkan prioritas. Namun belajar dari konten yang selama ini ada di kompasiana, untuk mewujudkan hal tersebut bukanalah hal yang mudah. Bahkan selama ini reportase yang ada di kompasiana selama ini masih bisa kita pertanyakan sampai sejauh mana citizen journalism sudah dipraktikkan dalam konten tersebut. Belum lagi kita melihat, sebegitu banyaknya channel tulisan di kompasiana, tidak menutupi banyak dari konten tersebut lebih kepada keinginan untuk menuliskan hal-hal pribadi dan persahabatan. Apalagi kalau kita lihat rubrik fiksi yang jelas-jelas jauh sekali dari konten citizen journalism tersebut.

Apalagi dari luar kompasiana sendiri sedang hangatnya dibicarakan social media yang sangat populer di tahun yang lalu dan akan semakin populer beberapa tahun ke depan. Daya tarik social media ini tentu patut juga dipertimbangkan kompasiana karena social media menarik orang lebih banyak karena daya tarik sosial dan interaksi sesama pengguna social media tersebut. Kita bisa belajar dari keberhasilan Facebook yang bisa menghimpun orang seluruh dunia, 500 juta lebih orang dalam satu situs dan saling berinteraksi. Tentu kalau hanya berpatokan kepada citizen journalism, kompasiana sepertinya tidak begitu menarik bagi sebagian orang, dan tetap menarik bagi sebagian yang lainnya.

Mungkin itulah pentingnya ada mixing antara citizen journalism dengan social media tersebut dilakukan oleh kompasiana. Semacam citizen journalism yang tidak kaku dalam menerapkan citizen journalism tersebut dengan tetap menonjolkan citizen journalism sebagai platform utamanya. Kalau hanya social media saya rasa kompasiana jauh juga dari hal ini karena sebagian besar social media yang maju tidak menekankan pada tulisan, tetapi lebih kepada interaksi yang diwujudkan dalam beberapa update status dalam karakter yang dibatasi. Sementara kompasiana tidak membatasi warganya untuk melakukan update statusnya dalam beberapa karakter tertentu, bahkan mendorong warganya untuk menulis (mengupdate statusnya) sesering dan sebanyak mungkin karakaternya. Demikian juga kalau kita anggap kompasiana hanya sebagai citizen journalism, saya rasa kompasiana sebagai blog dengan banyak anggota akan kesulitan mengatur anggotanya untuk melakukan reportase, dan tentu saja agak kurang menarik karena minim interaksi sosial dan menutup munculnya tulisan lain dari channel fiksi atau opini.

Untuk mendukung platform utama kompasiana sebagai citizen journalism tersebut, dengan tidak mengabaikan kompasiana sebagai social media, saya rasa penekanan pada headline menjadi penting. Menurut saya, sebagian besar headline mestilah merupakan praktik dari citizen journalism tersebut. Hal ini tentu tidak menutup kemungkinan bagi channel tulisan lain seperti fiksi atau opini menjadi headline. Reportase yang dijadikan headline itu pun haruslah mencakup ciri penting citizen journalism tersebut seperti diuraikan di atas.

Perkawinan silang antara citizen journalism dengan social media ini sara rasa perlu disebarluaskan agar warga kompasiana tidak lagi menanyakan kompasiana apa sih sebenarnya. Apalagi momennya sangat tepat, tampilan baru kompasiana. Tentu saya berharap banyak tidak hanya tampilan yang dipoles, tetapi isinya juga ditingkatkan kualitasnya. Kompasiana sebagai citizen journalism memungkinkan penggunanya untuk menjadi citizen journalist sekaligus menjalin perteman yang intens, akrab, dan kuat dengan pengguna kompasiana lainnya layaknya sebuah social media modern seperti Facebook.

Salam Kompasiana

Oleh : Kimi Raikko

www.kompasiana.com

 

herrissa's picture

Kapan Sebaiknya Anda Menulis?

Kapan Sebaiknya Anda Menulis?


Tukang Somay Pink yang Kreatif

Buat anda yang masih baru dalam dunia tulis menulis, pasti anda akan dihadapkan pada kebingungan kapan sebaiknya menulis. Anda seringkali bingung kapan enaknya mulai menulis. Sebab anda seringkali dibuat bingung untuk memulai menulis. Sama bingungnya ketika saya melihat tukang somay pink yang kreatif itu.

Bagi saya menulis dilakukan kapan saja, dan dimana saja. Bila ada godaan datang untuk menulis ya saya menulis. Dari situlah biasanya akan muncul ide atau inspirasi. Jadi inspirasi jangan ditunggu tapi digunakan saja. Ibarat kita belajar sepeda, ya kayuh saja. Persoalan nanti kita jatuh itu biasa. Namanya juga baru belajar. Kalau sudah lancar, kapanpun, dan dimanapun anda akan mengayuh sepeda dengan kencang. Anda pun akan bangga kepada banyak orang karena sudah mampu bersepeda dengan lancar.

