Sidang Tahunan KWI 2011, Katekese jadi Tema Pergumulan
Bertempat di lantai 4 Gedung KWI, Senin 7 November 2011, diselenggarakan Sidang Tahunan Konferensi Waligereja Indonesia. Pertemuan rutin tahunan ini dihadiri oleh para Uskup dan Uskup Agung seluruh Indonesia dan sejumlah uskup emeritus.
Selain acara rutin laporan karya pastoral dan misioner setiap komisi.lembaga, sekretariat dan departemen (KLSD) dalam lingkungan kantor Konferensi Waligereja Indonesia, para uskup juga menyempatkan diri untuk mempelajari secara khusus tema Katekese di Gereja Indonesia pada tiga hari pertama persidangan.
Dalam sambutan pembukaan, Ketua KWI Mgr.Martinus D. Situmorang OFMCap menyampaikan selamat datang kepada peserta sidang secara khusus kepada Dubes Tahkta Suci untuk Indonesia Mgr. Antonio Guido Filipazzi yang hadir untuk pertama kali dalam sidang para uskup. Juga kepada Bp. Anton Samara sebagai Direktorat Jenderal (Dirjen) Bimas Katolik.
Pada kesempatan acara pembukaan sidang, Wakil dari Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pdt. Gulmar Gulton meminta kepada KWI untuk bersama PGI menyampaikan sikap bersama menghadapii situasi Papua yang kini lagi berjolak karena menurut beliau, pemerintah absen dalam pergolakan yang dialami oleh warga Papua. Dan untuk itu, menurut Nuncio Apostolik Filipazzi, perlu adanya communio (persekutuan) antar para uskup dan juga commuio dengan masyarakat (society). Dalam hal kaketese Gereja, menurut Nuncio, gereja perlu memberi penekanan bukan saja pada metode katekese tetapi juga pada isi (content). Gereja perlu merumuskan isi katekese gereja dan sekaligus mencari metode yang tepat untuk menampaikannya kepada umat katolik di Indonesia.
Sidang Tahunan KWI ini rencananya akan ditutup secara resmi pada 17 November 2011 dalam ekaristi penutupan di Gereja Katedral Jakarta.
(mirifica.net)
link :
Merayakan 50 Tahun Hirarki Gereja
Misa Konselebrasi untuk GOTAUS




Comments
KWI gelar sidang tahunan
"Sidang tersebut nantinya bermanfaat untuk menyegarkan kembali semangat para uskup di Indonesia sehingga menghasilkan kebijakan pastoral yang baik," kata Ketua Presidium KWI Mgr. Situmorang.
Sidang Tahunan KWI akan berlangsung sepuluh hari hingga 17 November, dengan diawali Hari Studi selama tiga hari untuk menerima masukan dari para uskup sebagai bahan pertimbangan menyusun rumusan kebijakan pastoral tersebut.
Hari Studi dimulai dengan mendengarkan pengalaman sejumlah pastor paroki dan katekis lapangan terkait perkembangan pastoral di Gereja mereka dengan tema Mewartakan Injil adalah Rahmat dan Panggilan Khas Gereja, merupakan Identitasnya yang Terdalam.
Sidang KWI 2011 dihadiri 37 Uskup dari seluruh Indonesia yang juga membahas mengenai permasalahan di Papua serta pengkajian rancangan undang-undang kerukunan umat beragama.
"Selain menyusun rumusan-rumusan pastoral, kami juga akan membahas mengenai permasalahan di Papua serta mengenai rancangan undang-undang kerukunan umat beragama," kata Mgr. Situmorang.
Sementara itu, Uskup Agung Papua Mgr. Leo Laba Fajar berharap salah satu hasil sidang dapat membawa solusi bagi konflik yang ada di Papua.
"Semoga hasil sidang nanti dapat menghasilkan dialog antara pemerintah pusat dengan warga lokal Papua untuk bersama-sama menyelesaikan dan membawa damai bagi tanah Papua," kata Mgr. Leo Laba Fajar, di Jakarta, Senin.
