SIKAP TUBUH PADA SAAT PENTAHTAAN SAKRAMEN MAHA KUDUS
SIKAP TUBUH PADA SAAT PENTAHTAAN SAKRAMEN MAHA KUDUS
Mendekati hari Kamis Putih, ada umat yang minta pencerahan ” Ketika masuk gereja biasanya kita berlutut dengan satu kaki sebagai tanda hormat. Tetapi kalo pas ada Sakramen ditahtakan, saya lihat ada umat yang berlutut dengan kedua kaki dengan gerakan menyembah, mengapa sedikit berbeda? Apakah memang harus menyembah dengan berlutut penuh (sujud dengan dua kaki?)”
PENCERAHAN DARI PASTOR Christianus Hendrik
Tetapi kalau yang ditanyakan sikap pada saat ada Sakramen Maha Kudus ditahtakan (Eksposition), tradisi kita biasanya berlutut dengan kedua kaki sebagai ungkapan sikap menyembah. Tradisi ini sebenarnya merupakan perkembangan yang tidak terlalu jauh dari tradisi sejak Perjanjian Lama, di mana dulu bangsa Israel dipimpin langsung oleh ‘Tangan kuat Allah Israel’ yang memimpin bangsa nomaden ini secara langsung dan dengan perantaraan para nabiNya. Setiap kali Allah menampakkan DiriNya, entah dalam rupa tiang awan, Api yang bernyala, gulungan awan di gunung Sinai, dsb, bangsa Israel terbiasa untuk berlutut dengan mukanya sampai ke tanah. Bahkan dulu ada pandangan di kalangan orang2 Israel bahwa memandang ‘wajah Allah’ adalah hal yang terlarang dan tidak pantas, bahkan bisa menyebabkan kematian.
Maka sikap badan berlutut dengan kedua kaki ini merupakan penerusan tradisi ‘sujud sampai ke tanah’ itu. Kita melakukannya dengan kedua kaki berlutut/bertelut di hadapan Sakramen Mahakudus yang menjadi tanda kehadiran Allah secara nyata dan berhadapan langsung dengan kita(secara kasat mata). Itulah kiranya sikap badan kita yang sepantasnya; karena berlutut itu juga berarti tanda menyerah, mengakui kekerdilan kita dan kelemahan kita di hadapan Allah, juga sekaligus ungkapan kita yang mengharapkan kemurahan belaskasih Allah yang hadir secara kelihatan bagi umatNya.
Sikap ini bisa kita bandingkan secara simple dengan sikap kita sendiri terhadap atasan atau pimpinan atau orang yang lebih tinggi dari kita. Kadang tanpa sadar, dalam pembicaraan lewat telpon pun kita membungkuk2kan diri sebagai sikap hormat. Bukankah terhadap Tuhan junjungan kita kita lebih sepatutnya lagi merendahkan diri lewat sikap dan bahasa tubuh yang sepantasnya??
Semoga bermanfaat untuk membangun sikap liturgis yang mendukung penghayatan iman kita. Selamat memasuki pekan suci yang sudah dekat.
Salam hangat, P. Christianus Hendrik SCJ – South Dakota USA
sumber : liturgiekaristi.wordpress.com