Begitupun dengan menulis. Seringkali alam bawah sadar kita dihantui oleh kegagalan. Takut tulisan tak terbaca orang lain atau dianggap buruk oleh orang lain. Kita menjadi tak percaya diri. Padahal tulisan kita tak kalah mutunya dengan pepih nugraha atau juga iskandar zulkarnaen, admin kompasiana yang ngetop itu. Persoalannya adalah mampukah kita mentertawakan diri kita sendiri? Seperti tukang somay berpakai serba pink, dengan sepeda berwarna pink pula. Mungkin kita harus kreatif seperti tukang somay pink itu. Suka, dan duka dalam hidup bisa kita tuliskan.

Bila anda merasa  kurang pede, dan terus menerus kurang pede, bergaullah dengan orang yang sudah pede atau berbadan gede kayak omjay. Dengan begitu perasaan kurang pede itu akan dengan sendirinya hilang dari alam bawah sadar kita. Anda pun akan senang karena berteman dengan seorang guru besar eh salah, maksudnya guru yang berbadan besar yang selalu memotivasi orang lain untuk menulis. Memberi pencerahan bahwa menulis adalah sebuah kebutuhan yang dibutuhkan oleh setiap orang. Semua orang bisa menulis, asalkan memiliki kemauan yang tinggi untuk berlatih menulis.

Kapan sebaiknya anda menulis? Kapan saja. Kapan saja anda sempat dan mau untuk menulis. Bisa di waktu pagi hari ketika bangun tidur atau siang hari disaat istirahat kerja. Bisa juga malam hari seperti yang saya lakukan saat ini. Terserah saja, atur saja menurut anda. Semua waktu bisa enak digunakan untuk menulis, bahkan menulis sebelum tidurpun akan menjadi kenikmatan tersendiri kalau itu sudah menjadi kebiasaan.

Pertanyaan berikutya seringkali muncul ketika anda sudah selesai menulis di program pengolah kata. Menulis atau memposting tulisan di blog pribadi atau menulis di blog keroyokan macam kompasiana? Terus terang ini menjadi dilematis buat saya yang belum menjadi selebritis, hehehehe.

Bila anda merasa bahwa blog anda masih sunyi sepi, saya sarankan anda menulis di kompasiana. Sebab, bila anda menulis di kompasiana akan terasa berbeda. Terjadi keriuhan laksana pasar. Terjadi keramaian seperti di pasar tradisional. Tulisan sejelek apapun menurut anda pastilah ada yang memberi komentar. Ada yang memang benar-benar membaca tulisan anda, atau ada juga yang tak membaca tetapi langsung berkomentar. Pokoknya berprasangka baik saja.

Buat anda yang baru atau newbie di kompasiana, mendapatkan komentar yang banyak dari para kompasianer tentu merupakan kebanggaan tersendiri. Apalagi bila ternyata tulisan anda masuk headline kompasiana. Tentu membuat anda semakin termotivasi untuk menulis di kompasiana yang semakin cantik saja.

Wajah baru Kompasiana di tahun 2011 memang membuat kita semakin suka berlama-lama. Kita semakin asyik mencoba bagian-bagian penting di blog keroyokan ini. Kita pun menjadi tahu apa saja yang disukai pembaca. Namun usul saya, jangan anda kebawa arus. Ikuti saja kata hatimu. Kalau banyak orang menulis tentang Gayus, kamu menulis saja yang melawan arus. Pasti deh ada orang yang akan seirama dengan dirimu.

Beritamu adalah beritamu. Tidaklah sama dengan berita yang kamu “copas” di media arus utama. Justru seharusnya kamulah yang menimbulkan keriuhan di media arus utama. Kompasiana adalah tempat dimana media arus utama akhirnya mengambil berita. Sebab banyak hal yang tak tergapai dari media arus utama. Misalnya tentang potensi daerahmu yang luar biasa. Ceritakan saja keunggulan dan kelemahannya. Tentu akan menarik dan membuat orang akan datang berbondong-bondong ke daerahmu itu. Atau bisa saja kamu kirimkan foto unik seperi foto tukang somay di atas. Tukang somay yang serba pink, dan mengundang tawa. Foto ini saya dapatkan dari teman facebook saya yang tak mau namanya dituliskan.

Teman-teman pembaca yang omjay banggakan. Menulis di pagi hari akan berbeda rasanya dengan menulis di siang hari. Menulis di sore hari akan berbeda rasanya dengan menulis di malam hari. Suasana hati tentu juga akan berpengaruh dalam menulis. Bila hatimu sedang gembira pastilah tercermin dari tulisanmu yang penuh canda tawa. Tetapi bila kamu sedang mengalami duka lara, tentu tulisanmu itu akan menjadi mengharu biru bahkan membuat kami menangis karena terharu.

Sampai saat ini, setelah dua tahun ngeblog di kompasiana saya belum menemukan waktu yang tepat untuk menulis. Ide menulis mengalir begitu saja. Laksana air yang lancar mengalir dari atas hingga ke bawah. Bila ada kesempatan menulis, pastilah saya menulis. Bila tak ada kesempatan, ya biasanya saya gak bisa tidur. Sebab bila sehari saja tak menulis di kompasiana, ada perubahan yang terjadi pada diri saya. Badan saya terasa gatal, dan tangan saya serasa gatal pula karena tak bisa menulis hari ini. Sayapun seperti kehilangan nyawa di dunia maya.

