Paus Yohanes Paulus II

herrissa's picture

Yohanes Paulus II di mata orang Indonesia

Paus Yohanes Paulus II pada 1 Mei akan dibeatifikasi (dijadikan “beato,” yang berbahagia).

Paus kelahiran Polandia ini dikenal sebagai seorang tokoh yang dikagumi dunia dan telah menginspirasi banyak orang, termasuk di Indonesia.

Berkaitan dengan beatifikasi tersebut beberapa tokoh Muslim dan Katolik dimintai komentar tentang kesan mereka terhadap mendiang Paus.

Mereka mengaku Paus Yohanes Paulus II telah memberi kontribusi yang signifikan, baik bagi perdamaian, dialog antaragama di Indonesia, maupun inspirasi bagi pribadi-pribadi.

“Paus Yohanes Paulus II adalah seorang tokoh kemanusiaan. Ia menjadi saudara bagi siapa saja dari lataragama manapun,” kata Ahmad Syafi’i Maarif, dosen sejarah di Universitas Negeri Yogyakarta dan pendiri Maarif Inistitute.

Menurut mantan Ketua Muhammadiyah itu Yohanes Paulus II merupakan seorang tokoh karismatis yang luar biasa dan selalu bersuara di mana terjadi ketidakadilan.

Ia mengingat pada tahun 2003 saat dirinya dan beberapa tokoh lintas agama bertemu dengan Paus di Vatikan untuk meminta bantuan Paus agar mendesak Presiden AS kala itu George W. Bush tidak melakukan invasi ke Irak.

Ketika Paus meninggal tahun 2005, ia dan Kardinal Julius Darmaatmadja, SJ mengikuti pemakamannya. “Kematian beliau tidak saja suatu kehilangan bagi umat Katolik, tapi bagi semua orang di seluruh dunia,” kata Syafi’i.

Menurut Romo Thomas Aquino Deshi Ramadhani, SJ, Paus Yohanes Paulus II adalah seorang tokoh yang menjadi inspirasi banyak orang, terutama kaum muda.

“Paus Yohanes Paulus II adalah sosok yang luar biasa. Ia telah memberikan kontribusi besar bagi Gereja Katolik dan orang-orang muda,” kata Romo Deshi.

Dosen STF Driyarkara dan moderator Domus Cordis ini mengatakan buku Theology of the Body (Teologi Tubuh) karya Yohanes Paulus II berisi pesan-pesan yang patut digaungkan dewasa ini.

Sementara menurut Harry Tjan Silalahi, seorang intelektual dan salah seorang pelopor CSIS, Paus tidak saja seorang pemimpin spiritual tapi juga ‘tokoh kemanusiaan.’

Stefanus Gusma, ketua PMKRI, mengatakan Yohanes Paulus II mengajarkan banyak orang terutama kaum muda, tentang cinta, kesederhanaan dan perdamaian.

“Contoh-contoh seperti ini hendaknya diikuti oleh para pemimpin dunia, termasuk di Indonesia,” kata Stefanus.

Riwayat singkat Paus Yohanes Paulus II

-Paus Yohanes Paulus II lahir di Polandia pada 18 Mei 1920, dengan nama Karol Józef Wojtyła

-Ditahbiskan imam pada 1 November 1946. Ia mendapat gelar doktor dalam bidang Teologi dan Filsafat.

-Ditahbiskan uskup pada 28 September 1958.

-Pada awal Oktober 1962, Uskup Wojtyła mengambil bagian dalam Konsili Vatikan II (1962-1965) dan berpengaruh besar dalam pembuatan 2 dokumen yang sangat fenomenal: Dignitatis Humanae  (Dekrit tentang Kebebasan Beragama) dan Gaudium et Spes (Konstitusi Pastoral tentang Gereja dalam Dunia Modern)

-Ditunjuk menjadi Uskup Agung Krakow (Polandia) pada 13 Januari 1964 oleh Paus Paulus VI.

-Pada 26 Juni 1967, Paus Paulus VI mengumumkan pengangkatan Uskup Agung Wojtyła menjadi Kardinal.

-Pada tahun 1967 ia berperan dalam penyusunan Humanae Vitae, ensiklik yang antara lain melarang aborsi dan KB buatan.

-Menjadi Paus mulai 16 Oktober 1978 hingga wafat pada 2 April 2005, pada usia 84 tahun.

-Lama menjadi Paus: 26 tahun dan 168 hari (kedua terlama setelah Paus Pius IX (1846–1878) yang memimpin selama 31 tahun.

-Yohanes Paulus II diakui sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh selama abad ke-20, dan berperan penting dalam berakhirnya Komunisme di negara kelahirannya.

-Ia menentang keras kapitalisme yang berlebihan

-Menjadi tokoh Katolik yang sentral dalam pemulihan hubungan Gereja Katolik dengan Judaisme, Islam, Ortodox, dan Anglikan.

-Ia dikritik karena melawan kontrasepsi (KB buatan), tidak menghendaki tahbisan perempuan. Ia juga dikritik kaum tradisionalis karena mendukung Konsili Vatikan II dan reformasi atas liturgi dan perjuangannya bagi ekumene.