Sidang dibuka oleh Ketua Presidium KWI Mgr. Situmorang, Sekjen KWI Mgr. Pujosumarto serta Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo. Sidang tersebut juga dihadiri oleh Duta Besar Takhta Suci untuk Indonesia Uskup Agung Mgr. Antonio Guido Filipazzi, Direktur Jenderal (Dirjen) Bimas Katolik Kementerian Agama Anton Semara Duran, dan Sekretaris Umum (Sekum) Persatuan Gereja Indonesia (PGI) Pendeta Gomar Gultom. (SDP 05)
foto/sumber : Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Martinus D Situmorang. (ANTARA)
Sidang Tahunan KWI 2011
07-17 November 2011
di Ruang Sidang KWI, Jakarta
Pada hari pertama Sidang Tahunan Ketua KWI menyampaikan pengarahan serta dan pengesahan agenda Sidang. Kemudian Sekretariat Jenderal menyampaikan laporan tentang hal-hal yang telah dikerjakan oleh Sekretariat Jenderal dalam rangka pelaksanaan tugasnya.
Setelah pembukaan resmi Sidang hari-hari pertama diisi dengan Hari Studi Katekese dengan tema "Mewartakan Injil adalah Rahmat dan Panggilan Khas Gereja, merupakan Identitasnya yang Terdalam". Kami mendengarkan penuturan pengalaman katekis lapangan. Mgr. John Liku Ada selaku Ketua Komisi Kateketik KWI menyampaikan pengantar Hari Studi Katekese. Dan selanjutnya dari siang hari para peserta penuturan disampaikan oleh Ibu Franciska Irene dan Bp. LY. Tukijan; dan para sore sampai petang kami mendengarkan penuturan dari Bp. Ahui dari Kalimantan, Ibu Lindawati Wahyudi, dan Rm. Budi Wihandono, imam paroki Dirjodipuran, Kevikepan Surakarta, Keuskupan Agung Semarang.
Hari Studi Katekese akan berakhir pada hari Rabu, 9 November 2011. Dan hari-hari selanjutnya s.d. tanggal 17 November Sidang Tahunan akan dilanjutkan dengan mendengarkan laporan-laporan program kegiatan, pembicaraan untuk pertimbangan-pertimbangan menentukan program pastoral untuk tahun pastoral 2012. Masalah-masalah aktual seperti kekerasan terutama yang terjadi di Papua, dan yang merisaukan seperti RUU Kerukunan Beragama menjadi bahan pembicaraan. yang mengantar kita untuk mengambil sikap yang tepat.
Kami mohon doa, semoga Sidang Tahunan KWI 2011 dapat menjadi kesempatan untuk mewujudkan Gereja yang menegaskan kehendak Allah (“discerning Church”) melalui tanda-tanda zaman, sehingga kehadirannya sungguh menjadi ragi, garam dan terang dunia. Salam, doa 'n Berkah Dalem,
Jakarta, 7 November 2011
+ Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang
Misa penutup Sidang Tahunan KWI 2011
Misa Agung 50 Tahun Hirarki Gereja Katolik Indonesia
di Katedral Jakarta
Dewan Gereja Katedral Jakarta pada Kamis (17/11/2011) pukul 17.00 WIB menyelenggarakan Misa Agung dalam rangka 50 tahun Hirarki Gereja Katolik Indonesia di Gereja St. Perawan Maria Diangkat Ke Surga Katedral Jakarta.
Misa ini juga menjadi acara penutup Sidang Tahunan Konferensi Waligereja Indonesia yang telah diadakan selama 10 hari dan menghasilkan kebijakan-kebijakan pastoral yang bermanfaat untuk perkembangan Iman Umat Katolik selama 50 tahun ini.
Menariknya umat yang menghadiri misa diminta untuk menggunakan pakaian tradisional, namun bagi yang tidak menggunakan pakaian tradisional tentu tetap dapat mengikuti Misa tersebut.
Berbagai tarian tradisional daerah mewarnai jalannya Misa agun tersebut, diawali dengan tarian dari Jawa Tengah kemudian dari Sumatera Utara pada saat mengiringi petugas membawa persembahan.
Seluruh petugas juga menggunakan pakaian tradisional, baik pembaca liturgi maupun para personel Paduan Suara. Lantunan lagu-lagu rohani di sajikan dengan apik dengan nada-nada gaya daerah seperti gaya Sunda, Jawa, Manado, Dayak, Flores, Batak, dan Keroncong tanpa mengurangi rasa hikmat dalam lagu-lagu tersebut.
Usai Misa Agung, dilanjutkan dengan ramah tamah antara para uskup dengan umat yang hadir serta pembagian brosur penggalangan dana dalam rangka pembuatan film garapan Garin Nugroho berjudul 'Soegija'. yang menceritakan kisah hidup Mgr. Albertus Soegijapranata, Uskup pribumi pertama pada masa perjuangan Kemerdekaan RI yang bertujuan mengangkat nasionalisme, kemerdekaan dan keimanan. (NRM/Tim PPGI)