Kapan sebaiknya anda menulis? Terserah anda saja. Hanya pesan saya, jadikan membaca sebagai makananmu, dan menulis sebagai minumanmu. Dengan begitu akan engkau rasakan betapa nikmatnya membaca dan menulis sebagai sebuah kebutuhan.

Akhirnya, kapan sebaiknya anda menulis? Sebaiknya anda menulis setelah anda melakukan proses membaca dengan begitu ada berbagai bahan bacaan yang bisa anda jadikan bahan untuk menulis. Penulis yang baik adalah pembaca yang baik pula.

 

 

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com
www.kompasiana.com

 

herrissa's picture

Berhenti Membaca Demi Menulis!?

Saya Tidak Pernah Berhenti Membaca Demi Menulis!

Ini cerita lama. Pengalaman saya sendiri. Pengalaman saya saat berkenalan dengan dunia tulis-menulis. Moga apa yang saya ceritakan ini bisa menjadi inspirasi buat para (calon) penulis, penulis amatir (karena cinta menulis) atau bahkan penulis profesional (yang hidup dari menulis). Mungkin saya menceritakannya berulang-ulang dan lebih inward looking alias melihat diri saya sendiri. Semoga saya terhindar dari dosa narsis!

Ilustrasi (shutterstock)

Ilustrasi (shutterstock)

Hasrat menulis saya timbul semata-mata TERPESONA. Terpesona akan kisah yang dituturkan para pujangga (baca penulis) saat bertutur mengenai sebuah cerita dalam bentuk cerpen, komik, atau novel. Untuk terpesona itu modalnya ternyata MEMBACA. Saat saya duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar, tonggak hidup dimana saya mulai cinta membaca, saya terkesima dengan sebuah buku berbahasa Sunda berjudul “Budak Teuneung” (Anak Pemberani). Buku itu nyaris tidak ada ilustrasi, kecuali sampul depannya. Tetapi saya membacanya sampai dua kali. Dan ketika ada dalam versi bahasa Indonesia berjudul “Anak Pemberani”, saya pun membacanya sekali lagi. Seperti bara asmara, tetap nikmat meski memabukkan!

Saya terpaksa sembunyi-sembunyi tatkala harus membaca komik, tetapi justru komik itulah yang membuai saya sampai ke langit ketujuh. Saya terkesima dengan serial Gina dari Gerdi WK. Saya akrab dengan Gundala Putera Petir, Pangeran Mlar, Aquanus, Godam, Sun Go Kong, dan lain-lain, sampai-sampai kalau saya jalan ke tepi hutan bersama ayah, saya berjalan tegak bagai Godam, lantas berlari karena ingin secepat Gundala, dan melakukan shadow kung fu ala Sun Go Kong. Duh, serasa…. Saya dibekali uang Rp 25 sehari buat jajan. Tetapi uang itu saya gunakan untuk sewa komik di taman bacaan. Saya menjadi tahu di dunia ini ada tempat bernama Manchuria, Mongolia, dan Gurun Gobi, cukup dari membaca pengalaman Gina di Gurun Gobi karya Gerdi WK. Dan, itu saya baca ketika saya baru kelas tiga sekolah dasar!

Dari TERPESONA dan keterpesonaan atas hasil MEMBACA, saya kemudian mulai memutar sebuah “film animasi” dalam kepala saya. Saya bayangkan Sun Go Kong yang dari sehelai bulunya bisa mengkloning dirinya sampai menjadi seribu Sun Go Kong arsir, cukup buat melawan ribuan bala tentara lawan. Dari memutar film di kepala saya, saya mencoba untuk me-retold atas apa yang saya baca secara lisan kepada teman-teman sepermainan. Saya mampu menceritakannya kembali sesuai plot dan alur cerita sebagaimana ditulis dalam komik atau buku. Uniknya, teman-teman sepermainan menyimak penuturan saya dengan saksama, kendati mereka mendengarkannya sambil memegang katapel dan tangkapan ikan belut!

Saya tidak puas dengan hanya menjadi penutur cerita bikinan orang. Suatu waktu, saya kibuli teman-teman sepermainan (omong-omong ada teman sepermainan saya yang manis yang saya taksir, namanya Elis, wow… dimana dia sekarang, ya?), dengan cerita rekaan saya sendiri. Cerita tentang seorang anak miskin karena orangtuanya tidak berpunya, yang selalu diejek teman-temannya, tetapi dia sangat pinter karena suka membaca (wah, gue banget deh!). Uniknya, teman-teman sepermainan juga suka cerita saya, sehingga kalau mereka minta saya bercerita, saya kibulin lagi mereka dengan cerita fiktif yang melintas begitu saja di kepala hahaha….

Dari situlah, maksudnya dari terpesona dan kecintaan membaca, juga dari hasil ngibulin teman-teman, saya mulai membuat karangan sendiri. Seringnya fiktif dan imajinasi belaka. Tetapi ada juga yang kisah nyata. Saya pernah mencampakkan sebuah karangan saya tentang “Andai Ibu Meninggal” saat ibu sakit, saat saya duduk di kelas lima sekolah dasar. Saya sedih membacanya. Saya bayangkan saya menangis, mengantar jenazah ibu ke makam, lalu memeluk adik saya, dan seterusnya. Setahun kemudian, saat saya duduk di kelas enam sekolah dasar, saya meraih juara ketiga juara mengarang tingkat Kabupaten Tasikmalaya. Nama juara pertama dan keduanya saya hapal betul, tetapi ternyata tidak pernah menjadi penulis sampai sekarang. Wah, jangan-jangan juri salah menilai tuh, harusnya saya yang juara pertama, hehehe…. GR mode on!