-Yohanes Paulus II adalah salah satu pemimpin negara yang paling banyak mengungjungi negara lain. Selama menjadi Paus ia mengunjungi 129 negara.

-Ia berbicara bahasa Italia, Pranis, Jerman, INggris, Spanyol, Portugis, Ukrania, Rusia, Kroatia, Esperanto, Yunani Kuno, Latin, dan Polandia.

-Ia menguduskan 1,340 orang dan kanonisasi bagi 483 santo dan santa

-Pada tanggal 19 Desember 2009, ia dinyatakan “Venerable” oleh Paus Benediktus XVI dan dijadwalkan akan dikuduskan pada 1 Mei 2011 mendatang.

 

Siapakan Paus Yohanes Paulus II bagi anda???
Bagikan pengalaman pribadi atau kelompok anda dan
kirimkan melalui kolom komentar disetiap artikel terkait.

2
Your rating: None Average: 2 (7 votes)

Comments

Roma Dilanda "Demam" Yohanes Paulus II

BEATIFIKASI
Roma Dilanda "Demam" Yohanes Paulus II

Kurang dari sepekan sebelum upacara beatifikasi (tahap pertama sebelum seorang Katolik resmi ditahbiskan sebagai orang suci atau santo), Roma dilanda ”demam” Yohanes Paulus II, pemimpin umat Katolik sedunia yang meninggal enam tahun silam.

Poster-poster mendiang paus asal Polandia, yang dulu bernama Karol Wojtyla, itu ditempel di bus-bus, tiang lampu, dan di berbagai pelosok kota Roma. Diperkirakan, ratusan ribu orang akan menghadiri upacara misa di lapangan St Petrus, Vatican City, saat paus penggantinya, Paus Benediktus XVI, mengumumkan namanya sebagai ”beato” hari Minggu (1/5).

Seperti juga ketika upacara pemakaman paus yang meninggal pada 2 April 2005 ini, diperkirakan ribuan orang Polandia akan berduyun-duyun ke Vatikan, dengan pesawat, kereta, bahkan mobil, untuk ikut merayakan upacara beatifikasi ini.

Persiapan upacara beatifikasi yang langka di Vatikan ini berjalan bak persiapan pernikahan Kerajaan Inggris, Jumat ini, bagi warga Roma dan Vatikan.

Perjalanan seorang Katolik diangkat sebagai orang suci berlangsung melalui prosedur yang tidak mudah. Beatifikasi adalah langkah pertama seseorang dinyatakan sebagai orang suci. Untuk dinyatakan sebagai beato, harus lebih dahulu ada peristiwa mukjizat yang bertalian dengan orang yang disucikan tersebut.

Mukjizat yang membawa mendiang Paus Yohanes Paulus II diusulkan sebagai orang suci (selain reputasinya sebagai salah satu paus paling populer dalam sejarah) adalah ketika seorang biarawati Perancis penderita penyakit parkinson bisa sembuh setelah berdoa meminta kesembuhan pada saat kematian paus tersebut. Ironisnya, Paus Yohanes Paulus II praktis didera penyakit parkinson pada 12 tahun terakhir masa hidupnya.

Gereja Katolik biasanya sangat ketat untuk menetapkan seseorang diangkat sebagai beato dan kemudian santo. Perlu setidaknya penyelidikan mendalam, paling cepat lima tahun setelah kematiannya. Sementara penyelidikan atas diri Paus Yohanes Paulus II dilakukan hanya dua bulan setelah wafatnya.

Proses kilat juga terjadi pada Ibu Teresa, biarawati yang sepanjang hidupnya mengabdi kepada orang-orang miskin di Kalkutta, India. Ia dibeatifikasi pada tahun 2003, hanya enam tahun setelah kematiannya.

Untuk diangkat sepenuhnya sebagai santo, diperlukan satu laporan mukjizat lagi menyangkut dirinya. Jika ada satu bukti mukjizat lagi, dilakukanlah upacara kanonisasi untuk menyatakan bahwa orang tersebut adalah orang suci.

Segala berkas, baik untuk proses beatifikasi maupun kanonisasi, disampaikan kepada semacam ”promotor” di Vatikan, yang perannya mencari dan menemukan hal-hal yang menguatkan seseorang untuk dibeatifikasi.

Setelah konsultasi dengan segenap uskup (pemimpin-pemimpin umat Katolik di bawah paus) dan para kardinal pembantu paus, berkas disampaikan kepada paus untuk ditandatangani dan diumumkan sebagai orang suci.

sumber : kompas.com(AFP/Reuters/sha)

Kilas balik kunjungan Yohanes Paulus II di Indonesia

Sekilas Memori tentang Beato Yohanes Paulus II, Dari Stadion Utama Senayan ke Unika Atma Jaya Jakarta

“SAYA BANGGA AKAN KAMU…..”

 

Pada hari Minggu, 1 Mei 2011 Bapa Suci Paus Benediktus XVI secara resmi memberikan gelar Beato, yang berbahagia, kepada mendiang Bapa Suci  Paus Yohanes Paulus II.

