Protes Film, Alkitab Dibakar

Aksi protes pun bermunculan,mulai dari aksi damai hingga aksi anarkis yang mengakibatkan melayangnya nyawa yang tidak ada kaitannya dengan film tersebut, alasannya sederhana, karena orang itu berkebangsaan Amerika. Tapi apa kaitan Kristen itu sendiri dengan film itu? Adakah Kristen menganjurkan film itu? Jawabannya TIDAK. Lalu kenapa harus Kristen yang mengalami akibat dari film itu sendiri? Sebuah kitab suci yang merupakan “buku” yang sangat disanjung umatnya kenapa juga harus mengalami akibat kemarahan?.

Ya, seorang pemuka agama bernama Abu Islam melakukan Pengrobekan dan Pembakaran Alkitab di Kairo Mesir seperti pengakuan Mary Abdelmassih kepada Asyur Internasional News Agency (aina.org). Lalu apa kaitan Alkitab itu sendiri dengan film Innocence of Muslims? Saya bahkan tidak menemukan keterkaitan Alkitab itu sendiri dengan film Innocence of Muslims. Sekarang masih maukah Indonesia berseru untuk menghentikan aksi pembakaran Alkitab tersebut, seperti aksi Indonesia yang menantang aksi pembakaran Alquran itu sendiri? Masih bisakah Indonesia menunjukan keadilan terhadap semua agama apabila agama tersebut menunjukan protes nya? Saya pikir TIDAK. Coba kita bercermin kembali pada aksi serupa di tahun 2010, sebuah kelompok agama di Malawi selatan Afrika diberitakan telah membakar alkitab/injil sebagai ungkapan protes. Hal itu disampaikan oleh seorang pejabat senior Asosiasi Muslim Malawi, apakah kita bisa mendengar suara Indonesia yang memprotes aksi tersebut? Bahkan sampai mengintervensi pemimpin di Mesir seperti yang dilakukannya dalam mengintervensi presiden AS untuk memblokir aksi-aksi yang menghina agama mayoritas di Indonesia.

Namun apa kah yang bisa kita petik dari ini semua. Pembakaran kitab suci agama manapun adalah perbuatan yang memalukan untuk dilakukan. Bahkan bukan merupakan solusi terhadap konflik agama yang ada hanya menimbulkan aksi serupa. Kalau sudah begini, adakah agama masih dipandang suci untuk menebar perdamaian?

Salam,

 TRIBUNNERS
(http://www.tribunnews.com/2012/09/23/protes-film-alkitab-dibakar)

0
Your rating: None

Comments

Perlu Diperjuangkan Antipenistaan Agama ke PBB

Indonesia Perlu Perjuangkan Antipenistaan Agama ke PBB

Indonesia harus mengambil prakarsa internasional dengan memperjuangkan prinsip-prinsip antipenistaan agama ke Dewan HAM PBB. Sehingga prinsip ini dapat menjadi resolusi PBB untuk membebaskan dunia dari model-model penodaan ajaran agama.

Demikian disampaikan Ketua Dewan Direktur Lembaga Kajian Publik Sabang-Merauke Circle (SMC), Syahganda Nainggolan di Jakarta, Sabtu (22/9/2012). Menurutnya, perjuangan ini mendesak demi terpeliharanya penghormatan kebebasan beragama dan terciptanya dunia yang damai.

”Dengan begitu penistaan ajaran agama yang kerap berulang baik lewat film, penyebaran kartun, tulisan, ataupun lainnya tak semakin menjadi di kemudian hari. Karena penghinaan sebuah agama akan selalu melahirkan perlawanan keras dari para penganutnya,” ujar Syahganda.

Baru-baru ini, film Innocence of Muslims yang menghina Nabi Muhammad sebagai sosok panutan Islam, telah menimbulkan korban jiwa yang tidak patut dialami Duta Besar maupun sejumlah staf kedutaan besar Amerika Serikat di Benghazi, Libya, beberapa waktu.

Patut disesalkan, ketika kemarahan umat Islam di berbagai belahan dunia belum reda terhadap film tersebut, muncul potensi kemarahan serupa, melalui pemuatan kartun yang melecehkan keberadaan Nabi Muhammad di sebuah majalah mingguan di Perancis.

Peran Indonesia sebagai negara berpenduduk Islam terbesar, lanjut Syahganda, memiliki peluang untuk melobi negara-negara Barat guna mewujudkan masuknya resolusi antipenistaan agama ke dalam resolusi PBB, yang dimungkinkan mendapat respon positif dari berbagai pihak.

"Apalagi dengan melihat sejauh ini Indonesia memiliki hubungan baik dengan kepentingan pihak negara-negara Barat," tukas Syahganda.

Momentum itu ada pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang akan memberikan pidato dalam Sidang ke-67 Majelis Umum PBB, di New York, Amerika Serikat pada 25 September ini. Diharapkan, pidato SBY menyinggung ketidaknyamanan umat Islam di mana pun. Kalau itu dingkapkan, akan menggugah perhatian negara-negara yang menjadi peserta sidang.

Usulan resolusi antipenistaan agama telah dibahas dalam sidang Organisasi Konferensi Islam (OKI) di Jenewa, Swiss pada 26 Maret 2009, yang disampaikan Pakistan dengan mewakili 56 negara Islam. Usulan itu menyatakan perlu dituangkan sebagai resolusi PBB guna membangun keseimbangan antara kebebasan dan penghormatan agama.

“Meski diloloskan Dewan HAM PBB, namun dalam pemungutan suara yang dilakukan oleh 47 negara anggota Dewan HAM PBB, usulan tersebut masih terganjal karena tidak mendapat dukungan negara-negara Barat,” paparnya.

Negara-negara Islam, lanjutnya, menilai penistaan agama merupakan serangan serius terhadap martabat kemanusiaan untuk melahirkan kekerasan sikap beragama, dan karenanya diperlukan sebuah resolusi yang mengatur anti penistaan agama.

Syahganda menyebutkan, deklarasi HAM yang diadopsi PBB pada 1948, tidak secara khusus menyebut pasal yang melarang penistaan agama, kecuali sebatas memasukkan jaminan kebebasan beragama setiap individu maupun kelompok.

“Prinsip-prinsip antipenodaan agama harus dimasukkan secara tegas melalui piagam HAM PBB, sebagai payung hukum internasional sehingga upaya penistaan agama tidak terus dilakukan oleh berbagai pihak serta oknum mana pun,” pungkasnya

 

(http://www.tribunnews.com)

Basilika Kerahiman Ilahi di Krakow-Lagiewniki, yang sempat dikonsekrasikan oleh Beato JP II. Di Lagiewniki St. Faustina meninggal dunia.