Duduk di bangku sekolah menengah pertama, sejumlah artikel kecil-kecilan saya sudah mampu menembus Femina dan Gadis. Saat duduk di bangku sekolah menengah atas, saya sudah terbiasa jajan dari honor hasil menulis di Bobo dan Hai! Saat dewasa sampai setua begini, saya hidup dari menulis dengan menitipkan diri di Harian Kompas.

Sekarang, bagi saya menulis adalah kewajiban, bukan lagi kebutuhan. Saya membaca hampir semua buku tentang proses kreatif mengarang (editor Pamusuk Eneste) dan mengarang itu gampang karya Arswendo Atmowiloto. Saya membaca bagaimana menulis opini, bagaimana menulis essay, bagaimana menulis cerpen atau novel, meski saya sudah mempraktikkannya lebih dulu. Diperlukan kerendahan hati untuk membaca pengalaman orang dalam berproses kreatif melahirkan karya tulis, meski saya sudah jadi penulis.

Saya juga baca wawancara Fallaci yang mengagumkan, juga membaca laporan wartawan Kompas Threes Nio dari medan perang. Saya baca novel “Mendung di Atas Vietnam” yang mengharu-biru, dan seterusnya. Saya terlena oleh novel Iwan Simatupang dan kagum pada karya Umar Khayam.Membaca hampir seluruh karya Pramudya Ananta Toer yang bagi saya seng (tidak) ada lawan sampai sekarang. Saya membaca keruntuhan Nusantara ini cukup dari Arus Balik-nya Pramudya, saat Portugis menguasai Selat Malaka di tahun 1511 dan saat bersamaan kerajaan-kerajaan Jawa mulai tersungkur!

Saya tidak pernah berhenti membaca demi menulis!

Demikianlah sekelumit pengalaman saya dalam menulis. Suatu waktu saya mungkin bertutur mengenai proses kreatif saya dalam melahirkan karya tulis yang terwujud dalam laporan-laporan di Harian Kompas atau Kompasiana ini. Pengalaman saya ini mungki tidak seberapanya dibanding rekan-rekan penulis lainnya yang malah sudah menghasilkan berpuluh-puluh buku. Belum ada satu buku pun yang saya tulis! Halah, kok sok berbagi kalau satu bukupun belum dihasilkan! Okay, nggak apa-apa… berbagi pengalaman ‘kan tidak harus lebih dulu menulis buku. Nyantai aja, coy…!

O ya, jangan lupa, bila ada pekerjaan yang tidak pernah mengenal pensiun, itulah menulis!

Moga bermanfaat!

Pepih Nugraha

Alamat Profil:
kompasiana.com/pepihnugraha

Kompasianer sejak:
28 August 2008

Harbuknas

Harbuknas Mendorong Minat Baca

Tahukah Anda, setiap tanggal 17 Mei adalah Hari Buku Nasional? Jangankan Anda, saya sendiripun baru tahu ketika tim Warta Minggu memberikan kesempatan berharga kepada saya untuk membuat artikel bertema Hari Buku Nasional pada edisi ini. Maka saya makin penasaran dan tertantang untuk tahu lebih banyak lagi mengenai hari yang boleh dibilang spesial ini.

 

Peresmian Harbuknas ini memang baru dilakukan pada tahun 2002 yang lalu oleh Mendiknas, Ahmad Malik Fajar. Namun, bulan Mei sebagai Bulan Buku Nasional, sesungguhnya telah lama dicanangkan, yakni sejak tahun 1995 oleh mantan Presiden Soeharto. Tapi begitulah, karena mungkin tidak dianggap sebagai masalah penting, tidak heran jika ekspos mengenainya nyaris tidak terdengar, termasuk dari kalangan media massa. Bisa juga disebabkan faktor lainnya, diantaranya ialah karena buku dan aktivitas yang terkait dengannya, seperti membaca dan menulis, tidak begitu populer di kalangan masyarakat Indonesia. Pamor momentumnya pun kalah jika dibandingkan dengan momentum lainnya, seperti Hari Pendidikan Nasional (2 Mei) atau Hari Kebangkitan Nasional (21 Mei).

 

Seolah telah menjadi permasalahan klasik setiap kali kita membicarakan masalah perbukuan di negeri ini. Maka wacananya akan senantiasa berputar pada persoalan tuduhan rendahnya minat dan budaya baca bangsa ini, kemudian harga buku yang dinilai mahal, serta belum adanya kesungguhan perhatian kita, pemerintah, masyarakat, lembaga-lembaga, dan lain-lain pada perkembangan perbukuan. Padahal kalau ditanya, semua orang pastilah akan sepakat bahwasanya buku merupakan salah satu sarana utama dalam proses pencerdasan kehidupan bangsa serta gudang ilmu yang tidak pernah lekang dimakan jaman.