Bagi umat Katolik sedunia, ini merupakan peristiwa iman, dan kita boleh bangga dan berdoa memohon kepada Beato Johanes Paulus II untuk selalu mendoakan dan melindungi kita.

Pada tanggal 2 April 2005, Sri Paus Yohanes Paulus II wafat dalam usia 85 tahun. Sebagai Pemimpin Gereja Katolik Sedunia, beliau sering melakukan perjalanan ziarah kegembalaan kepada umatnya di berbagai negara.

Dalam masa kepausannya selama 26 tahun lebih, pemimpin dari 1,1 milyar umat Katolik itu telah mengunjungi 129 negara, termasuk Indonesia.

Sri Paus Johanes Paulus II mengunjungi Indonesia selama lima hari, dari tanggal 8-12 Oktober 1989, dengan menyinggahi Jakarta, Jogjakarta, Maumere (Flores), Dili (Timor Timur – waktu itu masih provinsi ke 27) dan juga Medan.

Dalam kunjungan itu Sri Paus memimpin misa agung dan berdialog langsung dengan lebih dari satu juta orang.

Misa agung pertama berlangsung di Stadion Utama Senayan, kini Gelora Bung Karno, Jakarta, dihadiri lebih-kurang 120 ribu umat Katolik dari Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Bogor, Bandung dan Purwokerto. Di Jogjakarta, misa agung dihadiri 250 ribu umat dari Keuskupan Agung Semarang, Keuskupan Surabaya dan Malang. Kemudian misa agung di Maumere dihadiri sekitar 300 ribu umat Katolik dari Flores; di Dili dihadiri 400 ribu umat dan di Medan lebih dari 100 ribu umat.

Selain itu, Sri Paus juga mengadakan pertemuan khusus dengan kaum awam dan cendekiawan Katolik Indonesia di kampus Atma Jaya,  Jakarta. Di sini beliau bertatap muka dan memberikan pesan-pesan kegembalaan kepada kaum awam dan cendekiawan Katolik Indonesia, dan meresmikan gedung baru “Karol Wojtyla”.

Saya mendapat kesempatan mengikuti acara dengan Sri Paus, yaitu misa agung di Senayan dan pertemuan di Atma Jaya. Di Stadion Utama Senayan, saya hadir sebagai wakil umat Katolik Gereja Paroki Santo Paulus Depok, Bogor, sedangkan di Atma Jaya, hadir sebagai alumni universitas tersebut.

Dalam dua kesempatan itulah saya dapat berada berdekatan secara fisik dengan Sri Paus. Dan ini rasanya tentu saja berbeda dengan saat menonton kegiatan Sri Paus di televisi.

Piring keramik Yohanes Paulus II

Menjelang kunjungan Sri Paus ke Indonesia, berbagai persiapan dilakukan oleh panitia dari Pemerintah Indonesia maupun Gereja Katolik Indonesia melalui Majelis Agung Wali Gereja Indonesia (MAWI), kini Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) dengan Keuskupan Agung Jakarta sebagai pelaksana utama.

Suatu panitia nasional dibentuk untuk mempersiapkan kunjungan tersebut, sedangkan di paroki-paroki di semua keuskupan diadakan doa-doa khusus termasuk novena agar kunjungan Sri Paus dapat berjalan dengan lancar dan aman.

Setiap paroki di Keuskupan Agung Jakarta dan Keuskupan Bogor mendapat jatah untuk mengirimkan sejumlah wakil-wakil umat menghadiri misa agung yang dipimpin Sri Paus di Stadion Utama Senayan. Paroki St. Paulus Depok , Keuskupan Bogor, mendapat jatah mengirim 50 umat.

Waktu itu penulis bekerja sebagai manager Corporate Communications sebuah konglomerasi nasional di Jakarta dengan puluhan anak perusahaan, termasuk perusahaan produsen barang-barang  keramik.

Pada suatu hari di pertengahan Agustus 1989, saat berada di kantor di Chase Plaza lantai 22,  saya mendapat tamu dua orang ibu dari pengurus Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI). Mereka menawarkan kepada perusahaan  partisipasi berupa sponsorship.

Tentu saja saya senang dan ingin  sekali berpartisipasi, apalagi ini juga kesempatan untuk sekaligus mempromosikan produk perusahaan. Tercapailah kesepakatan bahwa perusahaan akan menyumbang sejumlah piring keramik dengan foto Sri Paus Yohanes Paulus II.

Ketika penulis melaporkan hal ini kepada direktur,  beliau menyambutnya dengan antusias. Kata sang direktur, yang bukan seorang Katolik, “Johanes Paulus itu orang besar, mau berkunjung ke Indonesia, berarti perhatian beliau kepada orang Katolik dan kepada negeri kita sangat besar”.  Dan direktur memutuskan untuk menyumbang 4000 piring keramik kualitas terbaik kepada panitia.

