Renungan, 10 Januari 2012

NUKAN NAZAR KITA -
Mrk 2:21b-28 -
10 Januari 2012

(Renungan V. Indra Sanjaya Pr.)
Hana, istri Elkana yang mandul. memohon dengan sangat kepada Tuhan agar dikaruniai keturunan. Tanpa keturunan, Hana menjadi bahan ejekan madunya, Penina.

Permohonannya disertai sebuah nazar: seandainya nanti lahir anak laki-laki, akan itu akan dipersembahkan kepada Tuhan untuk seumur hidupnya. Kemudian, pada akhir bacaan dikatakan, "setahun kemudian mengandunglah Hana dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya,: Aku telah memintanya dari TUHAN."

Kisah ini adalah kisah kelahiran seorang anak dari seorang ibu yang mandul. Di dalam Alkitab ada beberapa kisah seperti itu. Misalnya, kisah Abraham dan Sara, Manoah dan istrinya, orangtua Simson, serta Zakharia dan Elisabet, orangtua Tohanes Pembaptis. Bagi Tuhan, memang tak ada yang mustahil. Tetapi, mungkin kita bisa bertanya: Mengapa Tuhan mengabulkan permohonan Hana? Karena belas-kasih-Nya kepada Hana atau karena nazar yang disampaikan oleh Hana?

Tentu kita tidak bisa mengetahui apa yang dipikirkan Tuhan. Tetapi, kalau kita memperhatikan kisah-kisah di atas, tidak ada satu pun dari mereka yang secara eksplisit menjanjikan suatu nazar tertentu kepada Tuhan. Artinya, Tuhan bertindak bukan karena janji atau nazar yang kita sampaikan kepada-Nya, tetapi karena Ia mengingat kita. Terkadang kita berjanji akan begini atau begitu, berbuat ini atau itu, kalau Tuhan memberikan sesuatu kepada kita. Dan Tuhan mungkin akan berkata kepada kita, "Apa sih yang mau kau banggakan dengan janji-janji seperti itu?"

 

(facebook.com/BUNDA PENOLONG ABADI)

0
Your rating: None