 

Bisa dikatakan dunia perbukuan di Indonesia saat ini ternyata sedang masuk dalam proses pilihan yang dilematis. Di satu sisi buku berfungsi sebagai alat pencerdas kehidupan bangsa, sebagai sumber ilmu pengetahuan dan pembangunan peradaban, namun disisi lain harga buku terasa mahal, daya beli masyarakat rendah, pembajak buku pun merajalela, belum lagi ditambah dengan adanya perkembangan teknologi seperti iPad, e-book yang semakin menyudutkan kehadiran buku.

 

Harus diakui, masyarakat kita lebih menyenangi budaya lisan (ngobrol, gosip) dan visual (menonton TV) ketimbang membaca. Berbeda jauh dengan Jepang yang dijuluki sebagai bangsa yang gemar baca buku. Bahkan ada anekdot,

"kalau orang Jepang tidur sambil membaca, sedangkan orang Indonesia membaca sambil tidur."

Artinya, bagi orang Jepang, sesantai apa pun kegiatan yang mereka tengah tekuni, membaca tetap menjadi suatu kebutuhan layaknya kebutuhan makan dan minum sehari-hari. Namun, sebaliknya, bagi orang Indonesia, sesantai apa pun kegiatan yang mereka tekuni, membaca belum dijadikan suatu kebutuhan.

 

Pendek kata, rendahnya budaya baca buku masyarakat perlu dilihat sebagai persoalan serius dan segera dicarikan solusinya. Kondisi seperti ini tentu saja bukan menjadi pekerjaan rumah bagi guru semata, melainkan juga menjadi pr kita semua. Butuh perjuangan ekstra keras dalam rangka meningkatkan perkembangan alam perbukuan kita. Satu poin penting yang perlu diupayakan bersama adalah memberikan edukasi yang tepat bagi masyarakat untuk mau membaca, mencintai, dan membeli buku.

 

Dengan demikian kita masih dapat merayakan Hari Buku Nasional di tahun berikutnya dan terlebih dapat menyelamatkan penulis buku itu sendiri. Selamat Hari Buku Nasional!



(Aan, OMK MBK) - parokimbk.or.id

Point Penting Dalam Menulis Kreatif

Point Penting Dalam Menulis Kreatif
oleh Omjay

Sering saya ditanya oleh teman-teman, kok bisa pak wijaya aktif menulis setiap hari?. Lalu saya jawab bahwa menulis itu sama halnya kita makan. Kita membutuhkan makanan setiap harinya. Jadi kalau nggak nulis itu sama artinya nggak makan. Begitu kata saya kepada teman-teman sambil bercanda. hehehehe…3x.

Namun, ada banyak guru yang banyak menginspirasi saya menulis. Terutama menulis di blog. Mas Rudy dari VHR Media mengungkapkan bahwa kekuatan para blogger adalah tulisannya yang mencakup hal-hal yang tidak dimuat oleh media-media umum, dan tulisan mereka yang tidak dikemas dengan gaya ilmiah. Rata-rata mereka menulis dengan hatinya. Inilah yang membuat mereka beda dari media arus utama. Terus menulis tanpa ada beban, dan tak dibayar pula. mereka menulis dengan hati, dan membuat mereka menjadi kreatif. Seperti anak kecil yang bergaya di ats mobil ketika di foto.

Oleh karena itu, point terpenting bagi para blogger untuk menulis kreatif adalah menulis harus dengan hati. Artinya mengalir begitu saja seiring dengan irama hati yang menyatu dalam jari jemari tangan yang dikendalikan oleh otak dan dicerna oleh hati. Bila kita menulis dengan hati, maka akan keluarlah tulisan-tulisan kreatif kita itu.

Ada beberapa poin penting dalam menulis kreatif yang pernah saya dapatkan dalam pelatihan blogging yang diselenggarakan oleh VHR Media. Poin-poin penting itu antara lain :