Dalam waktu tiga minggu, pabrik keramik di Tangerang berhasil menyelesaikan 4000 piring tersebut dengan foto Sri Paus Yohanes Paulus II, dan diserahkan kepada panitia. Sebagai tanda penghargaan, panitia juga memberikan  sertifikat ucapan terima kasih kepada perusahaan.

Sampai saat ini saya masih menyimpan sebuah piring keramik dengan wajah Yohanes Paulus II sebagai kenang-kenangan akan kunjungan beliau di Indonesia. Piring tersebut disimpan di lemari pajangan di ruang keluarga.

Dengan adanya beatifikasi yang berarti pengakuan Gereja bahwa Yohanes Paulus menjadi seorang Beato, piring keramik ini akan jadi focus ketika kami akan berdoa kepada Beato Yohanes Paulus II.

Misa dalam Bahasa Indonesia

Kembali ke misa agung di Stadion Utama Senayan Jakarta. Sejak pagi hari penulis dan rombongan berangkat dari Depok ke Senayan untuk mengikuti misa agung bersama Sri Paus. Jalan-jalan di sekitar Stadion Utama Senayan macet, karena banyaknya bis dan mobil yang menuju ke stadion.

Polisi dan tentara sibuk mengatur lalulintas dan memberi jalan kepada kendaraan yang akan masuk Senayan. Ketika rombongan penulis tiba, lapangan parkir timur Senayan yang luas itu sudah mulai dipadati kendaraan.

Rombongan umat dari Keuskupan Bogor mendapat jalan masuk Stadion Utama melalui Pintu IX. Ketika sampai di dalam, nampak ribuan orang sudah memadati stadion. Secara berkelompok mereka sedang berdoa rosario  dan bernyanyi sehingga suasana stadion siang itu terasa seperti di suatu tempat ziarah.

Letak tempat duduk rombongan dari Depok kira-kira 30 meter di sebelah kiri altar di mana Sri Paus, para Uskup dan Imam-imam akan menyelenggarakan misa agung.

Stadion Utama yang biasanya gaduh dan riuh apabila ada pertandingan sepakbola atau pertunjukan lainnya, terasa lengang walaupun sudah dipadati kurang-lebih 100 ribu orang.

Siang itu stadion tersebut terasa seolah-olah berubah menjadi sebuah gereja raksasa yang menampung demikian banyak umat. Tampak spanduk-spanduk berwarna putih dengan tulisan nama-nama kelompok umat yang hadir. Ribuan bendera Merah-Putih berukuran kecil bersama bendera Kuning Vatican tampak dipasang berdampingan  di seluruh stadion.

Doa dan nyanyian dari berbagai kelompok umat terus terdengar. Tidak terasa waktu sudah satu jam berlalu sejak kami memasuki stadion. Lalu terdengar pengumuman melalui pengeras suara bahwa misa agung akan segera dimulai.

Paduan suara yang berada di sebelah kanan altar mulai memperdengarkan lagu pembukaan  “Ecce, Sacerdos Magnus – Lihatlah Imam Agung datang”. Dan pada saat itu juga masuklah rombongan misdinar, imam-imam, uskup-uskup, kardinal dan Sri Paus dalam pakaian kebesaran ibadah menuju ke altar.

Ketika Sri Paus tiba di altar, suasana sangat hening. Lalu terdengarlah suara Sri Paus yang lantang dan berwibawa, mengucapkan doa Tanda Salib: “Atas nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus” dalam bahasa Indonesia yang lancar, yang dijawab umat “Amin”.

Upacara misa agung itu seluruhnya berlangsung dalam Bahasa Indonesia, dan Sri Paus dapat melafalkan doa dan nyanyian dalam Bahasa Indonesia dengan baik dan lancar, nyaris tanpa salah, termasuk ketika menyanyikan Prefasi yang panjang.

Umat mengikuti ibadah itu dengan penuh perhatian dari detik ke detik. Tidak terdengar suara atau bunyi yang mengganggu selama dua setengah jam ibadah misa berlangsung. Paduan suara yang menggemakan lagu-lagu pujian dan doa-doa yang dilantangkan Sri Paus terasa menyentuh dan mendalam bahkan menggidik sehingga bulu kuduk berdiri.

Karena begitu intens mengikuti ibadah siang itu, rasanya  penulis kehabisan kata-kata untuk melukiskan suasana itu dalam catatan singkat ini. Tetapi seorang wartawan surat kabar Suara Pembaruan (dia bukan Katolik) yang hadir dan meliput misa agung itu menulis dalam laporannya dengan sangat tepat dan menarik. Ia menulis bahwa baru pertama kali ia menghadiri ibadah misa orang Katolik, dan itu berlangsung di stadion olahraga, bukan di gereja, tetapi suasananya begitu khusus dan khidmat.

Lebih dari 100 ribu jemaat duduk, berdiri, berdoa dan bernyanyi serempak dalam suasana yang sangat khidmat. Tidak ada suara lain yang terdengar selain doa dan nyanyian. Dan semua mata hanya tertuju ke altar tempat Sri Paus mempersembahkan misa agung.

