Renungan, 18 Pebruari 2012
Lidah: Renungan Sabtu, 18 Februari 2012
Alkitab kita memberi judul bacaan hari ini Dosa karena Lidah. Akan tetapi, ay 1 berbicara tentang ’para guru’ (didaskalos). Barulah dalam ay 2-10 disampaikan peringatan untuk berhati-hati dalam menggunakan lidah.
Tampaknya ’para guru’ di sini dilihat fungsinya sebagai orang yang mengajar, dan dengan demikian menggunakan lidah. Sang penulis surat tampaknya memandang sungguh amat penting persoalan ’lidah’ ini. Hal ini tampak dari nada uraiannya tentang lidah yang amat keras. Bahkan, sampai dikatakan bahwa lidah ”adalah sesuatu yang buas, yang tidak terkuasai, dan penuh racun mematikan”.
Yang dimaksud ’para guru’ tampaknya adalah mereka yang mengajar di dalam komunitas Kristen awal di abad-abad pertama. Dalam teks ini, mereka mendapat sapaan langsung karena mereka adalah orang yang mendapat kepercayaan untuk mengajar orang lain. Yesus dalam Injil Matius mengatakan, ”Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut” (Mat 18:6).
Lalu? Tak perlu disangkal lagi, dalam hidup kita penguasaan lidah sebagai cermin penguasaan diri, juga merupakan suatu hal yang amat penting dalam hidup bersama. Kata-kata yang diucapkan itu ibarat kapas yang disebarkan di halaman. Mereka tidak bisa dikumpulkan kembali, dan kita tidak tahu kapas itu sampai di mana. Kata-kata yang terdapat dalam salah satu lagu Sekolah Minggu yang berbunyi, ”Hati-hati gunakan mulutmu” rasanya mengandung suatu ajaran yang serius.
V. Indra Sanjaya Pr
(hidupkatolik.com)