  • Menulis harus tetap berjalan dalam kondisi apapun, karena penulis adalah profesi yang melekat apapun profesi utamanya. Bila anda mempunyai profesi sebagai guru seperti saya, maka menulislah dari sisi pendidikan. Menulislah tentang apa-apa yang anda ketahui tentang dunia pendidikan. Jangan hiraukan pembaca anda bila masih sedikit.
  • Menulis harus sesuatu yang memang kita kuasai, dan memang kita inginkan untuk dituliskan. Jangan menulis sesuatu yang tidak kita kuasai. Misalnya bila anda seorang guru, maka menulislah tentang pembelajaran di kelas, masalah belajar, dan lain-lain yang ada hubungannya dengan pendidikan. Jangan menulis sesutu yang anda sendiri tak menguasainya.
  • Penggunaan prinsip 5W+1H (What, Who, Why, Where, When dan How) harus diterapkan dalam tulisan, tidak hanya jurnalis tapi semua penulis. Saya banyak menulis tanpa 5W + 1H terlebih dahulu, hal ini saya lakukan bila ingin membuat tulisan yang langsung ada dalam alam pikiran saya. Tetapi begitu saya baca, ternyata 5w + 1 H tanpa saya sadari telah masuk ke dalam tulisan saya.
  • Menulis tanpa pretensi-tanpa beban, baik buruk tidak masalah, menulislah apa adanya. Karena saya menulis tanpa beban, maka saya merasa enjoy dalam menulis. Semua apa yang saya ketikkan mengalir begitu saja. Secara otomatis, otak dan tangan sudah menyatu dalam membuat tulisan saya menjadi bermakna. Syukur dapat bermanfaat untuk orang banyak.
  • Harus anda sadari bahwa menulis tidak ada bedanya dengan bercakap-cakap. Menulis harus disadari seolah-olah kita sedang bercakap-cakap dengan orang lain. Ingatlah kita menulis untuk dibaca oleh orang lain, jadi usahakan bahasa yang kita gunakan adalah bahasa yang komunikatif. Terjadi interaksi dua arah  yang membuat pembaca tercerahkan.
  • Seorang Penulis harus suka membaca, sebab tanpa membaca ia akan mengalami apa yang disebut stagnan atau buntu. Saya pernah mengalami hal itu ketika saya tak rajin membaca buku atau karya tulis lainnya. Ternyata dari membaca karya tulis orang lain, justru timbul inspirasi dari bacaan itu. Banyak hal yang saya tuliskan setelah saya banyak membaca. Bukan menyontek loh, tapi membuat sesuatu yang baru dari apa yang telah kita baca.
  • Untuk dapat menulis kreatif dengan baik, anda harus disiplin dalam menulis, alokasikan 2 jam sehari buat menulis, tidak peduli berapa halaman yang jadi. Pokoknya menulis, dan yang paling sulit dari proses menulis itu adalah MEMULAI.
  • Usahakan dalam menulis anda memiliki kreativitas dan intensitas. Sebab anda dituntut untuk membuat sebuah tulisan yang kreatif dengan intensitas yang tinggi. Biasanya tulisan yang memiliki kreativitas dan intensitas tinggi akan enak dibaca dan mudah dipahami.
  • Dalam menulis anda harus dengan jujur mengatakan ini loh tulisan saya dan bukan tulisan orang lain. Dulu, waktu belum kreatif menulis, saya sering copy and paste tulisan orang lain. Tetapi sekarang walaupun tulisan saya masih jelek, saya nggak malu munculin tulisan saya di blog, bahkan dalam publik blog yang lebih luas seperti di kompasiana.com.
  • Terakhir, menulis itu harus memiliki prinsip kelogisan. Jadi segala sesuatu yang kita tulis harus memenuhi unsur kelogisan. Itulah yang saya dapatkan dari mas Rudy sewaktu mengikuti pelatihan blogging. Sebuah pelatihan yang dilaksanakan oleh VHR media beberapa tahun lalu.

Semoga bermanfaat untuk teman-teman blogger. Oleh karena itu, mulai dari sekarang menulislah dengan hati dan gunakan blog sebagai media dalam menuangkan segala ide anda yang cemerlang itu. Jangan ragu untuk memulai, dan menulislah dengan HATI agar kreativitas menulis tetap terjaga.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

10 Cara Agar Anak Suka Membaca

10 Cara Agar Anak Suka Membaca

Buku merupakan jendela ilmu, maka membaca perlu dijadikan salah satu kegiatan wajib sejak anak-anak masih kecil. Sayangnya, karena berbagai alasan banyak anak tidak suka membaca. Sebagai orangtua, Anda bisa melakukan berbagai trik untuk membiasakan anak gemar membaca. Misalnya, Anda bisa membacakan buku cerita untuk anak, dan
membuat kegiatan membaca menjadi lebih menyenangkan baginya.

1. Beri contoh dengan rajin membaca. Anak akan meniru apa yang dilakukan oleh orangtuanya. Sebelum meminta anak untuk rajin membaca, Anda lebih dulu harus gemar membaca. Ajak mereka membaca setiap hari, walaupun hanya satu jam setiap harinya. Dengan cara ini, anak akan menganggap membaca adalah kegiatan yang penting dan harus dilakukan.

2. Ciptakan tempat yang nyaman untuk membaca, misalnya kursi yang empuk, atau sofa dengan bantal empuk.

3. Biarkan anak memilih buku yang akan dibaca. Hal ini akan membantu Anda untuk tetap membuat anak tertarik pada buku bacaan sekaligus membuat mereka merasa berguna. Mengunjungi perpustakaan secara rutin akan membantu proses pemilihan buku yang dibaca menjadi lebih mudah dan menyenangkan.

4. Bicarakan tentang sampul buku. Anak biasanya akan memilih buku dengan desain sampul yang menarik dan lucu. Ajak mereka untuk menebak isi buku dari penampilan sampulnya. Siapa saja tokoh ceritanya, atau siapa yang menjadi "penjahatnya".

5. Sering menonton film asing, dimana sang tokoh membacakan dongeng dengan mengubah intonasi suara yang berbeda untuk setiap karakternya? Sesekali lakukan hal ini untuk menambah ketertarikan anak saat membaca buku. Pastikan Anda tidak membacanya terlalu cepat agar mereka bisa memahami isi cerita Anda.