Sang wartawan menutup laporannya sebagai berikut: “ Saya bukan Katolik tetapi saya juga terhanyut dalam suasana ibadah yang sangat khidmat itu. Saya merasa Tuhan sungguh hadir di stadion saat itu”.

Setelah berkat penutup misa, Sri Paus turun ke lapangan  menemui dan memberkati orang-orang sakit yang duduk di kursi roda atau di pembaringan masing-masing. Tepuk tangan terdengar meriah tanpa suara teriakan, saat Sri Paus naik mobil terbuka berkeliling stadion sambil memberikan berkatnya kepada umat yang hadir.

Sore itu, seusai misa agung, rombongan pulang ke tempat masing-masing. Sepanjang perjalanan dengan bis ke Depok, hampir setiap orang berbicara tentang kesan dan kenangannya akan misa agung tersebut.

Masing-masing tentu merasa mendapatkan sesuatu yang istimewa dalam pengalaman hari itu, khususnya pengalaman iman yang akan memperkuat kehidupan spiritualnya, karena mendapat kesempatan mengikuti misa agung yang dipersembahkan oleh Sri Paus Yohanes Paulus II.

Gedung Karol Wojtyla di Kampus Atma Jaya

Keesokan harinya saya dan isteri bersama ratusan alumni dan mahasiswa Atma Jaya serta kaum awam dan cendekiawan Katolik datang ke kampus tercinta di Semanggi, Jakarta. Para alumni diundang untuk hadir dan beramahtamah dengan Sri Paus.

Seperti biasa untuk tamu Negara, kedatangan Sri Paus ini juga mendapat pengamanan yang ketat dari aparat keamanan. Tetapi tamu undangan dapat masuk ke dalam kampus dank e tempat upacara. Karena banyaknya orang yang hadir, sebagian hanya bisa berdiri berdesak-desakan di koridor masuk ke aula upacara. Tetapi Sri Paus justru masuk melalui koridor ini maka kami yang berdiri di situ dapat melihat pemimpin Gereja Katolik Sedunia yang sangat terkenal itu dari jarak yang sangat dekat ketika beliau lewat sambil memberikan berkatnya, yang disambut dengan tepuk tangan.

Dua orang tokoh Katolik yang memberikan pidato sambutan saat itu yakni  Bapak Jacob Utomo dari Kompas Gramedia dan Bapak Frans Seda. Sedangkan acara puncaknya adalah pidato dan pesan-pesan Sri Paus kepada para cendekiawan Katolik Indonesia.

Kata Sri Paus, beliau sangat menghargai upaya-upaya yang dilakukan oleh Gereja dan Umat Katolik Indonesia dalam perjalanan bangsa dan negara Republik Indonesia. Gereja dan Umat Katolik telah dan akan terus ikut serta berperan aktif dalam kehidupan bangsa dan negara Indonesia, khususnya di bidang kesehatan dan pendidikan.

Di bidang pendidikan Sri Paus menyatakan kebanggaannya akan kontribusi Umat Katolik dalam pendidikan tinggi.

Berpidato dalam bahasa Inggris yang lancar dan lantang, beliau berkata, “Therefore I’m proud that you, Catholics who are only a small minority, are making a significant contribution toward higher education in Indonesia”. –“Karena itu saya bangga akan Anda, orang Katolik yang hanya merupakan minoritas kecil, membuat kontribusi yang signifikan terhadap pendidikan tinggi di Indonesia”.

Sebelum meninggalkan kampus Atma Jaya kembali ke penginapan di Istana Negara, Sri Paus yang asal Polandia itu menandatangani prasasti untuk memberi nama “ Karol Woityla”, nama asli beliau sendiri, kepada sebuah gedung baru di kampus tersebut sebagai kenang-kenangan akan lawatan beliau hari itu.

Itulah sekilas memori tentang almarhum Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II. Doakan kami ya Beato Yohanes Paulus II. Amin!

 

sumber : cathnewsindonesia.com
(Ans Gregory da Iry, wartawan,  praktisi public relation, dosen  dan penulis buku, tinggal di Bogor).

 

 

 

Mengenang Paus Yohanes Paulus II

Siapa diantara kita yang tidak terkesan oleh Bapak Suci Paus Yohanes Paulus II, seorang Paus yang paling menonjol diantara paus-paus lain dalam Gereja Katolik. Dimana saja dan kemana saja Beliau selalu disambut antusias oleh seluruh Umat Katolik.

Paus Yohanes Paulus II yang lahir pada tanggal 18 Mei 1920 di Krakow, Polandia. Nama aslinya adalah Karol Wojtyla, juga dikenal sebagai paus peziarah karena Belaiu sudah banyak mengunjungi negara-negara di dunia.

Paus Yohanes Paulus II ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1946, dan ditahbiskan menjadi uskup pada tahun 1958. Beliau sangat aktif dan berpengaruh dalam Konsili Vatikan II. Pada tahun 1978 Beliau terpilih sebagai Paus. Paus Yohanes Paulus II ini sangatlah dikagumi dunia karena Beliau merupakan pemimpin moral dan kepeduliannya terhadap kedamaian, kerukunan serta penderitaan manusia amatlah besar sehingga Beliau mewartakan kabar keselamatan kepada seluruh umat manusia di belahan dunia ini tanpa kenal lelah.

