Renungan, 24 Januari 2012
Ikatan Persaudaraan: Renungan Selasa, 24 Januari 2012
Ikatan keluarga itu penting. Namun, ketika ikatan keluarga menjadi segala-galanya, maka muncullah familiisme. Pernyataan “Ini saudara saya” atau “Ini pesanan dari Ibu” bisa menjadi referensi kuat untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Adakalanya kita merasakan nikmatnya buah-buah famili-isme, misalnya berbagai kemudahan dan fasilitas. Famili-isme merupakan akar sikap dan tindakan koruptif, kolusif, dan mengutamakan kepentingan pribadi serta kelompok.
Pertanyaan Yesus “Siapakah Ibu-Ku dan saudara-Ku?” menantang setiap orang untuk membongkar famili-isme ini. Ikatan keluarga yang natural sekalipun menjadi relatif bagi Yesus, karena misi-Nya membangun keluarga Allah. Satu-satunya ikatan relasi antara Yesus dan para pengikut-Nya ialah kehendak Allah. “Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”
Ada orang yang berpikir bahwa perkataan Yesus ini merusak relasi dalam keluarga real kita. Kita justru mesti berpikir sebaliknya. Jika dasar ikatan keluarga kita kehendak Allah, maka setiap anggota keluarga harus bertekun melakukan kehendak Allah. “Ibu dan saudara” kita bisa berlatar belakang tradisi agama, suku, dan kondisi sosial-ekonomi apa pun. Kita pun perlu berusaha tekun melakukan kehendak Allah supaya kita dikenali oleh orang-orang lain sebagai “ibu dan saudara” mereka.
Refleksi Pribadi: Apa saja yang kujadikan ikatan relasiku dengan orang-orang di sekitarku? Apakah pesan Yesus hari ini bermakna bagiku?
Yap Fu Lan
Dosen FKIP Atma Jaya
(hidupkatolik.com)