6. Tunjukkan gambar-gambar menarik ketika membacakan buku cerita. Gambar tidak hanya membuat anak lebih terpaku pada isi buku, tetapi juga membantu mereka untuk lebih memahami perilaku tokoh-tokohnya, dan jalan ceritanya.

7. Setelah membacakan buku, ceritakan kembali pesan moral dalam cerita tersebut. Beri penekanan pada kata-kata penting yang bisa bermanfaat untuk mereka.

8. Cobalah untuk menghubungkan kisah di dalam buku, dengan realita dalam kehidupan Anda dan anak. Berikan contoh bagaimana anak harus bertindak ketika menghadapi sesuatu, berdasarkan apa yang dilakukan tokoh dalam cerita.

9. Pancing sifat kritis anak terhadap buku dengan memberikan beberapa pertanyaan seperti, "Cerita mana yang kamu suka?", atau, "Cerita mana yang tak kau suka?", atau "Apa yang kamu pelajari dari cerita ini?"

10. Berikan variasi pada aneka bacaan yang Anda pilih, agar anak tidak bosan saat mendengarkan Anda bercerita.


Sumber: Shine - kompas.com

Membuktikan Keberadaannya Lewat Menulis

Stephanie Aryanti: Membuktikan Keberadaannya Lewat Menulis

Tak seperti perempuan seusianya, Stephanie Aryanti (41) hanya memiliki tinggi badan 120 cm. Namun bukannya minder, kekurangan itu malah mendorongnya untuk menggali talenta di dalam dirinya.

Awalnya, Stephanie kurang nyaman apabila orang memandangnya berlama-lama. “Don’t staring at me!” tegasnya. Ia akan berpikir negatif bila orang melemparkan pandangan terhadap dirinya. Waktu kecil, ia terbiasa melihat anak lain membicarakan sambil kasak-kusuk atau meledek terang-terangan. Mungkin karena itu juga, orangtua memilih SMP dan SMA khusus perempuan baginya. “Tapi, di luar sana saya tetap ‘bersentuhan’ dengan beragam orang. Celaan, pasti ada. Tidak mungkin ‘kan saya steril?” ungkapnya.

Stephanie seringkali menghindari tempat ramai, terutama yang banyak anak kecil. Alasannya, mereka paling spontan. Tak segan mereka menghampiri lalu tertawa dan mencolek dirinya. “Saya berani-berani saja. Masa’ melawan anak kecil saja kalah? Masalahnya orang-orang di sekitar saya, otomatis perhatiannya beralih ke saya. Ini yang paling saya benci,” kenangnya.

Ia juga kesal dengan pandangan bahwa orang sepertinya hanya bisa menjadi badut di panggung. Tiap ada pasar malam atau bahkan di televisi, media mengeksploitasi fisik mereka untuk hiburan. Hati kecilnya ingin marah. Ia bilang fisik seperti itu bukan bahan candaan. “Itulah yang membuat saya dendam, ingin membuktikan bahwa saya pun bisa bersaing dengan mereka yang punya ‘kemasan’ bagus. Toh Tuhan kasih saya akal sehat dan otak untuk berpikir,” tandasnya.

Menentukan pilihan

Keterbatasan fisik membuat Stephanie tidak bisa aktif di ekstrakurikuler olah raga atau tampil di acara pentas seni di sekolahnya. Ketika duduk di bangku SMA, ia memilih ekstrakurikuler jurnalistik. Ia belajar ilmu dasar jurnalistik, bentuk tulisan, bagaimana memilih topik sampai tips agar tulisan disukai pembaca.

Seorang guru pembimbingnya tak kenal lelah memberi semangat kepada murid-muridnya, termasuk Stephanie, untuk menulis dan berani mewawancarai narasumber yang beragam latar belakangnya. “Selain untuk majalah sekolah, kami dianjurkan mencoba menulis untuk media cetak umum,” kenang alumnus SMA Sedes Sapientiae Semarang, Jawa Tengah ini.

Wawancara pertamanya dengan penulis serial Lupus, Hilman Wijaya, meninggalkan kesan tersendiri. Setelah menunggu dengan gelisah di lobi sebuah hotel berbintang di Semarang, Hilman muncul sambil tersenyum dan menjabat erat tangan Stephanie. “Gue, Hilman. Mau tanya apa nih?” begitu kata Hilman. Ia merasa Hilman menghargainya sebagai remaja SMA yang sedang belajar menjadi jurnalis. Dan, ia juga merasa dipompa semangatnya.

Hasil wawancara perdananya ditulisnya untuk majalah sekolah. Lalu, Stephanie juga mengirimkannya ke Harian Sore Wawasan. Seminggu berselang, tulisan itu dimuat. “Saya bangga dan bahagia. Itu merupakan tulisan pertama saya di media cetak umum. Hal itu mendorong saya untuk terus menulis. Minggu berikutnya, tulisan saya rutin muncul di beberapa surat kabar dan majalah,” papar warga Paroki Santa Monika BSD Serpong, Tangerang ini.

Setelah lulus SMA, putri sulung dari dua bersaudara ini pun mantap memilih jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Diponegoro Semarang. Semasa kuliah, selain berprofesi sebagai penulis lepas di media cetak umum, ia juga aktif sebagai redaktur di majalah fakultas Opini dan koran kampus Manunggal.