Sehingga setiap kata-kata yang diucapkannya sungguh sangat menawan bagi banyak orang di dunia. Kata-kata Beliau benar-benar mengandung suatu kekuatan yang luarbiasa besar karena sungguh berakar pada kesucian hidup dan hidup doa Paus Yohanes Paulus II.

Inilah sebagian kecil dari kata-kata Paus Yohanes Paulus II yang di muat untuk mengenang akan Paus kita yang suci, yang telah menjalankan tugasnya selama 26 tahun, dialah Paus Yohanes Paulus II.

 

Kata-Kata Harapan dan Inspirasi (Kebijaksanaan Paus)

 

 

· Setiap kali Kristus mendorong kita untuk tidak takut. Dia adalah Allah dan sekaligus manusia dalam pemikiran-Nya. Ia ingin mengatakan: Jangan takut kepada Allah, yang menurut para filsuf adalah Yang Absolut dan Transenden. Jangan takut kepada Allah, tetapi berserulah kepada-Nya bersama Aku, “Bapa Kami” (Mat. 6:9). Jangan Takut untuk berkata “Bapa”! Berusahalah untuk menjadi sempurna seperti Dia, karena Dia sempurna.

Melintasi Ambang Pintu Harapan

· Kita Harus menghadap Sang Putra, Putra Manusia, Putra Allah, apapun penderitaan yang harus kita hadapi apapun resiko yang harus kita tanggung, karena mengenal dan mengasihi Dia sungguh akan mengubah hidup kita.

Homili Central Park - 1995

· Semoga Roh Kudus, Roh Pentakosta, menolong engkau menjelaskan apa yang meragukan, memberikan kehangatan kepada apa yang biasa saja, menerangkan apa yang tidak jelas, menjadi saksi sejati dari kasih Kristus di hadapan dunia karena “tidak seorang pun dapat hidup tanpa kasih”.

Doa-doa Paus Yohanes Paulus II

· Jika engkau mengikuti nasihat Yesus dan senantiasa berdoa kepada Allah, engkau akan belajar berdoa dengan baik. Allah sendiri akan mengajari engkau.

Pertemuan dengan Kaum Remaja, New Orleans - 1987

· Apakah doa itu? Doa biasanya dimengerti sebagai sautu percakapan. Dalam suatu percakapan selalu ada “aku” dan “Engkau”. Jika pada permulaan “aku” terkesan menjadi unsur yang paling penting dalam doa, doa mengajar bahwa keadaan yang sebenarnya berbeda. Engkau menjadi lebih penting karena doa kita mulai dengan Allah.

Melintasi Ambang Pintu Harapan

· Hendaknya engkau setia pada doa-doa harian engkau, doa-doa itu akan merawat imanmu sehingga tetap hidup dan bersemangat.

Pesan kepada seminaris, Chicago - 1979

· Doa membawa kekuatan yang menyelamatkan dari Yesus Kristus ke dalam keputusan dan kegiatan hidup harian.

Salam Pembukaan di Katedral St. Patrick, 1995

· Dalam setiap pencarian iman sudah ada iman secara tersirat. Ini berarti syarat utama untuk keselamatan sudah terpenuhi.

Melintasi Ambang Pintu Harapan

· Menjadi seperti anak kecil, dengan percaya sepenuhnya kepada Bapa dan dengan kelembutan yang diajarkan Injil, tidak hanya suatu keharusan etis, tetapi sikap demikian juga merupakan alasan untuk berharap. Juga meskipun kesukaran sedemikian besar sehingga menyebabkan kehilangan semangat dan kekuatan kejahatan sedemikian mengerikan sehingga mengecilkan hati, mereka yang dapat menemukan kembali kesederhanaan seorang anak dapat mulai berharap kembali.

Pesan Hari Perdamaian Dunia -1996

· Kasih adalah pemberian diri. Ini berarti mengosongkan diri untuk menggapai orang lain. Dalam arti tertentu, kasih berarti melupakan diri sendiri bagi kebaikan orang lain.

Kasih Manusia yang Sejati mencerminkan Kasih Ilahi - 1993

· Makna sejati dan sesungguhnya dari belas kasih tidak tercapai hanya karena memperhatikan kejahatan susila, fisik dan materi, meskipun secara tajam dan dengan belas kasihan, belas kasih diwujudkan dalam aspeknya yang sejati dan sesungguhnya bila itu memulihkan nilai-nilai, memajukan dan menarik kebaikan dari segala bentuk kejahatan yang ada di dunia dan dalam diri manusia.

Dives in Mesricordia

· Berkat korban Kristus di Salib tercapailah kejayaan Kerajaan Allah sekali untuk selamanya. Akan tetapi, kehidupan kristiani menuntut perjuangan melawan godaan dan kekuatan kejahatan. Baru menjelang akhir sejarah Tuhan akan datang lagi dalam kemuliaan-nya untuk penghakiman terakhir dengan membangun langit baru dan bumi baru. Namun demikian sepanjang sejarah pertentangan antara kebaikan dan kejahatan tetap akan berlangsung dalam lubuk hati manusia.

Centesimus Annus

· Tidak ada dosa manusia yang dapat menghapus belas kasih Allah, atau mencegah-Nya melepaskan semua kuasa-Nya yang mengatasi segalanya, jika kita berseru kepada-Nya.

Veritatis Splendor

· Kita dipanggil kepada kepenuhan hidup yang jauh melampaui dimensi keberadaan duniawi kita, karena hal itu meliputi pengambilan bagian dalam hidup Allah. Keluhuran dari panggilan adikodrati ini menyingkapkan kebesaran dan nilai yang tak terhitung dari kehidupan manusia bahkan dalam tahapnya yang sementara.

Evangelium Vitae

 

Bacaan Ofisi (dari Homili Misa Inaugurasi Yohanes Paulus II, 22 Oktober 1978)

Petrus datang ke Roma! Selain dari ketaatan terhadap ilham yang diterimanya dari Tuhan, apalagikah yang dapat menuntun dan membawanya datang ke kota ini, ke jantung Kekaisaran? Mungkin, nelayan dari Galilea itu tidak mau datang ke sini. Mungkin, ia lebih senang tinggal di sana, di tepi danau Genesareth dengan perahu dan jalanya. Tetapi, ia datang ke sini, karena dibimbing oleh Tuhan, dan karena ketaatan kepada dorongan-Nya!

Menurut tradisi kuno, Petrus mencoba lari pada saat penganiayaan Nero. Bagaimanapun, Tuhan campur tangan dan datang menemui dia. Petrus berbicara kepada-Nya: “Quo vadis, Domine?”- Kemana Engkau akan pergi, Tuhan?” Dan Tuhan menjawab: “ Aku hendak pergi ke Roma untuk disalibkan lagi.” Petrus kembali ke Roma dan tinggal di sana sampai akhirnya ia disalibkan.

Zaman kita ini memanggil dan mendesak kita untuk memandang Tuhan dan menenggelamkan diri dalam kerendah hatian dan merenungkan dengan setia kuasa agung Kristus sendiri.

Dia yang lahir dari Perawan maria, dan Anak si tukang kayu (sebagaimana Dia dianggap demikian), adalah Putera Allah yang hidup (sebagaimana diakui oleh Petrus), dan Ia datang untuk menjadikan kita “kaum imam dan raja”.

Konsili Vatikan II mengingatkan kita akan misteri ini dan mengingatkan kita akan kenyataan bahwa misi Kristus sebagai Imam, Nabi-Guru, dan Raja terus berlanjut dalam Gereja. Seluruh umat Allah, siapapun dia, ikut ambil bagian dalam misi ini. Mungkin, dalam tiara, mahkota bersusun tiga yang dulu dikenakan atas kepala Paus untuk menunjukkan secara simbolis rencana Allah bagi Gereja-Nya, yaitu bahwa tatanan hierarkis dalam Gereja Kristus, semua “kuasa suci” yang dijalankan Gereja, tidak lain daripada sebuah pelayanan, dan pelayanan ini hanya memiliki satu tujuan, yaitu: untuk memastikan bahwa seluruh Umat Allah ambil bagian dalam tiga karya perutusan Kristus dan tetap berada di bawah kuasa Tuhan; suatu kuasa yang sumbernya bukan dari kuasa-kuasa dunia ini, tetapi berasal dari misteri Kristus dan Kebangkitan-Nya.

Kuasa Tuhan yang mutlak, namun lembut dan manis, menanggapi seluruh kedalaman diri manusia, bahkan sampai kepada kerinduan intelektual, kehendak, dan hatinya yang terdalam. Kuasa ini tidak menggunakan sarana pemaksaan, tetapi mengungkapkan diri dalam cinta kasih dan kebenaran.

Hari ini, Pengganti Petrus yang baru di Tahta Roma membuat suatu doa yang mendesak, sederhana, dan penuh kepercayaan: Kristus, buatlah aku tetap menjadi hamba kuasa-Mu yang unik, pelayan dari kuasa-Mu yang manis, pelayan dari kuasa-Mu yang tak mengenal kegelapan. Buatlah aku pelayan-Mu; sungguh, seorang hamba dari hamba-hamba-Mu.

Saudara-saudari, janganlah takut menyambut Kristus dan menerima kuasa-Nya. Bantulah Paus ini dan semua orang yang hendak melayani Kristus dan yang dengan kuasa Kristus hendak melayani seluruh umat manusia.

Jangan takut. Bukalah, saya katakana lagi, bukalah lebar-lebar pintu bagi Kristus. Bukalah batas-batas Negara, ekonomi, dan sistem politik, kebudayaan, peradaban, dan perkembangan secara lebar-lebar bagi kuasa-Nya yang menyelamatkan. Jangan takut. Kristus mengetahui “apa yang ada dalam diri manusia. Hanya Dia saya yang mengetahui hal itu.