Ia semakin melebarkan sayapnya di dunia jurnalistik. Selama 1987-1999, perempuan kelahiran Semarang, 3 April 1970 ini menjadi penulis freelance di beberapa surat kabar, tabloid, dan majalah, seperti Harian Sore Wawasan, Harian Suara Merdeka, Tabloid Cempaka, Majalah Femina, dan Majalah Hello. Pada 1997-1999 Stephanie menjadi kontributor tetap Majalah Hai wilayah Jawa Tengah-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Menurutnya, profesi jurnalis memberi banyak pengalaman yang menyenangkan. Selain ide-idenya dibaca banyak orang, ia juga bisa bertemu dengan narasumber, baik artis maupun tokoh penting, yang tidak semua orang bisa menemuinya. Ia pun bisa pergi ke tempat yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Rasa percaya dirinya pun semakin tumbuh.

Pengalaman yang sempat membuatnya trauma, ketika meliput konser musik yang berakhir rusuh. Batu, botol, kaca pecah di mana-mana. Ia sendirian, tidak tahu mesti lari ke mana, karena sekeliling stadion sudah dikepung. “Saya bersembunyi di WC umum yang lampunya dimatikan, karena takut ketahuan orang. Sambil gemetaran, saya baca doa sebisa saya,” kisahnya.

Tetap bersyukur

Tidak mudah bagi Stephanie untuk survive, mandiri, dan mengurus sendiri segala urusannya. Ia masih sering menerima perlakuan tidak menyenangkan. Misalnya, saat mengantre membeli makan di sebuah fastfood, orang lain yang berada di belakangnya dilayani lebih dahulu. Begitu juga kala ia mencari data di sebuah mal, keberadaannya diabaikan. ”Tetapi, begitu mereka mendengar saya seorang wartawan, semua langsung memperhatikan,” jelasnya.

Pengalaman seperti ini membuat Stephanie berpikir bahwa ia harus mempunyai sesuatu yang orang lain tidak miliki. Menulis, berpikir, relasi, itu yang memenuhi benaknya. “Jujur saja, tidak mudah menembus media cetak. Tidak semua orang diberi talenta oleh Tuhan untuk menulis, merasakan bangku pendidikan, memiliki ide terus share ke orang lain,” papar perempuan yang sejak Mei 2010 memutuskan menjadi penulis freelance ini.

Ia menambahkan bahwa tidak semua orang juga bisa berteman dengan musisi, pemain sinetron, magician, politikus, budayawan, dan lain-lain. Hal-hal tersebut membuat Stephanie yakin, dirinya juga bisa punya arti kalau mau dan berani. Kalau tetap ingin bersembunyi dan malu, ia akan semakin “habis”. Orang semakin tertawa dan memojokkannya.

Sejak menulis untuk media, Stephanie belajar berani menemui banyak orang. Ia juga dituntut berani berbicara di depan umum, di depan anak sekolah, ketika memberi pelatihan jurnalistik. Awalnya, terasa berat untuk menemui narasumber yang kebanyakan selebritis. Tetapi, hal itu tak membuatnya patah arang.

“Saya justru belajar bersyukur. Hidup tidak bergantung pada orang lain. Medan sulit bisa saya siasati. Kesal dengan keadaan, saya bisa suarakan lewat tulisan. Teman banyak, bahkan dari berbagai kalangan,” jelas Stephanie.

Mantan redaktur Majalah Aneka Yess!, Tabloid Keren Beken, dan Majalah B’Girl ini selalu bersyukur, Tuhan memberinya otak untuk berpikir dan hati untuk merasa. Ia dapat memandang sebuah persoalan dari berbagai segi. “Saya berpikir, bersaing fisik saya tidak bisa. Lalu, bagaimana caranya agar orang ‘melihat’ dan ‘mendengar’ isi pikiran saya? Ya, lewat tulisan,” imbuhnya.

Bermula dari wartawan majalah sekolah, hingga kini 24 tahun sudah Stephanie menekuni dunia jurnalistik. Ia tak pernah lelah menggulirkan ide lewat tulisan-tulisannya. Baginya, menulis seperti bernapas. “Ketika saya tidak lagi menulis, rasanya saya seperti tidak lagi bernapas,” demikian Stephanie.

Ivonne Suryanto
(hidupkatolik.com)

 


------------------------------------------------


Catholic Church of St. William the Hermit, Cathedral of Diocese of Laoag, Philippines
(FB : catholic church)

------------------------------------------------

Catholic Church of Our Lady Queen of the World, Sungai Durian, Diocese of Sintang, West Borneo
(FB : catholic church)

------------------------------------------------

Acara soft launching Katedral Pontianak yang menurut jadwal akan dilakukan pada hari Jumat tanggal 12 Desember 2014 diputuskan ditunda


 Mgr Subianto tahbiskan gereja tujuh gunungan atap yang pernah bermasalah. Karena rahmat Kristus, cinta kasih Allah, berkat karunia Roh Kudus, dan bantuan umat beriman di tempat lain, umat beriman Cikampek membangun gereja, bagaikan di padang gurun.
(courtesy :  " penakatolik com")

------------------------------------------------