Pada zaman ini, manusia sering kali tidak mengenal apa yang ada dalam dirinya, apa yang ada dalam kedalaman pikiran dan hatinya. Seringkali manusia tidak mengerti arti kehidupannya di dunia ini. Ia diserang oleh keraguan, suatu keraguan yang menuntun kepada keputusasaan. Karena itu kami meminta keapda kalian semua dengan kerendahan hati dan dengan penuh kepercayaan, biarkanlah Kristus berbicara kepada manusia. Hanya Dia sajalah yang memiliki sabda kehidupan, ya, hanya Dia yang memiliki sabda kehidupan abadi.

 

Doa

Ya Allah yang kaya akan belas kasihan dan yang telah menghendaki supaya beato Yohanes Paulus II memimpin Gereja-Mu yang universal sebagai Paus, kami mohon, semoga karena terdorong oleh ajarannya, kami dapat membuka hati kepada rahmat keselamatan dari Kristus, satu-satunya Penebus umat manusia, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa.

 

sumber : carmelia.net

Oldest Footage Of A Pope (1896)

This is the oldest known footage of a Pope in existence. This film of Pope Leo XIII was created in 1896. The audio portion is the oldest known audio recording of Pope, also of Pope Leo XIII recorded in 1903. The audio is Pope Leo XIII chanting the Ave Maria in Latin.

Pope Leo XIII (2 March 1810 – 20 July 1903), born Count Vincenzo Gioacchino Raffaele Luigi Pecci, was the 256th Pope of the Roman Catholic Church, reigning from 1878 to 1903 in succession to Pope Pius IX. Reigning until the age of 93, he was the oldest pope, and had the third longest pontificate, behind his immediate predecessor Pius IX and John Paul II. He is known for intellectualism, the development of social teachings with his encyclical Rerum Novarum and his attempts to define the position of the Church with regard to modern thinking.
 

This is the oldest known footage of a Pope in existence. This film of Pope Leo XIII was created in 1896. The audio portion is the oldest known audio recording of Pope, also of Pope Leo XIII recorded in 1903. The audio is Pope Leo XIII chanting the Ave Maria in Latin.

Pope Leo XIII (2 March 1810 – 20 July 1903), born Count Vincenzo Gioacchino Raffaele Luigi Pecci, was the 256th Pope of the Roman Catholic Church, reigning from 1878 to 1903 in succession to Pope Pius IX. Reigning until the age of 93, he was the oldest pope, and had the third longest pontificate, behind his immediate predecessor Pius IX and John Paul II. He is known for intellectualism, the development of social teachings with his encyclical Rerum Novarum and his attempts to define the position of the Church with regard to modern thinking.
Pope Leo XIII
 
microsofttranslator.com/:
Ini adalah rekaman dikenal tertua dari seorang Paus dalam keberadaan. Film ini dari Paus Leo XIII diciptakan pada tahun 1896. Bagian audio adalah rekaman audio tertua Paus, Paus Leo XIII dicatat pada tahun 1903. Audio adalah Paus Leo XIII nyanyian Ave Maria dalam bahasa Latin.
Paus Leo XIII (2 Maret 1810-20 Juli 1903), lahir Count Vincenzo Gioacchino Raffaele Luigi Pecci adalah Paus День Gereja Katolik Roma yang memerintah dari tahun 1878-1903 berturut-turut untuk Paus Pius IX. Memerintah sampai usia 93, dia adalah Paus tertua, dan ketiga terpanjang kepausannya, di belakang pendahulunya Pius IX dan Paus Yohanes Paulus II. Ia dikenal untuk intellectualism, pengembangan ajaran sosial nya ensiklik Rerum Novarum dengan usahanya untuk menentukan posisi Gereja berkaitan dengan pemikiran modern.
 

sumber : ucatholic.com

Basilika Kerahiman Ilahi di Krakow-Lagiewniki, yang sempat dikonsekrasikan oleh Beato JP II. Di Lagiewniki St. Faustina meninggal dunia.

 

Catholic Church of St. Hilarius, Näfels, Diocese of Sankt Gallen, Switzerland
(FB : catholic church)

Mari kita mendukung Paus Fransiskus dengan banyak berdoa Rosari, sebab saat ini Sri Paus tengah menanggung Salib karena banyak orang hendak menyudutkan beliau dengan menulis hal-hal yang menyesatkan dan ingin merusak kesatuan umat beriman di bawah kepemimpinan Bapa Suci, Wakil Kristus di dunia. Semoga Tuhan mengasihani Paus Fransiskus dan Roh Kudus melindungi seluruh umat beriman.
(FB : Sherley H. Mandelli )

 


 

Mgr Subianto tahbiskan gereja tujuh gunungan atap yang pernah bermasalah. Karena rahmat Kristus, cinta kasih Allah, berkat karunia Roh Kudus, dan bantuan umat beriman di tempat lain, umat beriman Cikampek membangun gereja, bagaikan di padang gurun.
(courtesy :  " penakatolik com")